Aneh?

3.2K 473 17
                                        

Author

Hari berikutnya kehidupan Gio masih berjalan lancar, hanya saja perasaan was wasnya masih menghampirinya.

"Saya berangkat ya, jangan terima tamu yang ingin bertemu kamu kalau tidak jelas siapa orangnya. Jangan pulang kalau saya belum jemput kamu."

Gena terkekeh pelan mendengar larangan Gio, ia sangat posesif.

"Iya iya Mas."

Gio ikut tersenyum dan mengacak pelan puncak kepala Gena.

"Sayang, Papa berangkat dulu ya. Jangan nakal, Om Zen nya jangan digangguin. Kasihan cemberut mulu Omnya," ujarnya sambil berlutut didepan Dinda yang tersenyum lima jari.

"Oke Papa," sahutnya.

Gio terkekeh dan menolehkan kepalanya ke kanan.

"Cium dulu," ujarnya.

Dinda dengan patuh mencium Pipi kiri Gio, kini Papanya itu menoleh ke berganti ke kiri dan Dinda mencium pipi Papanya itu sekali lagi.

"Pintar," lagi lagi Gio terkekeh dan menciumi pipi gembul Dinda.

Ia berdiri kembali dan menatap Gena.

"Saya berangkat dulu ya, kamu jaga diri."

Cup..

Satu kecupan ringan itupun mendarat di kening Gena. Sedang Gena sendiri mengambil tangan Gio dan mencium punggung tangan itu.

"Hati hati dijalan Mas," ucapnya.

Gio mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan Gena. Mobilnya melesat keluar dari lingkungan cafe dan membelah jalanan kota untuk menuju ke kampus.

***

Sama halnya seperti Gio, Andi juga nampak berpamitan pada istrinya, mertuanya dan juga kakak iparnya. Pandangan mereka bertemu kembali seperti kemarin sore, tatapan menelisik milik Ratna mampu membuat Andi mengalihkan pandangannya.

"Nanti aku titipin ke Mbak Ratna ya makan siangnya, soalnya nanti Mbak Ratna juga mau ke butik. Iya kan mbak?"

Ratna hanya mengangguk mengiyakan ucapan Adiknya.

"Nggak usah, Dek. Mas nanti ada janji makan sama teman teman," sahut Andi.

"Kalau begitu Andi berangkat dulu Pa, Ma," pamitnya pada Mertuanya sembari mencium punggung tangan mereka berdua.

"Aku duluan Mbak," pamitnya singkat pada Ratna.

"Aku antar ke depan Mas."

Andi mengangguk dan berjalan kedepan bersama Istrinya.

"Mas berangkat dulu ya, kamu dirumah baik baik," ucapnya pada Istrinya dan mencium keningnya.

Ia sedikit menunduk dan menjajarkan wajahnya didepan perut Istrinya yang sedikit membuncit.

"Dedek, temenin Bunda dirumah ya. Tendang aja kalau Bunda susah diem anteng," ucapnya dan mengecup singkat perut itu. Resti hanya terkekeh pelan mendengar komunikasi Andi dengan calon anak mereka yang masih berada dalam perutnya.

"Hati hati dirumah, Aku berangkat," Resti mengangguk dan mencium punggung tangan Andi.

Andi berjalan menghampiri mobilnya. Ia yang sudah berada di dalam mobil masih termenung bergelut dengan pikirannya, namun setelah melirik arlojinya ia menggeleng pelan dan mulai menjalankan mobilnya.

Sedangkan Resti kembali ke dalam rumah bergabung dengan orang tua dan juga kakaknya

"Kamu ngerasa aneh gak sih sama suami kamu?" Tanya Ratna pada Adiknya.

Hot Relationship  "After Marriage" Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang