Author
Gio membelai lembut rambut Gena. Mata Gena masih terpejam rapat. Bahkan tangannya masih melingkar pada perut Gio dengan nyaman.
Cup..
Ia mengecup lembut bibir Gena agar tak membuatnya terbangun.
Namun siapa sangka, Gena malah tertawa setelah Gio menciumnya. Ia tidak tidur, ia sudah bangun lebih awal dari pada Gio.
"Nyuri nyuri cium," ujar Gena sambil memukul pelan dada polos Gio.
Gio nampak terkejut dan salah tingkah, ia melepas pelukannya pada perut Gena.
"Mana ada, mimpi kali kamu," elak Gio.
Gena terkekeh pelan dan melirik kearah jam dinding, jarum jam masih menunjukkan jam 3 pagi.
"Pake acara ngelak segala," sahut Gena yang malah makin merapatkan ke tubuh Gio.
Mereka hanya diam menatap langit langit kamar tanpa perbincangan apapun.
"Gen.." panggil Gio setelah keterdiamannya.
Gena mendongak menatap Gio
"Terima kasih," sambung Gio.
"Untuk?"
Kini Gio menatap Gena yang juga tengah menatapnya
"Tadi malam," cicit lirih Gio.
Gena tersenyum jenaka. Gio benar benar seperti pengantin baru yang baru melakukan malam pertama.
"Emang aku kasih apa?"
"Semuanya,"
"Semuanya apa sih? Yang jelas dong Mas," sahut Gena mencoba menggoda Gio.
"Udah lah.. gak jadi," kesal Gio. Ia memutus kontak matanya dengan Gena dan menatap langit langit kamar lagi. Gena tertawa lepas melihat pria disampingnya itu mendengus kesal.
"Mas.."
"Hm?" Lagi lagi Gio harus menoleh dan menatap Gena yang sedang bersandar didadanya.
"Mau denger sesuatu gak?"
Gio mengerutkan keningnya sekilas
"Apa itu?"
"I Love You,"
Gio tersipu malu dan memalingkan wajahnya yang memerah.
"Dih salting si Bapak," goda Gena dengan menoel noel pipi Gio.
"Gak dibalas nih?" Sambung Gena.
Gio menoleh dan menatap lekat pada mata Gena. Ia tersenyum tulus.
"Saya juga cinta sama kamu," lirih Gio
"Gimana gimana? Gak denger, pelan banget suaranya,"
Gio mencebik kesal dan hanya diam
"Lagi dong, gak denger nih," tuntut Gena.
"Kuping kamu bermasalah."
"Ulang dong," goda Gena.
Gio memeluk erat Gena dan membisikkan kalimat yang sama seperti tadi.
"Saya juga cinta sama kamu," ulangnya sambil mencium kening Gena.
Mereka hanyut dalam obrolan obrolan gombal dan hangatnya pelukan.
"Terima kasih, kamu mau bertahan dengan saya walau keadaan telah berubah. Kamu mau bersabar dengan segala sifat saya yang sering membuat kamu jengkel."
"Udah kewajiban aku Mas, aku istri kamu dan kamu suami aku."
Gena memajukan wajahnya dan mencium sekilas bibir Gio yang membuatnya tersipu malu lagi.
Gena terkekeh geli melihat wajah Gio seperti ABG yang baru saja merasakan Cinta.
"Singkat?"
"Terus gimana dong?"
"Begini..."
Gio mendekat dan mencium ganas bibir Gena. Gena membalas dengan agak terkekeh. Tangannya menyusup nakal kedalam selimut yang menutupinya dan Gena.
"Nakal!!" Ujar Gena setelah melepas ciumannya saat merasakan ada tangan yang menggerayangi tubuhnya.
"Apa yang ada di kamu itu milik saya, jadi terserah saya mau apakan. Karena saya pemiliknya."
Gena mendengus kesal
"Ingatannya hilang, mesumnya kagak," sahut Gena.
Gio terkekeh dan mencium pipi Gena
"Itu sudah bawaan dari lahir."
"Oh iya, kamu belum inget apapun Mas?" Tanya Gena.
"Belum, hanya kadang beberapa kejadian yang sekarang saya alami seperti membawa Saya Dejavu."
"Semoga itu pertanda baik Mas dan kamu kembali seperti dulu."
Gio mengangguk dan memperat pelukannya pada Gena, seolah dia hanya miliknya.
"Lepas dulu, mau mandi."
"Subuh masih lama, nanti saja," sahut Gio
"Nunda nunda mulu," sahut Gena dan melepaskan pelukan Gio.
Gio terkekeh pelan dan memandangi Gena yang tengah mengambil kaosnya dilantai dan memakainya. Punggung putihnya membuat Gio betah memandangi.
"Ikut nggak?"
Gio mengerutkan kening saat Gena melontarkan pertanyaan.
"Kemana?"
"Mandi."
"Dasar bocah nakal."
Gio menangkap Gena yang bersiap berlari menuju kamar mandi. Ia memeluknya erat dan tertawa bersama.
"Terima kasih telah membuat hidup saya makin lengkap," ujar Gio masih dengan memeluk Gena. Ia menyandarkan pada dadanya yang polos.
"Apakah Saya dulu juga sebahagia ini?"
"Lebih, mungkin," sahut Gena.
"Oh ya? Kalau begitu, bantu saya membuat hari hari kita makin bahagia dari sebelum sebelumnya."
Gena mengangguk dan menampilkan senyumannya.
"Ya udah ayok, katanya mandi," ujar Gio.
"Aku duluan ya."
"Katanya bareng, gimana sih."
Gena memukul pelan dada suaminya itu dan tertawa.
"Canda doang itu mah."
"Sayangnya Saya serius."
Gio langsung menggendong tubuh Gena tanpa aba aba dan menuju ke kamar mandi. Ia tertawa mendengar ocehan Gena yang kesal dengan perlakuannya.
Gio menurunkan tubuh Gena, memandanginya begitu dalam.
"Dinda gak nangis atau kebangun gitu ya," ujar Gena.
"Dia tau, Mama sama Papanya lagi bikin adek buat Dia."
Gio kembali mencium Gena yang sekarang ia nobatkan sebagai candunya.
_______________________________________
HALLO BALIK LAGI NIH
Masih pada nungguin gak? Semoga masih deh hahaha.
Btw, numpang tanya dong.
Ada yang pernah baca cerita tentang Mahasiswi yang harus terikat dengan Dosen Profesor atau fisikawan karena temuanya dilaborat dan cuma dia yang tau penyembuhnya? Cast laki lakinya kayak Luke Hemmings, rambut agak gondrong berkacamata. Awal awal kayak cerita "Minimalisa" masalahnya, tapi beda. Spill woi kalau ada yang pernah baca, gue nyariin seharian kagak nemu nemu sampai overthinking. Mana udah lupa judulnya😭
Sorry curhat huhuhu
Btw, TERIMA KASIH MASIH MAMPIR.
JANGAN LUPA NINGGALIN JEJAK.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hot Relationship "After Marriage"
Novela JuvenilFOLLOW GUE DULU WOIIII!!!! * * * DISARANKAN UNTUK MEMBACA "HOT RELATIONSHIP" YANG PERTAMA DULU YA GUYS, SUPAYA VIBES NYA DAPET❤️ *** Menjalani hidup bersama Gio seakan membawa semerbak kebahagiaan untuk Gena. Namun, setelah satu tahun lebih menikah...
