Author
"Udah jam segini, tapi kenapa belum pulang ya?"
Gena yang sedang menemani Dinda tidur merasa cemas karena Gio belum pulang padahal hari sudah malam.
Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Gio namun tak ada jawaban. Tak biasanya Gio pulang telat seperti ini tanpa memberitahu Gena.
"Apa ada lembur? Tapi kenapa gak ngabarin?" Gumamnya.
Ia menyusun bantal disamping kiri dan kanan Dinda lalu keluar kamar. Ia membuka pintu depan menunggu Gio pulang.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun Gio masih belum menampakkan dirinya.
Rumahnya nampak sepi karena sang adik pulang ke Kos karena beberapa bahan untuk membantu tugasnya berada disana.
Gena yang cemas akhirnya duduk dikursi teras. Tak lama kemudian deru suara mobil datang, ia berdiri menghela nafas lega karena suaminya telah pulang.
"Kok sampai malem Mas?" Tanyanya setelah Gio mendekat.
"Ada perlu," sahut Gio dan berlalu melewati Gena
Gena menyusul dan mengambil tas Gio lalu ikut masuk ke dalam Rumah.
"Kok gak ngabarin dulu? Aku nungguin kamu loh dari tadi. Dinda aja sampai ketiduran."
Gio hanya diam dan melanjutkan langkah kakinya.
"Makan dulu Mas, tadi aku masakin kesukaan kamu."
"Bisa diam gak?! Banyak omong!!" Bentak Gio dan melenggang masuk ke dalam kamar.
Gena yang dibentak itupun terdiam. Kaget, itu yang ia alami. Tak biasanya Gio seperti ini padahal hanya ditanya begitu.
"Mungkin emang capek, jadi emosinya gitu," gumam Gena.
Ia menatap punggung Gio yang memasuki kamar dengan nanar.
Ia mengikuti Gio memasuki kamar untuk menyiapkan baju ganti.
* * * *
Brukk..
Dilain tempat, Andi menutup pintu mobilnya dengan cukup keras. Ia berjalan ke arah rumah dengan dada naik turun.
"Mas.. kok baru pulang?"
Ia menjatuhkan tubuh di kursi ruang tamu dan menghela nafas lelah.
"Kakakmu udah gila."
Resti yang memang tau tentang ini langsung duduk disebelah suaminya dan mengusap lengan suaminya itu. Ia tahu bahwa suaminya berada diposisi serba salah.
"Kenapa lagi?" Tanya Resti dengan lembut.
"Tadi Mbak Ratna nyamperin Gio dikampus, mereka keluar entah kemana berdua."
Resti menarik tangan suaminya dan meletakkannya diatas perutnya yang sudah membesar. Biasanya bila Andi lelah, ia akan melakukan hal ini.
Dan benar saja, Andi menoleh. Raut wajahnya melunak, tak sekaku tadi. Ia mengusap usap perut istrinya itu.
"Kita harus apa Mas?"
Andi mendongak menatap mata sang istri.
Ia menggeleng pelan.
"Nggak ada."
"Tapi bukankah kita sama jahatnya dengan mbak Ratna kalau kita tetap diam?"
Andi hanya bisa menunduk menatap anaknya yang masih dalam perut istrinya itu. Ia mengusapnya dengan sayang.
"Aku gak mau kalian kenapa napa," lirihnya.
"Dia licik, dia orang nekat, meskipun kamu adiknya. Dan aku gak mau ambil resiko, karena dia udah ngancem aku," sambungnya.
"Dan lagi..."
Andi menjeda ucapannya sebentar
"Gena gak mungkin mau menemui aku, gak mungkin mau ngedengerin penjelasan aku karena pasti dia takut suaminya salah paham. Gio mengira aku ada hubungan apa apa dengan Gena, padahal aku hanya ingin memberitahu dia agar lebih hati hati dengan Mbak Ratna."
"Kalau aku tetap nekat ingin menemui Gena untuk membicarakan ini, yang ada mereka malah makin salah paham dan mengira aku yang berniat jahat."
"Nggak ada yang percaya sama aku, Dek."
Resti merasa kasihan pada suaminya yang berada diposisi serba salah ini.
"Untuk sekarang, kita berdoa aja semoga mereka baik baik saja."
Andi mengangguk pasrah. Sebenarnya ia tak tega dengan keluarga rekan kerjanya itu. Namun kembali lagi, ia juga takut jika keluarganya terkena dampak.
Beralih kembali pada Gio yang nampaknya memiliki perubahan.
Gena yang sedari tadi merasa di diamkan Gio akhirnya buka suara setelah meletakkan segelas kopi di meja kerja Gio.
"Capek ya mas? Mau aku pijitin?"
"Nggak usah," sahut Gio datar sembari membolak balik lembar kertas.
"Nggak apa apa, aku pijitin ya biar capeknya berkurang," Gena mencoba menyentuh pundak Gio namun ditepis Gio dengan kasar.
"Aku bilang nggak usah ya nggak usah."
Gena kaku ditempat mendapat perlakuan kasar Gio
"Kamu jangan pernah sentuh sentuh aku, ingat itu!"
"Sekarang kamu keluar dari sini," sambung Gio mengusir Gena untuk keluar dari ruang kerjanya.
"Aku salah apa sama kamu mas?"
"Gak usah banyak tanya, KELUAR SEKARANG!"
Sambil menahan air matanya, Gena melangkah keluar dari ruangan itu.
Ia dengan pelan masuk ke dalam kamar tempat Dinda tidur. Mengusap rambut anaknya itu dengan pelan seolah sumber semangatnya kini hanya malaikat kecil itu.
Mengecupnya singkat dan membenarkan pembatas disamping kanan dan kiri tubuh mungil itu.
Malam semakin larut, kini Gena merebahkan dirinya diranjang kamarnya setelah menengok Dinda. Tak lama kemudian Gio masuk kedalam kamar, merebahkan dirinya juga disamping Gena namun tanpa membuka suara.
Gena yang biasanya tidur dalam dekapan sang suami, kini beringsut mendekat dan melingkarkan tangannya pada perut Gio.
"APA APAAN KAMU!" Bentak Gio.
"Kamu kenapa mas?" Tanya Gena.
"Udah aku bilang, jangan sentuh sentuh aku!" Tegas Gio
Gena hanya mengangguk, ia berpikir mungkin saja Gio memang lelah dan tak ingin di ganggu.
Gio kembali memejamkan mata dan memunggungi Gena, sedangkan Gena hanya menatap sedih pada punggung lebar itu.
________________________________________
Halo, maaf lama updatenya.
Akhir akhir ini sedikit sibuk hehehe.
Terima kasih yang masih mampir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hot Relationship "After Marriage"
Fiksi RemajaFOLLOW GUE DULU WOIIII!!!! * * * DISARANKAN UNTUK MEMBACA "HOT RELATIONSHIP" YANG PERTAMA DULU YA GUYS, SUPAYA VIBES NYA DAPET❤️ *** Menjalani hidup bersama Gio seakan membawa semerbak kebahagiaan untuk Gena. Namun, setelah satu tahun lebih menikah...
