Menenangkan Diri

5.9K 592 138
                                        

Heyyy, ayem kambek!!!
Selamat Membaca.
_________________________________

Author

"Walau Mas Gio kakak kandung aku, aku akan dipihak Mbak. Aku akan menjadi orang pertama yang mendukung kalau Mbak bercerai dengan Mas Gio. Bahkan aku siap jadi saksi tentang kekerasan Mas Gio terhadap Mbak. Mas Gio gak pantas dapat perempuan sebaik Mbak Gena," ucap Tiara sambil menggenggam tangan Gena, menatapnya dengan serius.

Gena hanya bisa menangis dan menggeleng pelan. Hatinya sungguh sakit, calon anaknya yang telah hidup bersamanya beberapa minggu itu harus gugur sebelum melihat orang tuanya.

"Mana... Dinda?" Tanya Gena disela tangisnya.

"Ada.. dia diluar sama pacarku. Sebentar... aku suruh masuk."

Tiara dengan sigap keluar ruangan dan memanggil Irwan untuk masuk membawa Dinda.

"Mama..."

Tangis Gena kembali pecah. Ia memeluk tubuh Dinda sambil berbaring.

Kini, hanya Dinda lah yang akan menjadi tujuannya untuk hidup.

"Mama tatit ya... Papa dahat."

Makin sakitlah hati Gena mendengar ucapan malaikat kecilnya itu. Ia tak bisa mencegah ucapan itu, karena memang benar Gio telah jahat padanya. Namun, kini ia juga takut bila kelakuan Gio itu akan membekas diingatan Dinda.

"Papa dahat."

"Papa gak jahat kok, Papa sayang sama Dinda," sahut Gena sembari mengusap rambut Dinda.

Meski kini Gena dalam posisi campur aduk antara benci kecewa dan marah pada Gio, ia tak membiarkan anak sekecil Dinda membenci Papanya juga karena kelak ia akan membutuhkan Gio saat sudah dewasa.

Tiara yang mendengar itu hanya bisa menangis dalam diam. Hatinya sakit, keponakannya harus melihat tindak kekerasan seorang laki laki yang harusnya menjadi cinta pertamanya.

Irwan menarik Tiara untuk bersandar kedekapannya. Kini ruangan itu hanya diisi oleh tangisan lirih dan ocehan mulut kecil yang berulang kali menanyakan keadaan Mamanya dan ucapan bahwa Papanya jahat.

Pikiran Gena menerawang, mengingat ucapan Tiara.

Apa memang jalan satu satunya hanya itu?

Tapi dia juga sudah tidak bisa tinggal bersama laki laki yang telah menorehkan luka hebat dan juga ia tak mungkin kuat jika harus hidup dengan laki laki yang menyimpan wanita lain.

Namun, bagaimana nasib Dinda kecil yang harus hidup dikeluarga tak utuh?

Lelah dengan lirihan tangis, Dinda tertidur dengan kepala yang diusap oleh sang Mama.

Ketiga orang dewasa itupun hanya diam dengan pikiran masing masing sampai perawat masuk memberi tau bahwa Gena akan dipindahkan ke ruang inap.

Irwan dan Tiara mengikuti perawat yang membawa Gena dan masuk ke dalam ruangan.

"Kamu pulang aja Wan," Ujar Gena.

"Iya Wan, lo pulang aja. Gue bisa kok jagain Mbak Gena," Timpal Tiara.

"Enggak, kalau aku pulang yang disini cuma Tiara sama Mbak. Gak ada yang laki laki."

Ia merasa iba pada mereka, dan tak tega jika harus meninggalkan keduanya yang sama sama perempuan.

"Oh iya, gue keluar dulu nyari makan buat kita malam ini ya? Mbak Gena sama lo kan juga belum makan," sambung Irwan.

"Maaf ya Wan, ngrepotin," sahut Gena tak enak.

Hot Relationship  "After Marriage" Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang