part 39 -mengenang masa lalu.

48 4 1
                                        


"Manusia selalu melakukan segala cara agar tidak kehilangan orang yang di sayanginya. Meski terkadang caranya salah."

____________



Kinara sama sekali tidak fokus dengan buku yang di pegang nya. Berlari ke perpustakaan setelah menjalani hukuman, niatnya untuk menghindari Fathan dan Fateh.

Bagaimana bisa di waktu yang sama dua laki-laki menyatakan perasan pada nya. Kembar pula.

Kinara benar-benar di buat pusing. Percuma, di perpustakaan juga pikiran Kinara tetap pada dua laki-laki kembar.

"Clau."

Kinara tersentak. Menoleh kesamping, mendapati Tristan yang duduk disamping nya.

"Kamu kenapa? Dari tadi ngelamun terus," Tristan bertanya. Karena sejak dia masuk Kinara sudah melamun.

Awalnya Tristan pikir Kinara sedang berpikir atau menghafal. Ternyata dugaan nya salah saat Tristan melihat Kinara sama sekali tidak bergerak, bahkan mata coklat nya menatap lurus ke depan.

"Kamu dari kapan?" tanya Kinara balik.

Tristan menaikan satu alisnya, "dari tadi. Kamu nggak sadar?"

Kinara menggeleng, "maaf tadi aku-"

"Soal kemarin?" tanya Tristan cepat.

Kinara diam. Semalaman Kinara memang kepikiran soal kemarin, tapi saat ini yang Kinara pikirkan bukan lah itu.

"Bukan itu-"

"Why?" sela Tristan cepat.

"Claudia. Aku yakin banget Oma gak mungkin kayak apa yang kamu pikirin."

"Tapi kenyataan nya," ucap Kinara lirih.

"Kamu itu cucu kesayangan dia."

Kinara tersenyum kecut, "itu dulu Tristan."

"Dulu sama sekarang sama aja, Clau."

"Beda Tristan. Kamu gak tahu."

Tristan menghela pelan, "Clau. Mereka itu masih sama, mereka cuma butuh waktu buat bisa nerima semuanya."

"Ini udah hampir tiga tahun, Tris."

Tristan menghadap Kinara sepenuhnya, menatap Kinara lekat, "belum sepuluh tahun, Clau. Kamu tahu, Oma Ralin itu sayang banget sama kamu," jelas Tristan.

Kinara diam, menatap kebawah. Tidak tahu harus bilang apa lagi, rasanya Oma Ralin sudah benar-benar membencinya.

"Mereka gak benci kamu Clau," ucap Tristan seakan tahu jalan pikiran Kinara.

"Kamu pikir untuk apa Oma Ralin melakukan segala cara agar kamu tetap di rumah nya, ya, meskipun caranya salah dan terkesan jahat. Tapi, itu cara dia agar tidak kehilangan kamu," ucap Tristan.

"Dia seperti itu karena terlalu takut kehilangan kamu," lanjut Tristan.

Tristan kembali bersuara agar Kinara percaya dengan ucapan nya, "kamu ingat gak? Dulu, waktu kita kecil. Kalau aku sama Marcel gangguin kamu. Kamu tahu apa yang Oma Ralin lakuin?"

Kinara diam. Mencerna dan mengingat kejadian tersebut.

Kinara tersenyum setelah ingat membuat Tristan ikut tersenyum. Tristan berkacak pinggang menatap Kinara sepenuhnya.

"Marcel. Tristan, kalau kalian terus ganggu Claudia Oma. Oma kirim kalian ke gunung Sahara!" Ucap Tristan menirukan suara dan gaya Oma Ralin.

Kinara terkekeh pelan, rindu juga suasana seperti itu. Kinara kecil yang cengeng di jahili oleh Marcel dan Tristan.

Dan Oma Ralin yang langsung memarahi keduanya dengan gaya khasnya. Mengomeli Marcel dan Tristan sampai keduanya meminta maaf pada Kinara kecil.

Tristan tertawa pelan, dia masih sadar dirinya berada di perpustakaan. Jadi tidak berani tertawa kencang.

Saat itu Kinara dan Tristan larut dalam obrolan masa lalu. Masa lalu yang begitu Kinara rindukan, masa kecil nya yang penuh kehangatan dan mendapat kasih sayang penuh.

Mungkin Tristan benar. Oma seperti itu karena takut kehilangan nya. Dia takut apa yang terjadi pada papah nya, Rega. Terjadi juga padanya.

❤️❤️❤️❤️


Up lagi😁 bosen nggak? Semoga cepat update lagi ya🤗

Salam peluk online

Hi Ukhti [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang