part 53 -ternyata dia.

37 5 2
                                        







Menjelang sore Kinara bersiap untuk pulang. Gadis berjilbab putih itu berpamitan pada Zara. Sedari Kinara disana Zara dan Kinara sama sekali tidak berbincang.

Mereka terdiam dan memiliki pikiran masing-masing.

Setelah pamit. Kinara keluar dan berjalan, sebenarnya Kinara enggan meninggalkan Zara sendiri, namun, Kinara tidak ingin mengambil resiko jika Oma nya kembali melontarkan sebuah ancaman.

Baru beberapa Kinara melangkah. Sebuah lengan kekar menghalau jalannya. Kinara mendongak, menatap cowok yang lebih tinggi darinya.

Cowok tersebut tidak lain adalah Rio. Setelah Kinara menghentikan langkahnya, cowok pemilik lesung pipi itu menengadahkan tangan nya.

Gadis bermata cokelat itu mengernyit heran. Rio yang tak sabar pun angkat suara.

"Kertas."

Kinara berpikir sejenak. Dan akhirnya dia ingat pada kertas yang ditemuinya.

Kinara membuka tas ranselnya. Mengambil kertas yang dimaksud Rio.

Kinara tidak ada niat untuk mengembalikan kertas tersebut. Kinara hanya menunjukan nya di depan wajah Rio dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.

"Jadi kamu," ucap Kinara tak percaya.

Rio menarik tangan nya. Sudah tak berguna untuk menutupi, "iya," jawabnya tanpa beban sedikitpun.

"Kenapa kamu lakuin ini. Ini kesalahan."

Rio terkekeh, "ya, gue salah."

"Kalau ngerasa salah kenapa gak jujur?!" Kinara benar-benat tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Ini hal kecil," ujarnya enteng.

Kinara dibuat emosi mendengarnya. Menurutnya ini bukanlah hal kecil, akibat perbuatan Rio. Semua murid harus menunda UAS.

Kinara sebagai sekertaris OSIS merasa bahwa semua yang sudah anggota OSIS susun dan rencanakan berantakan. Seperti pelantikan OSIS yang di tunda.

"Ini bukan hal kecil untuk saya."

Rio tersenyum culas, "iya, bagi anggota OSIS mungkin ini adalah hal yang besar. Tapi bagi gue ini buka apa-apa."

"Kamu gak bisa kayak gini, untuk apa kamu lakuin ini? Apa keuntungan nya?" Kinara semakin tidak mengerti. Jika Rio mencuri jawaban kenapa harus dibagikan kepada seluruh murid. Untung nya apa untuk dia.

"Untung nya buat gue?" Rio sejenak menatap mata Kinara tajam seraya tersenyum miring, "ngeliat bokap gue frustasi!" itu keuntungan gue.

Kinara menggeleng heran. Kakinya mundur satu langkah karena merasa terlalu dekat dengan Rio.

"Bokap?"

"Iya. Rendy Sumanto, direktur sekolah kita. Gue suka liat dia frustasi dengan kelakuan gue. Karena selama ini dia yang selalu ngebuat gue frustasi."

"Gue capek Ra. Gue capek harus selalu menjadi yang terbaik. Gue juga capek harus selalu menjadi yang utama," tanpa sadar Rio mengungkapkan semua isi hatinya pada Kinara.

Mata Rio berkaca-kaca. Rasanya sedikit lega setelah mengeluarkan semua uneg-uneg nya.

Kaki Kinara melangkah satu langkah. Berdiri tepat di depan Rio yang sedang menatap nya lirih dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf. Tapi aku gak bisa membenarkan apa yang kamu lakukan, aku tahu. Terkadang ada orang tua yang begitu tidak adil atau bahkan egois pada anaknya," ucap Kinara. Suaranya melembut, "tapi, bagaimana pun dia. Dia tetaplah tempat kita untuk pulang," lanjut Kinara.

Cowok bermata hitam pekat itu menatap Kinara intens. Hatinya terasa hangat saat mendengar perkataan Kinara. Selama ini dia merasa tidak pernah memiliki tempat untuk berkeluh kesah dan tanpa sadar, hari ini dia mengeluarkan emosi dan kekesalan nya pada Kinara.

"Aku tahu mungkin ini berat. Dan seharusnya kamu jujur pada guru tentang ini."

Rio mengangguk lemah, "iya. Gue bakal jujur soal ini. Dan itu memang tujuan gue untuk menghancurkan bokap gue."

Kinara menaruh telunjuknya di dekat bibir Rio. Telunjuk Kinara tidak mengenai bibir Rio, "jangan bilang gitu. Seperti apapun dia. Dia tetap ayah kamu Rio, kamu harus tahu seberapa sakitnya kita kehilangan sosok ayah."

Kinara menurunkan jari telunjuk nya, "dua tahun lalu aku kehilangan sosok ayah. Aku juga pernah marah padanya, bahkan sangat marah. Tapi ternyata kehilangannya tetap menjadi ketakutan terbesar bagiku."

"Sayangilah dia selagi masih ada, kamu harus jujur soal ini. Tapi, bukan untuk menghancurkan dia. Kejujuran kamu itu untuk diri kamu sendiri," Kinara menyerahkan kertas yang ada di genggamannya pada Rio.

"Aku permisi, Wassalamu'alaikum," Kianara pergi tanpa menunggu jawaban salam dari Rio. Dia sedang buru-buru karena hari sudah semakin sore.

Rio menatap kepergian Kinara dengan tatapan lirih. Hatinya terasa hangat saat ini, sepertinya Rio sudah tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.




________________________



Ada yang beralih ke kapal nya Rio-Kinara? Ayo ramaikan kolom komentarnya 🤗

Salam peluk online🤗

Hi Ukhti [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang