❤Insiden Taman Sekolah❤
"Kenapa harus menjauh sih, Clau?"
Kinara menoleh kesamping, Tristan duduk di samping nya di bangku taman dengan jarak satu meter.
"Memang nya kamu bisa menerima aku yang sekarang?" tanya balik Kinara.
Tristan menoleh kesamping, mata mereka bertemu setelah nya Kinara memalingkan wajah untuk memutus kontak mata.
"Seperti apapun kamu aku akan menerimanya, asalkan itu kamu Clau."
Kinara kembali menatap Tristan, kali ini tatapan nya tulus, senyum nya merekah, " makasih Tris," ucap Kinara tulus.
Tristan mengangguk, pandangan nya lurus kedepan disana ada taman kecil yang hijau, menyejukkan mata, "pantas kamu lebih betah disini Clau."
Tristan tersenyum lirih, "disini tidak ada yang membeda-beda kan. semuanya sama," lanjut Tristan.
Kinara mengangguk menyetujui, memang hal itulah yang Kinara temui di sini.
Hening. kedua nya hanya menikmati hembusan angin yang menerpa wajah keduanya.
Di tengah keheningan. entah datang dari mana Fateh berdiri di depan Kinara sambil memegangi sapu.
Kinara nengernyit heran begitu pula dengan Tristan. sedangkan Fateh menatap keduanya tanpa dosa sambil menunjukan sapu yang di pegang nya.
"Gue di hukum sama pak Tomy, di suruh bersihin taman," jelas Fateh.
Tristan mendengus, "jadi maksud lo kita harus pergi dari sini?"
Fateh menggeleng cepat, "santai mas bro, bukan begitu maksud gue, di kolong kursi ada sampah, gue mau sapu," jelas Fateh menunjuk daun yang ada di kolong kursi yang di duduki Tristan dan Kinara.
"Ooh, gue sans kok," ucap Tristan beranjak dari duduk nya, menepuk bahu Fateh pelan, "gue Tristan kelas 11 IPA1," sambung Tristan memperkenalkan dirinya.
"Gue Fateh, 11 IPS2."
"Clau, kita duduk disana aja," tunjuk Tristan ke arah kursi dekat pohon rindang.
Kinara menggeleng, "nggak bisa, Tris. aku harus ke perpus," jelas Kinara.
"Kamu kan udah janji," ingat Tristan mendekati Kinara membuat Fateh merasa bingung.
"Tapi aku mau ke perpus," ucap Kinara sambil menunduk.
"Oke, tapi lain waktu. kamu udah janji," ucap Tristan. tanpa sadar Tristan memegang kepala Kinara.
Kinara tertegun di tempat. Fateh menepis tangan Tristan tanpa sadar.
Tristan mengernyit heran, sedangkan Fateh menyorot tajam ke arah Tristan, "jangan sentuh dia sembarangan!" tegas Fateh.
Tristan terkekeh pelan merasa lucu, "lo siapa? kenapa lo segitu nya ngeliat gue gini, Clau.., maksud gue Kinara aja santai kok."
Fateh terdiam, tindakan nya di luar kendali nya. dia hanya tidak ingin Kinara di sentuh, entah kenapa.
"Gue duluan," Tristan pergi dari taman meninggalkan Fateh dan Kinara di tempat.
Kinara sendiri bingung dengan perasaan nya, ada rasa senang saat Fateh menepis tangan Tristan. Kinara tersenyum.
"Makasih," ucap Kinara tulus. Kinara merasa Fateh sudah menolong nya padahal tidak terjadi apa-apa padanya. tapi Kinara harus berterima kasih karena Fateh sudah mengerti dirinya.
Setelah mengucapkan kata 'makasih' Kinara beranjak meninggalkan Fateh dan berjalan menuju perpus yang tak jauh dari taman.
Fateh menganga tak percaya dengan apa yang di dengar nya, setelah Kinara hilang dari pandangan nya barulah Fateh menarik sudut bibir nya membentuk garis lurus.
Tak hanya di situ, saking senang nya mendapat kata 'makasih' dari Kinara, Fateh sampai berjoget-joget ria.
Fateh menaruh sapu yang di pegang nya di perutnya, menjadikan sapu tersebut gitar. sampai sebuah deheman menghentikan aksi joget Fateh.
Fateh menoleh ke sumber suara, dan mendapati pak Tomy yang menatap nya horor seakan Fateh adalah mangsanya.
Fateh nyengir sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "eh, bapak. serem amat pak mukanya, hatai-hati cepat tua loh pak," cengir Fateh.
"Saya sudah tua," kata pak Tomy tegas sambil berkacak pinggang.
Fateh kembali memberikan cengiran khas nya, "ooh sudah tua, berarti sudah bau tanah dong pak. saya sarankan cepat tobat pak sebelum malaikat maut menjemput," celetuk Fateh.
"Kamu mendoakan saya cepat mati, hah!"
Mampus! Jika pak Tomy sudah menatap nya dengan bola mata yang ingin keluar sudah di pastikan darah nya sedang berada di ubun-ubun dan sebentar lagi akan pecah terlihat dari ubun-ubun nya yang mengeluarkan asap.
"Maaf pak, bercanda," Fateh memberikan dua jari tanda damai, "bapak susah banget di ajak bercanda nya."
Pak Tomy menghela napas kasar, untuk kesekian kali nya dia harus berhadapan dengan murid yang super tengik, "saya suruh kamu membersihkan taman bukan joget-joget kayak tadi," cerocos pak Tomy.
"Tenang saja pak, karena saya lagi bahagia, jangan kan taman seluruh lapangan sekolah saya bersihkan pak," ujar Fateh kemudian mulai menyapu taman.
Begitulah Fateh, keseharian nya tidak jauh-jauh dari hukuman pak Tomy, mungkin hanya hari libur saja pak Tomy libur menghukum nya.
❤❤❤❤
Folow aku mfitriyanii17 agar kalian bisa tau kapan author update😉
Folow juga akun instagram author @mfitriyanii17_ dan @mfitriyanii17.wattpad
Terima kasih❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Ukhti [END]
Fiksi RemajaMuhamad Fateh Fazal, saudara kembar Muhammad Fathan Fazal. Meski kembar mereka memiliki sifat yang bertolak belakang. Fathan lebih kalem dan pendiam sedangkan Fateh lebih pecicilan dan ekspresif. Suatu ketika, Fateh bertemu dengan seorang wanita ber...
![Hi Ukhti [END]](https://img.wattpad.com/cover/241753397-64-k48982.jpg)