Fateh, Nino dan Tio mendatangi rumah Joan. Namun anehnya mereka tidak di izinkan untuk masuk, saat di chat tadi. Joan bilang dia yang akan menghampiri mereka di luar.
Jadilah Fateh, Nino dan Tio menunggu Joan keluar rumah. Mereka kesana untuk meminta penjelasan kenapa seorang Joan bisa masuk BK.
Dan juga mereka akan meminta izin pada Joan untuk pengganti nya.
Tak berselang lama Joan datang dengan celana selutut dan kaus berwarna putih polos.
Joan berjalan kearah mereka dengan santai tanpa peduli tatapan mereka yang menatap lekat wajah manis Joan yang penuh dengan lebam.
"Mau ngomong apa?" tanya Joan to the point.
Mereka heran, Joan memang suka begini. To the point dan tidak suka bertele-tele. Tapi aneh saja melihat tingkah Joan yang saat ini.
"Lo nggak nyuruh kita masuk dulu gitu?" tanya Nino penasaran. Biasanya jika mereka main kerumah Joan pasti akan masuk dan menganggap rumah tersebut rumah mereka.
"Langsung ke intinya aja. Lo semua mau ngomong apa?"
"Jo. Lo kenapa dah, kita kesini mau minta penjelasan lo. Kenapa lo berantem sama Rio yang membuat kita ribet buat cari pengganti lo," Tio berucap ngegas. Kesal saja melihat tingkah Joan yang seperti bukan teman nya.
Joan menatap nyalang kearah Tio, "lo pikir kenapa gue di keluarin dari club basket? Itu karena bokap lo yang nggak bisa adil!"
"Kenapa jadi bawa-bawa bokap gue! Yang salah lo. Lo berantem, bokap gue cuma ngejalanin tugas nya aja!" balas Tio kembali ngegas.
"BOKAP LO NGGAK BISA ADIL! DIA NGGAK PANTES JADI KEPALA SEKOLAH. KENAPA CUMA GUE YANG DI KELUARIN DARI CLUB BASKET. SEDANGKAN RIO CUMA DAPET HUKUMAN SKORS!"
Tio terdiam mendengar teriakan Joan. Benarkah begitu?
"Lo semua cari pengganti gue. Gue udah nggak peduli sama basket!"
Joan pergi masuk kedalam rumah meninggalkan ketiga teman nya yang mematung setelah mendengar teriakan Joan.
"Gue harus ngomong sama bokap gue. Sebenarnya ada hubungan apa antara bokap gue dan pak Rendy."
"Jangan gegabah Yo. Inget kata pak Tomy waktu itu, kita nggak boleh gegabah," nasehat Fateh. Ia ingat betul apa yang di katakan pak Tomy malam itu.
"Tapi gue nggak bisa diem aja."
"Kita harus istirahat buat besok. Kita semua nggak mau kan pak Septian di keluarin gara-gara kita yang nggak fokus main."
❤❤❤❤❤
Hari ini adalah hari pertandingan basket. Nama Kinara dan Shakila termasuk nama murid yang ikut menonton basket.
Sebenarnya anggota osis sedang di sibukkan dengan persiapan bazar untuk besok. Namun beberapa anggota osis seperti Kinara di tunjuk untuk menjadi sporter.
Kinara dan yang lainnya sudah siap. Mereka sedang menunggu anak basket di depan bus yang akan mengantar mereka ke tempat pertandingan.
Sebenarnya Kinara sangat berharap dirinya tidak ikut serta, karena dia takut bertemu teman-teman lamanya disana.
Mau bagaimana lagi. Kinara harus ikut karena di tunjuk langsung oleh kepala sekolah, selain Kinara dan Shakila. Joan juga ikut serta.
Anak-anak basket akhirnya datang dengan jersey yang mereka kenakan. Saat mereka berjalan banyak siswi yang menjerit histeris.
Bagaimana tidak. Fateh sebagai ketua berjalan lebih dulu, damage nya bukan main. Jersey yang mereka kenakan berwarna kuning.
Fateh dengan headband berwarna biru di kening nya membuat kesan cool disana. Aah apalagi cara berjalan nya yang membuat para siswi berteriak histeris.
Ketika semua orang mengagumi ketampanan Fateh. Tidak dengan Kinara yang malah fokus pada salah satu orang yang memakai jersey yang sama.
Kinara terus menatap orang itu sampai laki-laki bermata sipit itu menghampiri Kinara dan berdiri di depan Kinara membuat Fateh mendengus.
Baru saja Fateh yang akan menghampiri Kinara. Namun di dahului oleh Tristan.
Ya, laki-laki itu adalah Tristan. Murid baru yang beruntung dan menjadi pengganti Joan.
"Aku keren ya pake baju ini," kata Tristan. Kinara tersadar dan menatap Tristan lekat.
"Kamu-"
"Iya, aku jadi pengganti Joan," ucap Tristan menjelaskan.
"Kamu yakin? Yang bakal kamu lawan teman kamu sendiri," ucap Kinara memelankan suara nya agar hanya Tristan saja yang mendengar.
"Musuh di lapangan bukan berarti musuh di real life kan?" Tristan tersenyum manis untuk membuat Kinara percaya bahwa dirinya bisa dan tidak akan mengecewakan.
"Kamu serius?" tanya Kinara masih tidak percaya.
Tristan mengangguk, "kamu tenang aja, Clau. Aku akan berusaha."
Kinara mengangguk. Sepertinya Tristan memang dapat di percaya.
"Ayo anak-anak kita kumpul," intruksi pak Septian.
Semua murid kumpul di depan bus, termasuk anak-anak basket.
"Sebelum berangkat kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa di mulai."
Semuanya mulai berdoa termasuk Fateh, ia begitu khusu dalam berdoa kali ini.
Selesai berdoa, semua murid mulai memasuki bus. Fateh sempat-sempatnya menghampiri Kinara. Ini pertama kalinya Fateh melihat Kinara setelah tiga hari.
"Assalamualaikum Nara."
"Waalaikumsalam," refleks Kinara menjawab salam dan menghentikan langkah nya untuk masuk kedalam bus.
"Kamu tahu. Kamu adalah salah satu penyemangat aku hari ini."
Dan seperti kebiasaan Fateh. Setelah membuat jantung Kinara berdetak kencang, Fateh malah masuk lebih dulu kedalam bus meninggalkan Kinara di depan pintu bus seorang diri.
"Kinara. Ayo masuk," teriakan Shakila membuat Kinara sadar dan buru-buru masuk.
❤❤❤❤❤❤
Ada yang oleng sama Fateh nggak?
Fateh tuh ganteng+keren, yakin nggak ada yang oleng?
Next part pasti bakal bikin kalian oleng sama Fateh😀
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Ukhti [END]
Teen FictionMuhamad Fateh Fazal, saudara kembar Muhammad Fathan Fazal. Meski kembar mereka memiliki sifat yang bertolak belakang. Fathan lebih kalem dan pendiam sedangkan Fateh lebih pecicilan dan ekspresif. Suatu ketika, Fateh bertemu dengan seorang wanita ber...
![Hi Ukhti [END]](https://img.wattpad.com/cover/241753397-64-k48982.jpg)