Melihat bunda Zillah yang terbaring lemah di ruang ICU membuat Kinara sedih, Kinara hanya mampu melihat bunda Zillah dari luar dan melihat nya dari kaca besar.
Ingin sekali Kinara masuk kedalam memeluk Zara yang terlihat begitu rapuh, Kinara juga dapat kabar bahwa sudah satu Minggu Zara tidak masuk sekolah padahal sedang UAS.
Seseorang menepuk pundak nya, Kinara cukup terkejut saat mendapati Oma Ralin tengah memandang nya marah.
"Melanggar janji huh!"
"Maaf Oma. Nara hanya ingin melihat bunda," dengan berani Kinara berkata demikian.
Rasa rindu nya sangat dalam pada bunda nya itu, membuat Kinara nekad dan melanggar janji nya sendiri untuk tidak menemui Bunda Zillah.
"Saya masih memberikan kesempatan, pulang sekarang atau saya tidak akan membayar biaya rumah sakit lagi."
Kinara tidak bisa lagi membantah jika Oma Ralin sudah berkata demikian, dengan amat terpaksa Kinara menuruti perintah nya.
Sebelum pergi Kinara melihat bunda Zillah dan Zara dengan tatapan sendu.
"Cepat pulih bunda, selain tak ingin kehilangan mu. Ingat, ada Zara yang akan sangat hancur jika bunda pergi."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Pukul 03:00 Kinara terbangun, dan tak lupa solat tahajud. Biasa nya selesai solat Kinara akan kembali tidur tapi, saat ini Kinara benar-benar tidak bisa tidur.
Ponsel nya berdering, jam dini hari seperti ini siapa yang menghubunginya.
Saat melihat nama dokter yang menangani bunda Zillah tertera di layar ponsel nya membuat Kinara segera mengeset tombol hijau.
Dokter Rian. Dokter yang menangani bunda Zillah. Kinara memiliki nomer tersebut dari Marcel. Dokter Rian adalah sahabat ayah nya, jadi Kinara bisa meminta tolong dokter Rian untuk memberikan info tentang bundanya.
"Hallo dok," sapa Kinara pelan sembari membuka mukenah nya.
"Bunda kamu, sudah tidak ada."
Pernyataan dari dokter Rian membuat Kinara terdiam seketika. Duduk di pinggiran kasur dengan air mata yang jatuh tanpa permisi.
Kinara menggeleng merasa tidak percaya, namun air matanya jatuh begitu saja.
"Tolong dokter. Tolong jangan bercanda."
"Maaf, sepertinya tuhan menginginkan beliau."
❤️❤️❤️❤️❤️
Mendengar kabar yang begitu menyakitkan itu, Kinara buru-buru bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Bukan saat nya untuk Kinara menangis histeris, Kinara ingat ada Zara yang membutuhkan nya.
Belum sempat Kinara keluar dan mencapai daun pintu, Oma Ralin sudah memanggilnya dan menghentikan langkah nya.
"Jangan harap kamu bisa ke rumah sakit."
Kinara membalik kan badan nya, menatap Oma Ralin dengan tatapan memohon.
"Nara mohon Oma. Nara ingin melihat bunda untuk yang terakhir kalinya," mohon Kinara, air matanya kembali jatuh membasahi pipi nya.
Oma Ralin bersedekap dada. Menatap Kinara nyalang, "Oma tidak mengizinkan!"
"Oma. Nara mohon," Kinara kembali memohon dengan suara bergetar dan kepala menunduk.
"Sekali Oma tidak mengizinkan. Kamu tidak boleh pergi." Oma Ralin masih kekeh dengan pendirian nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Ukhti [END]
Teen FictionMuhamad Fateh Fazal, saudara kembar Muhammad Fathan Fazal. Meski kembar mereka memiliki sifat yang bertolak belakang. Fathan lebih kalem dan pendiam sedangkan Fateh lebih pecicilan dan ekspresif. Suatu ketika, Fateh bertemu dengan seorang wanita ber...
![Hi Ukhti [END]](https://img.wattpad.com/cover/241753397-64-k48982.jpg)