Rendy Linggara di jatuhi hukuman pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman seumur hidup. Dan hukuman pasal 328 KUHP tentang penculikan dengan ancaman 12 tahun penjara.
Setelah sidang selesai semua mengucap syukur tak terkecuali Rio. Rio memang merasa sedih tapi itu pantas di dapatkan oleh papah nya.
Keluarga Fateh juga merasa bersyukur karena Fateh mendapat keadilan.
Saat pak Rendy di borgol dan di bawa Rio menghampiri papahnya.
"Untuk apa kamu datang kalau hanya memberatkan hukuman papah saja!"
Rio terkekeh. Setelah terancam dipenjara pun papah nya masih tidak berubah.
"Malah saya senang karena apa yang anda dapatkan sekarang setidaknya sepadan dengan penderitaan mamah."
"Anak durhaka."
"Sejak kapan saya anak anda? Bukan kah selama ini anda menganggap saya sebagai alat untuk mendapatkan harta warisan?"
Rendy hendak menyerang Rio. Namun polisi menghalangi dan segera membawa pak Rendy.
Kinara menghampiri bunda Afida.
"Assalamu'alaikum bunda," sapa Kinara menyalami punggung tangan Afida.
"Waalaikumsalam," jawab Afida.
"Nara-," Kinara menggantungkan ucapannya. Ragu untuk berucap. Menarik napas panjang, "Nara ingin minta maaf bunda."
"Minta maaf untuk apa sayang?"
"Maaf karena Nara-" belum sempat Kinara melanjutkan perkataan nya bunda Afida sudah lebih dulu memeluknya.
"Jangan meminta maaf. Bunda sudah ikhlas, bunda hanya ingin keadilan untuk anak bunda."
Kinara meneteskan air matanya dalam pelukan hangat Afida.
Afida mengurai pelukan nya, menghapus air mata Kinara, "jangan menangis gadis cantik. Nanti bunda ikut nangis, kamu mau lihat bunda nangis lagi?"
Kinara menggeleng sembari menghapus cepat air matanya, "aku gak akan nangis. Bunda juga jangan nangis."
"Bunda gak nangis," Afida mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan, "soalnya kata suami bunda. Bunda jelek kalau nangis."
Kinara terkekeh. Merasa bahagia mendengar gurauan Afida.
"Selamat siang ibu Afida."
Netra Afida beralih kearah wanita paruh baya yang ada di samping Kinara.
"Iya. Siang."
"Perkenalkan, saya Oma Kinara. Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk. Maaf, putra ibu."
Afida tersenyum tulus, "memang sudah takdirnya seperti ini."
"Tapi kalau saja tidak ada putra ibu mungkin cucu saya-," Oma Ralin menggeleng, "saya tidak tahu lagi harus apa."
"Saya bersyukur karena telah melahirkan anak yang hebat."
_________________________
Kinara berada dalam sebuah mobil bersama Oma Ralin. Keadaan hening.
"Kinara."
Kinara menoleh dengan ekspresi kagetnya saat mendengar namanya di sebut oleh Oma Ralin.
"Namanya bagus," ucap Oma Ralin memuji.
Senyum Kinara mengembang, "papah yang kasih nama itu."
Oma Ralin ikut tersenyum, "Oma boleh peluk kamu?"
Kinara mengangguk cepat. Dia lebih dulu berhambur kedalam pelukan Oma Ralin.
"Nara kangen peluk Oma."
"Oma juga. Maafkan Oma. Selama ini Oma hanya takut kehilangan kamu."
"Nara ngerti kok."
"Oma ikut kamu ya."
Kinara melepaskan pelukan nya. Menatap Oma nya penasaran, "ikut aku kemana?"
"Ke Australia. Dua minggu lagi kamu akan ke Australia kan?"
Kinara terdiam.
"Kenapa? Kamu gak mau pergi?"
Kinara menggeleng, "Nara sudah janji sama Oma. Nara akan pergi, tapi kasih Nara waktu Oma."
"Waktu?"
"Kasih Nara waktu satu bulan."
"Untuk apa?"
"Ada yang harus Nara urus."
"Dua Minggu tidak cukup?"
Kinara menggeleng.
"Baiklah," ucap Oma Ralin menyetujui.
Kinara kembali berhambur kedalam pelukan Oma nya. Memeluknya begitu erat.
"Oma," panggil Kinara setelah melepaskan pelukan nya.
"Iya."
"Apa benar mamah hamil di luar nikah?" tanya Kinara pelan.
Oma Ralin menghela napas pelan. Seberapa lama pun dia menutupi pada akhirnya Kinara tahu juga.
Oma Ralin mengangguk lemah.
Kinara menunduk lesu, "jadi Nara anak di luar nikah. Papah dan mamah juga tidak saling mencintai."
"Sayang. Kamu percaya sama Oma?"
Kinara mengangguk.
"Mau dengar cerita dari Oma?"
Kinara kembali mengangguk.
Oma Ralin pun mulai bercerita tentang masa lalu yang sudah dia tutupi sejak lama.
___________________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Ukhti [END]
Fiksi RemajaMuhamad Fateh Fazal, saudara kembar Muhammad Fathan Fazal. Meski kembar mereka memiliki sifat yang bertolak belakang. Fathan lebih kalem dan pendiam sedangkan Fateh lebih pecicilan dan ekspresif. Suatu ketika, Fateh bertemu dengan seorang wanita ber...
![Hi Ukhti [END]](https://img.wattpad.com/cover/241753397-64-k48982.jpg)