Kinara sudah berada didalam angkutan umum. Hari semakin gelap, bahkan Kinara ketinggalan shalat magrib. Pikiran Kinara melayang pada kejadian tadi.
Kinara menghentikan langkah kakinya saat cowok didepan nya berhenti. Tepat di dekat lapangan mereka berhenti.
Cowok itu membuka maskernya, menampilkan wajah tampan dengan lesung pipi yang sedikit terlihat ketika cowok itu tersenyum tipis.
"Kamu mau apa?" tanya Kinara heran melihat Rio ada di depan nya sekarang.
"Gue mau minta maaf," jawab Rio.
Kinara mengernyitkan dahinya bingung, "minta maaf untuk apa?"
"Untuk janji yang gak gue tepatin."
"Janji?"
"Iya, pada akhirnya gue lepas kendali kemarin. Sorry."
"Kenapa minta maaf sama aku? Rio, seharusnya kamu minta maaf sama papah kamu."
"Ra. Aku ngerasa benar, dan baru kali ini aku melakukan hal yang udah lama pengen aku lakuin."
"Apa?"
"Memperjuangkan mama. Nyokap gue udah meninggal, dan selama dia hidup bersama laki-laki itu nyokap gak pernah ngerasain bahagia. Saat ngeliat Lo, gue sadar bahwa perempuan apalagi perempuan yang udah mempertaruhkan nyawa nya buat gue memang harus gue perjuangin."
Kinara terdiam. Dia tertegun mendengar pernyataan Rio.
"Sekarang gue kabur dari rumah, gue cuma kenal Lo Ra. Lo satu-satunya orang yang bisa gue percaya. Lo bisa tolongin gue?"
Tanpa sadar Kinara mengangguk. Rio menyerahkan sebuah kertas, "tolong hubungi nomer ini. Bilang kalau Lo teman gue, bilang ke mereka kalau gue kangen sama mereka. Gue pengen ketemu mereka. Disitu ada alamat. Bilang kalau gue nunggu mereka disana."
Kinara mengangguk lagi. Rio mengulum bibirnya, "makasih Ra. Waktu gue gak banyak, gue harus pergi sekarang."
Rio kembali memakai maskernya, mengangguk singkat lalu pergi meninggalkan Kinara sendiri disana.
Kinara segera meraih ponselnya. Sebelum menghubungi nomer yang di berikan Rio. Kinara lebih dulu mengirim pesan pada Shakila. Dia baru ingat meninggalkan Shakila di toilet.
Setelahnya Kinara menghubungi nomer yang ternyata nomer negara Jerman.
Itulah sepenggal pertemuan nya dengan Rio. Sebenarnya Kinara tidak mau ambil pusing, namun ternyata pikiran nya terus tertuju pada Rio.
Angkot berhenti tepat di depan gang rumah Zara. Kinara turun dan tak lupa memberi ongkos. Malam ini sepertinya Kinara akan menginap di sana.
___________________________
"Ini data yang bapak pinta."
Pria paruh baya membaca deretan data yang di pegang nya.
Bibirnya menyunggingkan senyum miring, "Kinara Aisyah Zeira."
_________________________
Wait. Ada yang bisa tebak ini ada apa? Next gak nih. Kalau gak ngantuk aku lanjutin nulis dan malam ini langsung aku up. Doain ya🤗
Salam peluk online🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Ukhti [END]
Teen FictionMuhamad Fateh Fazal, saudara kembar Muhammad Fathan Fazal. Meski kembar mereka memiliki sifat yang bertolak belakang. Fathan lebih kalem dan pendiam sedangkan Fateh lebih pecicilan dan ekspresif. Suatu ketika, Fateh bertemu dengan seorang wanita ber...
![Hi Ukhti [END]](https://img.wattpad.com/cover/241753397-64-k48982.jpg)