part 67 -Final Basket.

39 4 1
                                        








Pertandingan basket sudah di mulai sejak beberapa menit yang lalu. Kinara yang sedang menonton di atas tribun tiba-tiba saja mata coklatnya berembun, jika saja dia berkedip maka air mata itu akan jatuh.

Kinara merasa bahwa Fateh masih ada. Sedang bermain disana, gadis bermata coklat itu ingat betul bagaimana Fateh bermain dengan baju yang penuh keringat di lapangan sana.

Gadis pemilik mata berwarna coklat itu menghapus air matanya.

Kinara menoleh kesamping. Melihat Shakila yang diam dengan wajah murung, biasanya Shakila sudah berteriak heboh meneriaki satu-persatu nama pemain.

"Kila," panggil Kinara pelan.

Shakila menoleh. Menatap Kinara sebentar lalu kembali mengalihkan pandangan nya.

Kinara menyenggol pelan lengan Shakila, "kenapa? Biasanya juga heboh, kok diem aja."

Shakila menunduk lesu, "gue rindu Fateh," isakan Shakila sudah mulai terdengar oleh Kinara.

Kinara memeluk Shakila dari samping. Di tengah ramainya sorakan para penonton Kinara dan Shakila memilih pergi dari sana, lebih tepatnya Kinara menarik Shakila pergi.

Mereka tiba di taman. Kinara duduk di samping Shakila lalu menyodorkan botol minum pada Shakila yang di terima oleh berkuncir kuda itu.

Mereka memilih menenangkan diri disana dari pada menonton basket.

"Ra," panggil Shakila pelan.

Kinara menoleh kearah Shakila yang sedang menatap lurus kedepan.

"Lo tahu. Fateh beneran cinta sama Lo," cerita Shakila.

Kinara diam.

"Gue cuma mau cerita. Terserah mau dengar atau nggak."

"Sebelum Fateh pergi. Gue sama dia makan bareng dirumah, dia banyak cerita tentang perasaan nya."

"Kinara suka makan apa?"

"Nasi," jawab Shakila cuek.

"Kila cantik jelita. Gue nanya serius."

"Gue jawabnya juga serius."

Fateh menghembuskan napasnya lelah, sedari tadi dia bertanya tidak ada jawaban yang serius dari Shakila.

"Gue bingung," ujar Fateh lesu.

Shakila merasa tidak peduli. Dia terus makan namun telinga nya masih mendengar ucapan Fateh.

"Gue udah berada di level cinta sama Kinara. Gue udah pastiin perasaan gue sendiri, awalnya gue kira ini salah. Tapi ternyata gue gak bisa kendalikan hati gue sendiri."

Shakila berhenti mengunyah. Menatap Fateh lekat-lekat.

"Lo nyaman dekat sama Kinara?" tanya Shakila.

Fateh mengangguk cepat, "nyaman banget."

"Kalau Kinara dekat sama cowok lain Lo kesel?"

Fateh berpikir sejenak lalu kembali mengangguk, "iya. Gue kesel sama Tristan yang selalu bikin dia ketawa."

"Kalau Kinara nangis Lo gak sanggup lihat?"

Fateh kembali berpikir lalu mengangguk.

Shakila menggeleng tak percaya, "Lo beneran cinta sama Kinara rupanya. Gue pikir cuma bercandaan."

Fateh kembali menghela napas lelah, "kata bunda cinta gue gak salah asal gue bisa menempatkan rasa itu di tempat yang seharusnya."

"Maksudnya?"

"Gue sedang berusaha semaksimal mungkin buat gak nempatin perasaan itu di hati gue paling dalam, karena gue tahu siapa yang dia cintai."

Shakila mengerutkan keningnya. Menatap Fateh penuh tanda tanya.

"Gue pernah menyatakan perasaan ini. Dan respons Kinara sedikit melukai hati gue, karena dari tata bicaranya gue menyimpulkan bahwa dia memiliki perasaan pada orang lain?"

"Lo tahu siapa orang nya?"

Fateh mengangguk pelan, "waktu gue naruh coklat di meja Kinara gue lihat buku. Karena gue penasaran  gue buka buku itu, disana ada foto cowok."

"Siapa? Tristan?"

Fateh menggeleng, "orang yang dekat dengan kita."

Shakila semakin di buat bingung oleh Fateh.

"Kinara pantes dapetin dia. Gue pengen deketin Kinara sama dia. Tapi gue udah terlanjur janji sama seseorang buat deketin cowok ini sama cewek lain."

"Bentar deh, gue bingung. Yang Lo maksud itu siapa? Cowok nya siapa?"

Fateh mengambil kue di piring Shakila lalu melahap nya habis, "tar juga Lo paham," ujar Fateh sambil berlalu pergi dari rumah Shakila.

"Fateh. Gue masih penasaran," teriak Shakila.

Begitulah sekilas percakapan mereka. Satu hari sebelum kejadian penculikan Kinara.

"Kemarin gue memikirkan tentang omongan Fateh. Dan sekarang gue paham," Shakila menatap kearah Kinara, "lo suka Fathan kan?"

Kinara tertegun sebentar. Jadi, Fateh pernah lihat foto cowok yang ada di buku diary nya.

"Kila. Aku gak ada maksud buat-" Kianra benar-benar tak bisa melanjutkan perkataan nya.

"Gak papa kali Ra. Sebuah perasaan emang gak bisa di tahan, gue bukan siapa-siapa nya Fathan, gue gak berhak buat marah."

Kinara menggigit bibir bawahnya. Ingin menjelaskan yang sebenar nya namun dia tidak mampu.

"Gue duluan ya Ra. Gue mau support tim kita biar bisa menang," Shakila pergi meninggalkan Kinara yang terduduk diam di tempat.

Mereka tak menyadari bahwa ada cowok berpostur tinggi di balik pohon yang mendengar semua yang mereka bicarakan.



_________________________


Kemenangan di raih oleh sekolah Albina. Tio dan Nino menegang piala yang berukuran besar, mereka sedang sesi foto di tengah lapangan.

Selesai sesi foto. Tristan menghampiri Shakila yang sedang duduk di tribun yang sudah agak sepi.

Tristan duduk di samping Shakila.

"Selamat atas kemenangan nya," ujar Shakila pada Tristan.

Tristan terkekeh pelan, membelai pelan rambut Shakila.

Shakila terdiam. Jantungnya berdetak kencang.

Tristan meminum air. Jakun nya naik turun membuat Shakila menelan ludahnya susah payah.

Cowok bermata sipit itu menyeka keringat nya membuat dirinya terlihat keren di mata Shakila.

Tristan menoleh kearah Shakila, "kita mau ke makam Fateh. Mau ikut?"

Shakila tanpa sadar mengangguk polos membuat Tristan gemas melihat nya. Tristan mencubit pipi Shakila keras membuat Shakila merenggut kesal.

"Tristan!"

Nino menghampiri Fathan dan Rendy yang berdiri di sisi lapangan.

"Selamat ya," ujar Fathan memberi selamat.

"Thanks."

"Kalian keren sih," puji Rendy.

Nino terkekeh pelan mendengar pujian dari Rendy, "abis ini kita mau ke makam Fateh. Lo ikut Than?"

Fathan mengangguk di ikuti oleh Rendy.

"Gue juga ikut deh."




___________________________




Salam peluk online🤗




Hi Ukhti [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang