"Setiap yang bernyawa pasti akan pergi sesuai takdirnya."
_________________________
"Ayah, bunda. Kalian duluan, Fateh ada urusan dulu," saat ingin memasuki mobil dan pulang. Fateh tidak berniat ikut.
"Mau kemana?" Hanya Fathan yang bertanya. Kedua orang tua nya, Afida dan Farhan sudah tidak sanggup bertanya lagi. Hujan semakin deras, Afida merasa lemas dalam dekapan Farhan.
"Ada urusan," jawab Fateh masih sama.
"Jagain ayah Sama bunda," ucap Fateh terakhir kalinya. Sedangkan Afida dan Farhan sudah berada di dalam mobil.
"Hujan. Kalo sakit kita yang repot." Fathan melempar payung berwarna hitam kepada Fateh yang di tangkap dengan mulus oleh Fateh.
"Thanks."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Rintik hujan mulai membasahi baju Kinara. Dari jarak yang lumayan jauh, Kinara memperhatikan Zara.
Saat Zara mengusirnya, Kinara pergi. Namun dia tidak benar-benar pergi. Kinara masih berada di pemakaman.
Saat hujan semakin deras, itu adalah kesempatan Kinara untuk kembali menangis. Kinara duduk di atas rumput, di depan nya entah makam siapa, yang pasti hanya tempat itu yang bisa membuat Kinara melihat Zara dari kejauhan.
Hujan masih deras. Namun Kinara merasa tidak ada lagi air hujan yang membasahinya. Merasa aneh Kinara pun mendongak. Melihat payung berwarna hitam mengahlangi air hujan.
Buru-buru Kinara menghapus air mata nya saat melihat laki-laki jangkung yang tengah memegang payung hitam tersebut.
Laki-laki berkacamata hitam itu pun ikut duduk di samping Kinara. Lumayan dekat, agar keduanya tidak kehujanan.
"Nangis di bawah air hujan sangat menyenangkan," celetuk Fateh tanpa melihat kearah Kinara.
"Kamu boleh menangis Nara. Tapi, jangan lupa untuk kembali tersenyum," ucap Fateh. Kali ini Fateh menatap dalam manik Kinara di balik kacamata hitam nya.
Mendengar kata itu. Kini tanpa malu mata indah Kinara kembali mengeluarkan air matanya. Tangan Kinara yang sudah dingin mulai bergetar.
Fateh menutup payung hitam nya. Kemudian menyerahkan payung tersebut pada Kinara. Kini baju Fateh pun ikut basah kena air hujan.
Kinara menatap Fateh heran yang sedang menyodorkan payung berwarna hitam padanya.
"Katanya. Kalau lagi sedih, yang kita butuhkan itu adalah sebuah pelukan. Saya sadar bahwa saya tidak bisa memeluk kamu Nara. Maka peluk lah payung ini, saya harap ini bisa menghangatkan mu."
Kinara menerima payung tersebut. Awalnya dia ragu untuk memeluk payung tersebut. Namun pada akhirnya Kinara memeluk payung hitam tersebut. Rasanya tidak sehangat sebuah pelukan, namun, itu mampu sedikit menghangatkan tubuh Kinara.
Fateh tersenyum tipis. Mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Air hujan menetes dari pelipis hingga pipinya.
Melihat wajah Fateh dari samping membuat hati Kinara menghangat. Entah kenapa rasa hangat itu menjalar, tanpa Kinara sadari kini tangisnya sudah reda. Tak ada lagi air mata yang keluar dari mata indahnya, pipinya basah karena air hujan.
"Kita boleh berduka. Saya juga sedang berduka, nenek adalah salah satu orang yang saya sangangi di dunia ini," ucap Fateh tiba-tiba nadanya seperti sedang curhat.
"Yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan. Kita harus ikhlas walaupun mungkin suatu saat akan merasakan sebuah kerinduan," tambah Fateh menoleh memandang Kinara dan menatap dalam manik Kinara.
Fateh mengangkat tangan untuk melepaskan kacamata hitam nya. Agar manik nya bisa langsung menatap manik indah Kinara tanpa penghalang apapun.
Mata Fateh sama sembabnya seperti Kinara. Fateh juga sedang merasa kehilangan, sedari tadi cowok itu memakai kacamata untuk menutupi matanya yang sembab.
"Menangis lah Nara jika itu membuat kamu lega. Tapi ingat, jangan lupa kembali tersenyum. Karena senyum kamu sedikit membantu kamu menjadi cantik."
Kinara mengernyitkan dahinya. Merasa tak mengerti dengan perkataan Fateh.
"Maksudnya?"
Fateh terkekeh, "aaah saya lupa. Mau senyum atau nggak kamu tetep cantik bagi saya."
Refleks Kinara memukul bahu Fateh dengan payung yang tengah di peluknya. Fateh meringis menatap Kinara tak percaya dengan apa yang di lakukan nya.
"Bisa-bisa nya nge-gombal di tempat pemakaman kaya gini," sahut Kinara. Mau heran tapi ini Fateh.
Fateh tertawa pelan melihat Kinara yang begitu menggemaskan dimatanya.
"Memangnya kenapa? Tidak ada larangan kan? Toh bagus dong, berarti saya beda dari yang lain," jawab Fateh sembari memegangi bahu nya. Pukulan Kinara lumayan juga, tak kalah dengan pukulan Shakila. Disini Fateh menyimpulkan bahwa wanita memang sama. Hobi mukul.
"Ralat ya. Itu bukan gombalan, itu pernyataan saya," ucap Fateh dengan wajah serius.
"Kamu cantik bagi saya." Fateh kembali mengulangi perkataan nya dengan menatap Kinara begitu dalam.
Di bawah air hujan pipi Kinara merasa hangat. Pipi chubby nya memerah, Kinara menggeleng berkali-kali kemudian menatap lurus ke depan.
Fateh pun sama, setelah mengatakan itu telinga nya memerah. Cowok itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah. Dia yang nge-gombal dia pula yang salting.
Keadaan menjadi hening, tak lama Fateh menyunggingkan senyumnya. Bertemu dengan Kinara dan nengobrol seperti ini membuat hatinya menghangat dan membuatnya sedikit melupakan perasaan sedihnya.
Dalam keadaan hening, Kinara menatap Zara. Merasa aneh karena sedari tadi Zara tidak bergerak sama sekali.
"Kenapa Zara diem aja ya," gumam Kinara yang terdengar oleh Fateh.
Fateh mengikuti arah pandang Kinara. Disana Zara tengkurap memeluk makam bundanya.
"Kayak nya dia pingsan."
Kinara menoleh, "pingsan?"
____________________
Mohon maaf author baru bisa update🙏
Awalnya author ingin double up hari ini, Tapi sepertinya tidak bisa🙏
Doakan ya semoga malam ini bisa update kembali🤗
Semoga kalian suka dengan part yang di penuhi Fateh dengan Kinara ini🤗
Salam peluk online🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Ukhti [END]
Roman pour AdolescentsMuhamad Fateh Fazal, saudara kembar Muhammad Fathan Fazal. Meski kembar mereka memiliki sifat yang bertolak belakang. Fathan lebih kalem dan pendiam sedangkan Fateh lebih pecicilan dan ekspresif. Suatu ketika, Fateh bertemu dengan seorang wanita ber...
![Hi Ukhti [END]](https://img.wattpad.com/cover/241753397-64-k48982.jpg)