Moto hidupnya adalah main serius, belajar juga serius. Satu lagi, ngejar tuan putri juga serius.
Bagi Avraam, Greesa Lavanya Adhitama adalah sosok tuan putri yang cantik dan baik hati. Sedangkan dirinya adalah seorang kesatria yang harus selalu ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
"Wah menarik," ucap Kelvin sembari melihat Oniel yang berjalan meninggalkan mereka.
Baru saja Oniel dan Avraam mendeklarasikan peperangan. Mereka berdua bertarung secara terbuka untuk merebut hati gadis yang Avraam sebut sebagai tuan putri. Dia tidak menyangka kalau Oniel akan menantang Avraam seperti itu.
"Ram, lo kudu buru-buru. Kata gue juga tembak aja udah. Daripada ke duluan sama si artis itu."
"Bentar, gue mikir dulu." Avraam tidak menyangka kalau Oniel begitu terang-terangan. Laki-laki itu berkata kalau dia suka dengan Greesa, dan dia juga berkata akan mengejarnya. Sialan!
"Lo kebanyakan mikir, Ram." Kelvin merasa gemas.
"Denger ya, minggu kemarin gue coba nembak Anya." Saat mereka menangkap boneka di Game Zone, laki-laki itu meminta Greesa untuk menjadi pacarnya.
"Serius lo?"
Avraam mengangguk. "Tapi karena respons dia pasif, jadi gue bilang itu bercanda."
"Lah, lo pengecut banget, Ram."
"Gue enggak mau hubungan gue sama Anya jadi renggang." Jika Greesa saat itu menolaknya, maka hubungan mereka akan menjadi canggung dan berakhir dengan Greesa yang menghindarinya.
"Ram, kali ini saingan lo enggak main-main. Dia artis."
"Terus kenapa, emangnya gue enggak lebih baik dari si Oniel?" Avraam sedikit kesal dengan ucapan Kelvin, yang membuatnya merasa seolah-olah Oniel lebih baik daripada dirinya.
"Bukan gitu. Kalau lo enggak maju, lo bakal kalah start sama si Oniel. Perasaan orang enggak ada yang tau, Ram."
"Gue perlu waktu, Vin. Gue pengennya Anya suka dulu sama gue, baru gue tembak."
"Ram, gue kasih tau, ya. Lo itu kebanyakan mikir, mikirin strategi, mikirin hasil. Sekarang pusing, kan, dapet saingan kayak si Oniel."
Avraam diam, dia tidak tau harus menjawab apa.
"Gue cuman takut lo nyesel, gara-gara kebanyakan mikir dan akhirnya malah kehilangan momentum."
"Gue-" Ucapan Avraam terhenti, saat mendengar seseorang menyebut namanya. Orang itu adalah Pak Jajang.