Moto hidupnya adalah main serius, belajar juga serius. Satu lagi, ngejar tuan putri juga serius.
Bagi Avraam, Greesa Lavanya Adhitama adalah sosok tuan putri yang cantik dan baik hati. Sedangkan dirinya adalah seorang kesatria yang harus selalu ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Semalaman Avraam sudah mencari informasi mengenai Pegadaian di internet. Kini dia sedang menunggu giliran, karena sekarang hari sabtu Pegadaian cukup ramai. Ternyata banyak juga yang perlu uang mendesak, dia melihat ada seorang ibu muda yang hamil besar, duduk tak jauh darinya. Dia bisa melihat ibu itu memegang plastik berisi perhiasan, walau tidak terlalu jelas, tetapi cukup yakin.
Ada juga seorang bapak-bapak yang memegang BPKB motor. Apa akhir-akhir ini banyak orang yang kesulitan ekonomi? Dia jadi ingat saat kedua orang tuanya yang bercerai, lalu meninggalkannya bersama kakak perempuannya. Saat itu dia benar-benar merasakan sulitnya hidup.
Rania harus mencari uang, padahal saat itu dia baru lulus SMA, sedangkan dia masih kelas tiga SD. Mantan orang tuanya saat itu meninggalkan mereka di rumah yang sekarang dia tempati, tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengasuh mereka, padahal seingatnya hak asuh di menangkan oleh ibunya.
Setiap mengingat masalah itu dia selalu marah. Karena itulah dia berusaha keras untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, salah satunya dalam pelajaran. Dia ingin sukses, seperti kakaknya. Lalu membuat kedua orang itu, serta keluarga yang lain menyesal, karena sudah memperlakukan mereka dengan buruk.
Sekarang saja, banyak orang-orang yang mengaku keluarga terkadang datang lalu meminjam uang, atau meminta kakaknya untuk menjadikan anak-anaknya sebagai artis. Sangat tidak tau diri!
Kakak perempuannya selalu membantu mereka, karena ingin menjaga reputasinya. Padahal setelahnya dia selalu mengomel dan marah-marah. Tetapi dia juga mengerti, keluarganya bisa saja mengatakan hal yang tidak-tidak jika mereka tidak mendapatkan bantuan dari kakaknya. Memang sialan!
Sebuah tepukan menyadarkannya. "Dek, nomor 19, kan? Itu dipanggil," ucap pria yang duduk di sampingnya.
"Ah, iya. Makasih, Pak. Tadi saya ngelamun." Pria itu mengangguk dan tersenyum, lalu Avraam membalasnya.
Avraam berjalan ke meja petugas, dia memeluk kardus berisi PS5 kesayangannya. Dia memilih ini, karena jika benda ini tidak ada di rumah, Rania tidak akan terlalu menyadarinya, dan dia bisa beralasan kalau PS miliknya sedang dipinjam Kelvin.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas perempuan yang duduk di hadapannya. Avraam melihat nama pada nametag yang terpasang pada pakaian petugas di hadapannya. Namanya, Hera.