Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam akhirnya Lisa bisa melihat palang pintas di depan sebuah area perumahan mewah. Saat melihat mobil Elvano mendekat tampak seorang satpam memencet sesuatu agar palang itu bisa naik.
Elvano terus menjalankan mobilnya, tak lama ia juga melihat pagar dengan tinggi menjulang, hingga menutupi rumah lantai satu yang ada didalamnya. Dari luar hanya terlihat lantai kedua rumah itu. Elvano menghentikan mobilnya dan memencet klakson dua kali.
"ini rumah kamu?" tanya Lisa yang dijawab anggukan El.
Setelah itu pagar rumah itu bergeser, tepatnya digeser oleh seorang satpam dari dalam. Elvano melajukan lagi mobilnya ke halaman rumah itu. Lisa ternganga melihat rumah didepannya. Rumah itu bahkan lebih mewah dari rumah Jennie. Kenapa Lisa membandingan dengan rumah Jennie? Karena selama ini orang yang dia kenal memiliki rumah yang luar biasa mewah adalah Jennie tentu saja.
Tapi rumah ini bahkan mungkin lebih besar dua kali lipat dari rumah Jennie. Lisa terus membelalakan matanya. Jarak dari pagar depan dengan teras rumahnya mungkin seukuran lapangan sepak bola. Lisa mendengus, ia berpikir pantas saja Elvano dengan mudah menggelontorkan dana 100 milyar untuk perusahaan hampir bangkrut milik ayahnya.
Akhirnya mobil itu berhenti didepan teras rumah besar itu. Terlihat beberapa orang dengan seragam khas maid menyambut mereka. Elvano turun terlebih dahulu dari mobil. Lalu tak lama pintu disamping Lisa terbuka.
"ayo" El mengulurkan tangannya, dengan kikuk Lisa menyambut dan menggenggam tangan El.
Mereka berdua pun naik ke atas teras rumah itu. Dan Elvano mulai memperkenalkan Lisa.
"nah, jadi ini istri saya Lisa" ujar El memulai. Lisa dapat melihat bagaimana senyum bahagia mereka "dan Lisa mereka ini para assisten rumah ini"
"halo" Lisa tetap merasa gugup.
"duh pak, cantik banget istri bapak ini" ujar seorang wanita dengan rambut dikepang.
"Lisa, ini bi Layla. Beliau kepala dapur" El memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang memakai daster, terlihat hanya bi Layla ini yang tidak mengenakan seragam seperti yang lainnya.
"salam kenal bi" Lisa mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh bi Layla.
"salam kenal bu, selamat datang dirumah ini" ujar Layla dengan senyum keibuannya.
"panggil saya Lisa aja bi"
"loh, tapi kan ibu nyonya rumah ini masa saya lancang panggil nama"
"ga apa-apa bi, aku lebih nyaman dipanggil Lisa sama bibi"
"gimana kalau saya panggil neng Lisa aja?"
"iya bi, dipanggil mba Lisa juga ga apa-apa" Lisa menyetujui dengan sumringah.
"nah mba, kalau ini namanya Susi" Layla memperkenalkan wanita dengan kepang satu tadi.
"salam kenal bu" ujar Susi.
"aduh, jangan panggil ibu dong" Lisa menutup kuping dengan telapak tangannya membuat yang lain terkekeh "buat yang lain panggil mba Lisa aja juga"
"baik mba" Susi menyetujui.
"kalau yang ini Fina mba" Layla mempekenalkan wanita dengan rambut sebahu.
"halo mba Lisa, saya Fina" Fina mengulurkan tangannya yang segera disambut Lisa.
"kalau yang kembar dua ini namanya Hana dan Hani" Lisa baru menyadari mereka kembar, hanya saja yang satu berambut pendek seperti anak laki-laki yang satu lagi tampak feminim dengan rambut diikat tinggi.
"halo mba, saya Hani" ujar si rambut pendek
"saya Hana mba. Ga susah kan mba bedainnya? Kalau yang cantik pokoknya Hana, kalau yang buluk itu Hani berarti" Lisa tertawa melihat kecentilan Hana yang dibalas toyoran dikepala oleh saudarinya.
"yang ini pengurus kebun namanya pak Yanto suaminya bi Layla" El memperkenalkan seorang lelaki paruh baya yang mengenakan kemeja lengan pendek.
"semoga betah dirumah ini ya mba"
"makasih pak"
"yang ini Rahman, supir saya" ujar El lagi. Kali ini memperkenalkan seorang pria yang mungkin seumuran El.
" yang ini Hendra dan Gema, satpam kita" Lisa pun kembali menyambut uluran tangan mereka.
Jika dijumlah ada 9 orang karyawan dirumah ini. 5 wanita dan 4 pria. Sepertinya memang memerlukan assiten sebanyak itu untuk rumah yang sebesar ini.
"mba ayo kita masuk, bibi sudah siapin makan siang"
"iya mba, ayo. Bu Layla udah nyiapin makanan andalannya" ujar Hana dengan semangat.
Lisa pun masuk kedalam rumah itu. Dekorasi dan furniture yang ada didalam rumah kembali membuat Lisa takjub. Lisa yakin furniture yang ada dirumah itu tidak main-main harganya walau semua barang terlihat simple dengan warna netral mendominasi. Dekorasi, tata letak barang, serta warna cat mampu membuat rumah itu terlihat megah tapi juga terasa hangat.
"kamu tinggal sendiri mas?" bisik Lisa. Melihat warna yang mendominasi adalah abu-abu, putih, hitam, dan beige sepertinya tidak ada campur tangan wanita untuk rumah ini.
"engga" jawab El singkat.
"hah?"
"ga sendiri, kan ada mereka juga" tunjuk El pada para assisten rumah tangganya.
"ih, bukan" gemas Lisa "maksud aku, ada keluarga kamu yang lain ga?"
"ga ada"
"ayo mba, silahkan duduk" Bi Layla menginterupsi saat mereka sudah sampai di meja makan.
Meja makan itu berbentuk persegi panjang dengan 5 kursi di sisi samping kanan dan kiri serta 1 kursi di masing-masing ujung meja, dengan total 12 kursi. Berbagai hidangan telah disiapkan dan semua tampak lezat.
"waaah, bi Layla kayanya jago masak ya" puji Lisa.
"jago banget mba. Mba Lisa bisa request apa aja sama bi Layla" sahut Fina.
"beneran bi?" tanya Lisa antusias.
"engga kok mba. Fina lebay itu" jawab bi Layla malu-malu.
Elvano duduk di kursi ujung meja dan setelah itu Lisa duduk disamping kanannya. Tapi Lisa bingung ketika melihat bi Layla ingin masuk ke dapur.
"loh? Mau kemana bi? Ayo kesini makan bareng-bareng" ajak Lisa.
"ga usah mba, kita makan nanti aja"
"ih jangan dong, ini makanannya banyak. Ayo duduk semuanya, panggil pak Rahman, pak Hendra sama Gema juga"
Susi, Fina, Hana dan Hani saling melirik, ada rasa tak enak hati yang ditangkap Lisa dari mereka.
"kita makan bareng ga apa-apa kan?" tanya Lisa pada El.
"mereka ga enaknya sama kamu, kalau sama saya sering kok makan bareng" ujar El santai.
"kok ga enak sama aku? ayo dong kita makan sama-sama." Ajak Lisa sekali lagi.
Akhirnya bi Layla menarik tangan pak Yanto lalu duduk disebrang Lisa. Sedangkan Fina, Susi dan Hana duduk disebelah Lisa. Hani berinisiatif untuk memanggil yang masih diluar.
Makan siang pada hari itu terasa menyenangkan untuk Lisa. Obrolan ringan, candaan membuat Lisa tahu bahwa ia tak akan kesepian disini. Sedangkan Elvano terus menatap Lisa, ia senang melihat istrinya itu banyak tersenyum setibanya disini.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
EL & AL
RomanceLisa memiliki pilihan untuk menuruti perjodohan ini atau menolaknya. Ayahnya bukan tipe pemaksa, ia menyerahkan keputusan pada Lisa. Tentu saja Lisa ingin menolak, banyak alasan untuk menolak, pertama mereka baru sekali bertemu dan pertemuan itu tid...
