*40*

229 40 0
                                        

Siang itu cukup cerah cenderung panas saat Lisa sedang berdiskusi dengan ketua acara yang sedang ia garap. Sambil berjalan di lorong universitas itu Lisa membahas beberapa hal yang diperlukan.

"jadi lo acc ya kak kita pakai yang ini?" tanya Lisa kembali memastikan.

"iya. Ini udah harga yang bagus kok. Pakai yang ini aja, jangan cari pilihan lain lagi biar kalian bisa move untuk kerjaan yang lainnya" ujar Varen, ketua Bem yang dipercaya sebagai ketua acara.

"oke nanti gue bilang sama tim"

"ada yang mau ditanyain lagi ga?"

"udah kayanya. Nanti gue chat aja kalau ada lagi"

"ya udah kalau gitu gue duluan ya, ada kelas lagi soalnya" pamit Varen.

Mereka pun berpisah di persimpangan lorong. Lisa merapikan beberapa kertas yang tadi ia bahas dengan Varen saat tiba-tiba seseorang menarik lengannya cukup keras. Saat berbalik Lisa mendapati Nabilla, sahabat Arvin, dan antek-anteknya.

"heh!"

"apa?" jawab Lisa malas, merasa memang tidak perlu sopan santun dengan kakak tingkatnya itu.

"lo kenapa putus sama Arvin?"

"hah?" demi tuhan, Lisa dan Arvin sudah putus dari 4 bulan yang lalu dan perempuan ini menanyakannya sekarang? "kenapa emangnya?"

"ya pengen tau aja kenapa? Cowo sempurna kaya Arvin bisa lo buang gitu aja"

"kayanya bukan urusan lo deh, ya kan?"

"gue nanya baik-baik ya anjir!"

"yang kaya gini lo nanya baik-baik?" sarkas Lisa "tapi gue ga pengen ngasih tau tuh. Lagi, bukannya lo harusnya seneng ya kalau gue putus sama kak Arvin? Pepet dah tuh, usaha biar bisa suka sama lo"

"kurang ajar!" Nabilla mendorong Lisa kasar, yang di dorong terpental pada tembok.

"emang iya kan? Lo benci gue karna kak Arvin sukanya sama gue bukan sama lo. Jadi setelah putus, sana usaha. Biar lo ga bisanya cuma musuhin to be soon pacarnya kak Arvin"

"DIEM LO ANJING!" teriak Nabilla dengan wajah memerah.

"WOOOYY!!" teriak seseorang dari jauh.

"apaan nih, ngeroyok temen gue" Clafita segera berlari mendahului Jennie dan Ochie mengampiri Lisa.

"jangan ikut campur ya lo pada"

"weh, ga bisa boss. Urusan Lisa urusan kita juga" kali ini Ochie yang bersuara.

"lagian ini kampus ya, sifat preman pasar kalian disimpan dulu bisa?" Jennie menambahkan.

Tanpa banyak suara Nabilla segera pergi diikuti oleh teman-temannya.

"lo diapain Lice?" tanya Ochie.

"ga diapa-apain kok"

"emang tuh kunti kenapa? Keliatan kaya marah banget?" Clafita penasaran.

"ga tau tuh, datang-datang nanya kenapa gue putus"

"terus lo bilang apa?"

"ya gue bilang bukan urusan dia dan mendingan usaha aja biar jadi pacarnya Arvin daripada musuhin pacarnya"

"bagus bagus. Jangan mau lagi lo diem. Kemaren-kemaren lo udah ga ngelawan karna ngeliat dia sebagai temennya Arvin. Jadi sekarang ga ada alasan lagi buat ga ngelawan" titah Clafita.

"ya udah, ayo. Gue laper" ujar Ochie sambil menggandeng Lisa membawanya ke kantin kampus itu.

*****

Lisa segera memasukkan ponsel, tablet dan laptopnya saat mobil yang membawanya sudah memasuki area halaman depan rumahnya. Di depan pintu di pelataran rumahnya ia melihat Elvano yang sudah menunggunya.

EL & ALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang