Beberapa hari berlalu sejak Lisa mengantar makan siang ke kantor suaminya yang berujung kekecewaan. Elvano sudah tak pernah lagi menginap di kantornya, ia selalu pulang walaupun larut malam.
Hubungan mereka sudah tak seperti suami istri pada umumnya, jangankan canda tawa atau obrolan penuh kasih bahkan bertegur sapa aja tidak. Elvano pulang saat Lisa sudah tertidur, bahkan jika Lisa bangun pun pria itu seolah tak melihat kehadiran istrinya itu. Ia juga tak lagi tidur di kamarnya. Elvano masuk kamar hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Selanjutnya ia akan masuk ruang kerjanya dan memilih tidur di sofa ruangan itu.
Lisa merasa akan sia-sia saja jika ia terus berusaha untuk memperbaiki semuanya saat ia belum ada bukti apapun. Jadi ia hanya mengikuti permainan Elvano. Jennie sudah mengabari bahwa salah satu sepupunya tahu tentang perusahaan tempat paman Arvin bekerja. Beruntungnya sepupu Jennie itu berteman dengan salah satu karyawan personalia disana dan ia akan membantu untuk menanyakan Arvin disana.
Sudah pukul 10 malam saat Lisa masih berkutat dengan laptopnya di atas tempat tidur. Kenop tiba-tiba berputar lalu pintu terbuka, menampilkan Elvano disana. Mata mereka bertatapan selama beberapa detik. Pria itu akhirnya memutus tatapan mereka, berjalan masuk sambil mengeluarkan ponsel yang ia taruh diatas nakas samping lampu tidur.
Lisa hanya melihat dari ekor matanya saat Elvano masuk ke dalam kamar mandi. Tak selang beberapa lama ponsel di atas nakas bergetar sedang sang pemilik belum keluar dari kamar mandi. Lisa tergelitik untuk menengok dan mendapati 'Rere' sebagai pemanggil.
Rasa sesak menyeruak masuk ke dalam diri Lisa. Ini sudah jam 11 malam, kenapa wanita itu menelpon semalam ini? Ia hanya diam memandang ponsel yang masih bergetar itu, tak berniat mematikan atau mengangkat panggilan sampai akhirnya muncul notif sebagai panggilan tak terjawab.
Ting. Bunyi pesan masuk, ponsel Elvano sekali lagi menyala dan menampilkan pop up pesan.
Rere
El kamu dimana? Aku tunggu di hotel ya.
Sebaris pesan itu semakin membuat Lisa hancur, tapi meski begitu tak ada air mata yang keluar, hanya sesak dan pusing yang membuatnya kebingungan.
Elvano keluar dari kamar mandi dan langsung masuk ke walk in closet kamar itu. Lisa masih berdiam diri dan mencoba menenangkan dirinya. Sekitar 10 menit kemudian Elvano keluar dari walk in closet dengan pakaian rapi. Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan yang masuk.
Pria itu memasukkan ponsel pada saku celananya lalu akan berjalan keluar saat tiba-tiba wanita yang sedari tadi diam saja itu menarik ujung bajunya.
"jangan pergi" ujar Lisa dengan nada bergetar tanpa menatapnya.
Elvano kebingungan dengan tingkah Lisa. Ia mencoba melepaskan tangan itu dari bajunya, tapi justru genggaman itu semakin kuat.
"jangan pergi mas" Lisa akhirnya menoleh menatap suaminya itu, air mata yang ia tahan pun jatuh "jangan pergi kemana-mana"
Ck. Elvano berdecak, bingung dengan tingkah Lisa "kamu kenapa sih Sa?"
"aku bilang jangan pergi mas, jangan keluar. Ganti baju kamu, ayo kita tidur" ujar Lisa dengan suara perlahan namun tegas.
"waktu kamu keluar dengan laki-laki itu, kamu minta ijin sama aku?" tanya El memandang tajam, seolah hatinya membatu, tak ada rasa kasihan sedikit pun.
Mendapat sahutan seperti itu, tangan yang tadi menggenggam baju Elvano pun terkulai. Membuat pria itu dengan leluasa melenggang keluar setelah menutup pintu dengan keras.
Tak ada suara, tak ada sesegukan, air mata Lisa keluar begitu saja tanpa ia bisa mengontrolnya. Lisa menggigit bibirnya keras, mengalihkan rasa sakit dalam dadanya. Sampai ia merasakan rasa asin darah pada bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EL & AL
RomanceLisa memiliki pilihan untuk menuruti perjodohan ini atau menolaknya. Ayahnya bukan tipe pemaksa, ia menyerahkan keputusan pada Lisa. Tentu saja Lisa ingin menolak, banyak alasan untuk menolak, pertama mereka baru sekali bertemu dan pertemuan itu tid...
