*69*

187 37 4
                                        

Sesampainya di rumah, Elvano dengan terburu keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Dengan nafas yang masih terengah-engah yang ia dapati justru Lisa yang kini turun melalui tangga rumahnya dengan sebuah koper yang ia jinjing dengan agak susah payah.

Lisa yang melihat Elvano, menelan ludahnya gugup. Ia dengan segera menuruni anak tangga bersamaan dengan El yang berjalan cepat ke arahnya.

"Sa" sapa Elvano, lalu melihat ke arah koper itu "kamu mau kemana?"

"kamu udah tau semuanya kan?" tak menjawab pertanyaan Elvano, Lisa justru memberi pertanyaan lain.

"ya" Elvano tercekat "aku udah tau semuanya. Ayo kita omongin ini"

"aku rasa....ga ada yang perlu kita omongin lagi" Lisa menatap tepat ke mata Elvano "aku mau pulang"

"pulang? Pulang kemana Sa? ini rumah kamu" panik El.

"bukan" Lisa menggeleng "ini bukan lagi rumah aku"

"maksud kamu apa Sa? ini rumah kamu. Ayo kita omongin baik-baik dulu. kita bisa....."

"aku mau cerai" ucap Lisa tegas.

Seperti mendapatkan sambaran petir yang kuat tepat di atas kepalanya, Elvano menggeleng panik.

"jangan main-main dengan kata itu Sa" ujar El kosong, meraih tangan Lisa untuk ia genggam.

"kamu tau dengan jelas aku ga main-main" Lisa menarik tangannya lalu menggenggam erat pegangan pada kopernya.

"Sa, tolong. Maafin aku, aku minta maaf Sa"

"aku yang minta maaf mas, aku yang dari awal membuat masalah ini ada. Tapi...yang ga aku sangka adalah respon kamu terhadap masalah. Dalam rumah tangga akan selalu ada masalah mas, kita hidup bersama seumur hidup, tentu ada masalah. Tapi bukannya kita harusnya nyari solusi bersama? Mencari jalan keluarnya bersama? Kenapa yang kamu lakuin justru mencari cara membalas aku?" air mata Lisa akhirnya meleleh lagi begitu pula Elvano kini yang di hinggapi rasa bersalah yang besar.

"kamu bahkan ga bisa mendengar penjelasan aku. Dan yang paling mengerikan adalah kamu ga bisa percaya sama aku" nafas Lisa semakin sesak seiring dengan air matanya yang kian deras "kamu memberi semuanya mas untuk aku, tapi kamu ga ngasih kepercayaan kamu"

"maaf Lisa, maafkan aku" Elvano memeluk Lisa, mengurung Lisa dalam pelukannya. Hatinya terluka mendengar tangis pilu dari wanita yang dicintainya ini. Dibutakan oleh rasa cemburu, Elvano tanpa sadar membuat membuat Lisa hancur.

"aku maafin kamu mas" Lisa mendorong pelan, keluar dari pelukan nyaman suaminya itu "tapi aku ga bisa lagi sama kamu"

"Lisa tolong..tolong" air mata Elvano semakin tak terkendali mendengar putusan final itu. Dapat ia lihat tekat dari mata wanita yang kini berdiri dengan tegak di hadapannya.

"kita akan terus saling menyakiti kalau terus sama-sama"

"kasih aku satu kesempatan lagi Sa, tolong Sa"

"Dek" panggil seseorang dari arah ruang tamu. Laki-laki itu berjalan ke arah mereka dan mengambil alih koper yang di pegang Lisa.

"Fandy, tolong jangan bawa Lisa" mohon Elvano.

"Elvano cukup! Gua ga akan ngebiarin lo nyakitin Lisa lagi" ancam Fandy pada Elvano "kalau bukan karena Lisa, udah gue hajar lo sekarang"

"ayo" Fandy meraih tangan Lisa lalu menariknya ke arah luar rumah.

"Sa tolong. Jangan tinggalin aku"

Lisa segera masuk ke dalam mobil di bagian samping pengemudi. Elvano terus memohon dengan wajah frustasi.

EL & ALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang