Satu jam berkendara Lisa dan Clafita memasuki komplek perumahan yang cukup sepi. Mereka sedang menuju rumah Gema, rumah yang beberapa kali pernah Lisa datangi saat masih bersama Arvin dulu.
"kak"
"hm?"
"kok lo tiba-tiba datang ke rumah gue pagi ini? Kaya udah tau gue butuh seseorang?" tanya Lisa. Tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Kenapa Clafita datang di waktu yang sangat tepat.
Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Lisa, Clafita terdiam sejenak. Bimbang antara ingin menceritakan yang sebenarnya atau tetap menutupinya.
"kak" panggil Lisa lagi saat tak ada sahutan dari Cla.
"Ari" ujar Cla tiba-tiba.
"apa?" Lisa bingung.
"Ari yang bilang"
"Ari?" Clafita mengangguk.
"Ari bilang sama gue kalau tadi malam dia minum-minum sama El, Jo dan Jesper terus ada si beruk juga. Dia bilang dia pulang duluan dan tadi pagi dia ditelpon sama Jo kalau kayanya El pulang sama si beruk. Gue cuma mau mastiin El pulang atau engga, eh liat lo malah nangis-nangis gitu" jelas Cla tanpa sadar membuat Lisa kebingungan.
"lo lagi deket sama Ari?" mengabaikan penjelasan Cla Lisa justru penasaran dengan hal itu "sejak kapan?"
"deket as a friend"
"sejak kapan?" ulang Lisa.
"lo inget waktu dia anter gue?"
"yang waktu gue di Korea?" tanya Lisa mengingat-ingat dan mendapat anggukan dari Cla "terus? Kok bisa deket?"
"dia anter gue ke apart, dan sesampainya di apart gue muntah-muntah parah, demam juga. Dia bantu gue bersihin muntahan yang kena badan, ngompres gue dan jaga gue sampai pagi karena katanya takut ada apa-apa sama gue" cerita Clafita.
"terus terus?" Lisa penasaran ia bertanya dengan penuh senyuman. Sudah lama sahabatnya ini tak pernah bercerita tentang laki-laki apalagi sambil tersenyum malu seperti ini.
"sampai gue bangun dia tetap stay. Dia juga nyiapin bubur yang dia bikin sendiri buat ilangin sober gue. Sebagai ucapan terima kasih gue minta kontak dia buat traktir makan gitu lah"
"terus kalian makan bareng?"
"dinner bareng"
"uuuuwww" Lisa memukul-mukul lengan Clafita gemas "terus terus?"
"ya gitu, abis dinner bareng ngalir gitu aja kita jadi sering chat, telpon, VC. I think he's a good man dan gentle juga. Kalau dia laki-laki brengsek bisa aja malam itu dia bungkus gue, tapi dia justru jagain sampai pagi"
"aaaawwww" Lisa semakin gemas sambil menutup wajah.
"bagus, bagus. Kalau sama Ari gue setuju tuh. Kata El Ari emang pucek boy, tapi dia ga pernah ngelakuin kalau bukan sama-sama setuju. Cocok sama lo kak"
"anjir lah!" Lisa dan Clafita pun tertawa bersamaan.
"yang mana rumahnya Lice?" ujar Cla.
"eh, yang itu yang pagar rumahnya hitam" Lisa menunjuk salah satu rumah disana.
Clafita memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah yang Lisa tunjuk tadi. Keduanya keluar dari mobil. Lisa memencet bel yang ada di pinggir pagar rumah. Tak lama menunggu seseorang keluar dari rumah itu, orang yang memang Lisa cari. Gema segera membuka pagar mengenali siapa yang bertamu kerumahnya.
"Lisa?" ujar Gema bingung "ayo masuk" Lisa dan Clafita mengekor Gema untuk masuk ke halaman rumah.
"kak disini aja, gue cuma mau ngomong bentar kok" ujar Lisa saat tiba di pelataran rumah Gema.
KAMU SEDANG MEMBACA
EL & AL
RomanceLisa memiliki pilihan untuk menuruti perjodohan ini atau menolaknya. Ayahnya bukan tipe pemaksa, ia menyerahkan keputusan pada Lisa. Tentu saja Lisa ingin menolak, banyak alasan untuk menolak, pertama mereka baru sekali bertemu dan pertemuan itu tid...
