Pagi yang cerah cenderung terik, untungnya ruangan Lisa berada sekarang memiliki pendingin yang banyak. Ia menuang biji kopi pada mesin kopi yang cukup besar di hadapannya.
"bagi saya double shoot ice americano Lisa" ujar seorang laki-laki yang tiba-tiba sudah berada di depannya, lebih tepatnya di depan meja pembatas.
"take away?" tanya Lisa.
"ye, macam biase"
"sekejap eh"
Lisa membuatkan kopi sesuai pesanan salah satu pelanggan tetapnya ini. Tak sampai 5 menit kopi hitam dengan es batu itu sudah siap. Lisa menutup gelas kopi yang terbuat dari plastik itu lalu menyerahkannya dan ia menerima satu lembar uang kertas.
"thank you"
"have a good day" sahut Lisa dengan senyumnya.
Wanita dengan apron coklat itu kembali duduk pada kursi yang tersedia saat kembali tak ada pelanggan. Ia mengambil ponselnya, foto keluarga yang menjadi wallpaper membuat rindunya menyeruak.
Satu tahun sudah Lisa melarikan diri ke negara ini. Satu tahun itu pula ia bertukar kabar dengan keluarga juga teman-temannya hanya melalui chat atau telepon.
Ya, Lisa melarikan diri. Setelah bertemu Elvano pada hari itu, ia meminta pada sang ayah untuk mendatangi om Bayu. Saudara ayahnya yang bertempat tinggal di Brunei. Karena Lisa tak tahan, ia takut akan luluh lagi melihat bagaimana Elvano begitu teguh untuk mengajaknya kembali.
Mengantongi restu dari sang ayah juga persetujuan om Bayu dan keluarganya, akhirnya Lisa memutuskan untuk pergi. Mencoba menyembuhkan diri, meninggalkan lukanya. Tak ingin berdiam diri, ia memutuskan untuk bekerja di cafe kecil di pinggir jalan untuk mengisi harinya.
Lisa menyukai tempat barunya ini, berinteraksi dengan orang lain mengisi energi sosial Lisa. Ia dengan cepat bisa akrab dengan pelanggan-pelanggan cafe itu. Tapi sebesar apapun Lisa menyukai tempat ini, ia juga merindukan rumahnya, merindukan keluarganya, merindukan teman-temannya, dan....merindukan laki-laki itu.
Lisa tak tahu kabarnya sekarang. Keluarga maupun teman-temannya sama sekali tidak membahasnya, tahu kalau Lisa mungkin akan teringat dan bersedih kembali. Mereka mungkin menyangka ia telah melupakan laki-laki itu. Tapi jauh dalam hati kecilnya, masih ada tempat untuk memikirkannya.
Jadi, Lisa akhirnya memutuskan untuk pulang. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja karena ia sudah memesan tiket pesawat untuk besok. Perpisahan dengan teman-temannya di cafe membuat Lisa menitikkan airmata. Ia bertemu orang-orang baik disini.
"jangan lupakan kite orang eh Lisa" ujar salah satu temannya.
"takkan" Lisa memeluk teman-temannya "will miss you guys"
*****
Koper yang berada ditangannya ia lepaskan utk membalas lambaian tangan dari ayah dan ibunya. Lisa dengan segera berlari sambil menarik koper itu dan menghambur memeluk sang ayah.
"ayaaaahhh" Lisa segera memeluk erat pria yang terlihat semakin tua itu. Selesai dengan sang ayah ia beralih pada ibunya.
"ibuuuuuu. Lisa kangeenn" Lisa menggoyang-goyangkan tubuh ibunya itu.
"ibu juga kangen sayang"
"satu tahun ga ketemu makin cantik aja ini ibu aku" goda Lisa.
"halah, udah ayo pulang"
Lisa dan ayahnya tertawa melihat sang ibu yang mengomel. Ia pun menggandeng tangan sang ibu menuju ke mobil mereka yang terparkir.
Sepanjang jalan Lisa melihat jalanan Jakarta yang siang itu cukup macet. Meski begitu senyumnya tak lepas dari wajah, ia benar-benar merindukan rumahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EL & AL
RomanceLisa memiliki pilihan untuk menuruti perjodohan ini atau menolaknya. Ayahnya bukan tipe pemaksa, ia menyerahkan keputusan pada Lisa. Tentu saja Lisa ingin menolak, banyak alasan untuk menolak, pertama mereka baru sekali bertemu dan pertemuan itu tid...
