*32*

196 35 0
                                    

Lisa menganga, terpaku di depan pintu rumahnya tak lupa matanya juga membelalak. Ia melihat pak Heri yang tersenyum menunggu disamping mobil yang sudah menyala. Tapi bukan pak Heri masalahnya. Masalahnya adalah mobil disamping pak Heri. Lisa memang tidak mengetahui apa-apa tentang mobil. Tapi jelas Lisa tahu kalau mobil disamping pak Heri adalah mobil mewah, mobil mahal. Lisa sebelumnya hanya memakai Daihatsu Ayla, mobil LCGC kecil yang mudah dibawa kemanapun itupun warisan dari Dian, kakaknya. Sedangkan mobil di samping pak Heri itu adalah Alphard, siapa memangnya yang tidak tahu mobil mewah itu.

"mas, itu mobil siapa yang pakai?" tanya Lisa memastikan.

"yang hitam kamu, mobil saya yang biru disana" jawab El. Lisa kembali menoleh. Ya betul ada mobil lain disana berwarna biru, dengan hidung besar, ah! Lisa ingat, itu BMW. Merk mobil yang sangat disukai Jennie. Tunggu!

"Mas!" El cukup terkejut "jangan bercanda dong. Ya kali, sebelumnya aku pakai LCGC langsung lompat pakai alphard. Mas pengen aku digosipin jadi ani-ani?!"

"saya pilihin kamu mobil yang nyaman Sa"

"engga, ga mau! Aku mau order ojek aja" Lisa bersiap mengeluarkan ponselnya.

"ya udah ya udah, ayo kamu pilih sendiri aja mau mobil yang mana" Elvano pun menarik tangan Lisa dan membawanya ke garasi yang Lisa lihat di hari pertama ia sampai rumah ini.

Sesampainya di garasi Lisa kembali menganga, benar yang Hana bilang. Elvano memang memiliki koleksi mobil, tepatnya mobil mewah dan juga ada beberapa motor sport di pojok sana. Lisa menelusuri garasi, mencoba mencari mobil biasa yang membuatnya tidak mencolok di kampus tapi nihil. Tak ada mobil biasa didalam garasi ini.

"mas aku pakai grab aja deh ya" Lisa merengek.

"kamu mau perjanjian kita batal?" ancam El.

"mas coba deh ngertiin aku. Aku datang pakai supir aja pasti banyak yang bingung apalagi pakai mobil itu" Lisa menunjuk alphardnya "aku tuh bisa aja mas tutup telinga, tapi kak Jennie sama kak Cla itu kesabarannya setipis tisu. Aku yang digibahin tapi mereka ga akan diam aja. Aku ga pengen temen-temen aku ribut gara-gara aku" Lisa memegang lengan El mencoba membujuk.

Elvano tersenyum melihat istrinya itu mencoba membujuknya. Ia mengusap kepala Lisa mencoba menenangkan. Lalu menariknya menuju ujung garasi.

"ya udah, pakai yang ini aja ya?" Elvano menunjukkan sebuah mobil, dibelakangnya terlihat tulisan CX 5 "mobil gini kan banyak yang pakai, ga kelihatan mewah juga tapi tetap cukup nyaman buat kamu"

Lisa mengelilingi mobil itu memperhatikan. Berwarna abu-abu, ya ini mobil yang paling tidak mencolok menurutnya.

"oke" Lisa tersenyum senang.

"pak, yang itu balikin ya, istri saya mau pakai yang ini?" El memberi titah. Pak Heri yang sedari tadi diam melihat perdebatan kecil suami istri itu pun menurut.

*****

Lisa telah sampai, di kampusnya sudah cukup ramai orang dan terlihat banyak mahasiswa ospek yang sedang berbaris di lapangan.

"pak, nanti saya telepon kalau saya udah mau pulang ya?" Ujar Lisa, tadi ia sudah meminta nomor ponsel milik pak Heri.

"siap mba"

Pak Heri segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Lisa. Keluar mobil Lisa mengabaikan beberapa tatapan yang tertuju padanya. Tak banyak mahasiswa yang membawa supir di universitas ini.

"LISA!!!" Lisa terkejut lalu menoleh, untuk mendapati Ochi sedang nyengir padanya. Lalu Ochi menoleh pada parkiran tempat Lisa keluar sebelumnya, dan mendapati pak Heri yang masuk kembali ke dalam mobil "siapa Lice?"

"pak Heri" Lisa pun berjalan menuju kelasnya.

"pak Heri siapa?"

"supir buat gue dari El"

"WIIIIH, enak betul jadi istri orang kaya!!" seru Ochi membuat Lisa segera menutup mulut besar temannya itu.

"umumin aja sekalian chi" geram Lisa sambil melepaskan tangannya. Ochi hanya tertawa-tawa mendapati Lisa yang panik.

"jadi gimana gimana? Gimana rasanya jadi seorang istri pak Elvano?" tanya Ochi jahil.

"ga enak!" ketus Lisa.

"masa sih ga enak? Pak Elvano itu kan royal banget orangnya apalagi sama istri sendiri kan?"

"ya royal sih royal, tapi nyebelin banget. Bikin emosi sama darah tinggi terus" kesal Lisa.

"itu mah caper kali"

"siapa yang caper?" tiba-tiba Clafita sudah ada disamping Lisa.

"kak Jennie mana kak?" tanya Lisa mencoba mengalihkan.

"belum datang. Jadi siapa yang caper?"

"mas suami kak" Ochie yang menyahut, Lisa hanya memasang wajah datar. Ia sudah memprediksi kalau akan jadi bahan olok-olok hari ini.

"Ooh, mas suami. Jadi dengan badan hot gitu tahan berapa ronde sehari?" tanya Cla. Lisa yang mengerti arah pertanyaan Cla menoleh cepat. Walaupun Cla berbisik tetap saja mereka masih dilapangan yang banyak orang lalu lalang.

"kak ih! Serius nanya gituan di lapangan gini?! Astaga memang ya yang udah pro gitu-gituan pasti mikirnya itu doang" Lisa pun berjalan cepat meninggalkan kedua sahabatnya itu.

*****

EL & ALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang