*67*

166 40 0
                                        

Elvano menurunkan laju mobilnya saat hujan deras turun, matanya masih memandang ke arah depan tapi pikirannya tertinggal di rumah. Mengingat bagaimana kalutnya Lisa tadi, tapi lagi-lagi ia membentaknya.

"El" panggil Rere pelan, memecah keheningan di dalam mobil itu.

"aku minta maaf" Rere melihat dari ujung matanya bahwa pria itu masih diam saja "aku minta maaf karena bikin kamu sama Lisa ribut"

"aku ketakutan El waktu di hadang preman-preman itu. Aku ga tau harus kemana, yang ada dipikiran aku cuma kamu. Makanya waktu aku bisa kabur, aku cepet-cepet ke rumah kamu"

"aku takut banget waktu mereka mulai mukul aku. Aku sudah teriak minta tolong, tapi orang di sekitar cuma diam aja" tambah Rere terisak.

"udah lah, yang penting kita ke rumah sakit dulu. Soal Lisa, itu urusan gue"

"aku bakal jelasin ke Lisa El, biar dia ga salah paham lagi"

"lo ga denger yang gue bilang tadi?" Elvano melirik tajam pada Rere "soal Lisa, itu urusan gue. Lo ga usah ikut campur!"

Rere pun mengatupkan bibirnya, tak lagi bersuara. Takutnya ia akan di turunkan di jalanan dengan keadaannya sekarang yang mengenaskan.

*****

Seusai mandi air hangat dan berganti pakaian Lisa segera menuju dapur sesuai dengan perintah Jennie tadi. Dengan rambut yang masih setengah basah Lisa duduk di meja makan, sedang Jennie sedang menyiapkan sesuatu di depan kompor.

"nih makan. Biar perut lo anget" Jennie menyodorkan mangkuk yang berisi kuap sup dengan asap yang masih mengepul.

Lisa memandangi mangkuk itu lalu mulai mengambil sendok dan mulai mengaduk sup. Setelah meniup kepulan asap di sendoknya Lisa lalu menyuapkan sup itu ke dalam mulut. Rasa dingin perlahan hilang seiring sup yang terus masuk ke perutnya.

Jennie hanya memandangi bagaimana Lisa menghabiskan makanannya. Belum ingin ia bertanya, yang penting sekarang Lisa tenang terlebih dahulu. Saat akhirnya mangkuk di hadapan Lisa kosong, wanita itu pun mengangkat kepalanya menatap Jennie.

"gue cape kak" lirih Lisa.

"lo ga mau cerita sekarang?" tanya Jennie pelan yang di jawab gelengan lemah Lisa "ya udah ayo ke kamar"

Kedua wanita itu pun berjalan menuju kamar Jennie. Segera naik pada tempat tidur, Lisa segera memejamkan matanya. Jennie menarik selimut agar menutupi badan Lisa.

"gue ga akan maksa lo cerita Lice, tapi yang perlu lo tau gue akan selalu siap nolong lo dalam masalah apapun"

Mata yang terpejam itu tiba-tiba meneteskan air. Lisa mengangguk lemah mendengar apa yang dikatakan Jennie.

*****

Dengan sedikit berlari Elvano memasuki rumahnya di pukul 10 malam setelah mengantar Rere kerumah sakit dan pulang ke apartemennya. Ia menaiki tangga dengan tergesa dan langsung membuka pintu kamarnya. Alisnya mengerut saat mendapati kamarnya kosong.

Elvano teringat bahwa malam sebelumnya Lisa tidur di kamar tamu, ia pun membuka kamar di ujung lorong lantai dua itu, tapi nihil juga. Pria itu lalu menuruni tangga tergesa.

"El" panggilan itu menghentikan Elvano yang akan keluar rumah, berniat bertanya pada satpam di depan.

"bi"

"kamu nyari Lisa?" tebak Layla. Elvano pun mengangguk.

"Lisa dimana bi?"

"keluar. Waktu kamu keluar ga lama dia juga keluar. Bawa mobil sendiri. Heri tadi nyoba ngejar tapi ga keburu" jelas Layla

"dia mau kemana?"

"ga tau, Lisa ga bilang apa-apa tapi yang jelas dia tadi kalut banget. Bibi nyoba nelpon kamu dari tadi tapi kayanya hp kamu ga aktif"

Elvano segera merogoh ponselnya dan benar saja benda pipih itu mati, kehabisan daya. Ia segera berjalan ke arah ruang keluarga. Lalu segera mengambil charger dan mulai mengisi daya ponselnya itu. Dengan tak sabaran Elvano segera menghidupkan kembali ponselnya.

Saat ponsel menyala ia segera menghubungi Lisa. Tapi berkali-kali ia memanggil, tak ada jawaban sama sekali dari istrinya itu. Elvano bingung harus menghubungi siapa lagi.

"coba hubungi orang tuanya, siapa tau Lisa pulang kesana" ujar Layla melihat Elvano yang kebingungan sambil memandangi kontak pada ponselnya.

Tak menyahut tapi tak juga segera melakukan saran dari Layla. Kalau ia menghubungi mertuanya itu sama saja ia memberitahukan bahwa sedang bermasalah dengan Lisa. Elvano akan dianggap tidak becus sehingga tidak tahu keberadaan istrinya semalam ini.

Mengacuhkan hal itu Elvano segera menekan tombol panggil pada kontak ayah mertuanya. Mengabaikan kemungkinan ia akan di amuk, yang penting ia tahu keberadaan Lisa sekarang. Panggilan pertama tak terjawab. Elvano memanggil sekali lagi. Pada dering ketiga telpon diangkat.

"halo" jawab Ryan dengan suara khas bangun tidur.

"ayah"

"ya?"

"ini saya El"

"kenapa?" tiba-tiba suara Ryan berubah dingin.

"maaf mengganggu waktu istirahat ayah. Saya mau nanya, apa Lisa disana?"

"Lisa?"

"iya. Tadi Lisa pergi dari rumah dan belum pulang"

"pergi dari rumah? Dia bilang mau kemana?"

"engga. Tadi kami sempat bertengkar dan saya pergi keluar rumah, tapi ternyata Lisa juga keluar"

"ga ada. Lisa ga pulang kesini. Ga biasanya Lisa pergi dari rumah seperti itu. Ya sudah, ayah coba cari ke teman-temannya dulu" Ryan segera memutuskan panggilannya tanpa menunggu sahutan Elvano.

*****

Pria paruh baya itu panik, saat mendapat telpon dari menantunya. Anaknya bukanlah tipe yang akan kabur dari rumah hanya karena masalah kecil. Bahkan beberapa kali ia berkelahi dengan sang ibu, Lisa hanya akan mengunci diri di dalam kamarnya. Jelas yang dihadapi putri kesayangannya itu adalah masalah besar.

Menenangkan diri, Ryan keluar dari kamar agar tak membangunkan istrinya yang masih terlelap. Setelah menutup pintu, orang pertama yang ia telpon adalah Ochie, salah satu sahabat Lisa. Tak perlu waktu lama untuk Ochie mengangkat panggilan darinya.

"halo Ochie" sapa Ryan.

"halo om. Om nyari Lisa ya?" tanya Ochie langsung.

"iya. Lisa sama kamu?"

"engga om, Lisa di rumah kak Jennie" jawab Ochie. Membuat Ryan bernafas lega sesaat.

"Lisa baik-baik aja kan disana nak?"

"baik om. Lisa cuma perlu waktu untuk tenang. Tadi kak Jennie bilang sekarang Lisa sudah tidur"

"syukurlah. Tolong bilang Jennie om titip Lisa ya nak"

"iya om tenang aja, ga usah khawatir"

"iya, terima kasih ya"

Panggilan itu pun terputus, ada rasa lega tapi tak menghilangkan khawatir yang ada. Masalah apa lagi yang dihadapi Lisa sampai harus menginap di rumah temannya? Kenapa tidak pulang ke rumah dan mengadu padanya tapi justru memilih rumah sang sahabat. Ryan kembali melakukan panggilan telpon.

"halo"

"El"

"iya yah?"

"Lisa baik-baik aja"

"Lisa dimana yah?" tanya Elvano.

"Lisa aman, hanya itu yang perlu kamu tau. Ga usah cari dia, biarkan dia tenang dulu" Elvano pun terdiam mendengar itu "Elvano"

"ya yah?"

"apapun yang akan di lakukan Lisa ayah akan dukung dia sepenuhnya. Terlepas dia bersalah atau tidak, ayah tetap akan merangkulnya. Rumah ini akan selalu terbuka untuk Lisa apapun keadaannya"

Ryan lalu mematikan panggilan itu sepihak. Elvano mengerutkan kening mendengar kalimat mertuanya itu. Apa maksudnya?

*****

EL & ALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang