Lisa duduk sendiri di kantin universitasnya saat beberapa orang kakak tingkatnya turut masuk kekantin itu. Jennie dan Clafita baru masuk kelas ketika kelas Lisa selesai, sedang Ochie langsung pulang untuk menemui pacarnya yang baru kembali dari London.
"yang sudah ACC nih, bisa kali traktiran" suara seorang laki-laki yang cukup nyaring mengganggu Lisa.
"abis putus malah makin rajin skripsiannya, termotivasi apa gimana bang?" sahut suara lainnya.
"ya berarti si mantan pacar tuh yang bawa sial" Lisa kenal suara perempuan ini, suara salah satu sahabat kekasihnya, ralat mantan kekasihnya.
Lisa pun mencari sumber suara dan mendapati Arvin beserta beberapa temannya yang Lisa juga kenal. Lisa mendapati Arvin sedang menatapnya, mereka beradu tatap beberapa saat sampai Lisa akhirnya berpaling dan menunduk lagi karena tak ada tanda bahwa Arvin akan memutus kontak mata mereka.
"bagus deh yang sial-sial gitu bagusnya dibuang aja jangan dipiara" ujar Nabilla lagi, sahabat Arvin yang memang sejak dulu memang tidak pernah menyukainya dengan alasan Lisa cuma jadi beban untuk Arvin. Padahal Lisa tahu, kebencian Nabilla padanya semata-mata karena ia menyukai Arvin.
"tenang aja Vin, lo bisa dapetin spek cinderella. Spek upik abu gitu lupain aja" ini suara Keisha, sahabat Nabilla. Pribahasa musuh sahabat lo adalah musuh lo juga sangat berlaku di circle itu.
Lisa menghela nafas, ia hanya ingin makan dengan tenang, tapi sepertinya semesta tak suka Lisa kenyang. Padahal mie ayamnya masih sisa separuh, hanya saja Lisa tak ingin cari ribut dengan siapapun siang ini. Ia pun segera memasukkan hp yang ia taruh di atas meja ke dalam tas, lalu berdiri dan meninggalkan kantin. Baru beberapa langkah sudah ada yang mencekal tangannya.
"Lice" Lisa yang terkejut menoleh dan mendapati Arvin yang memegang tangannya "sorry, jangan dengerin apa yang dibilang Nabilla"
"engga kok, ga apa-apa kak" Lisa berusaha menarik tangannya tapi Arvin menahan dan justru memandangi jari manisnya.
"ini cincin nikah kamu?" tanya Arvin. Entah hanya perasaan Lisa atau memang ada perasaan sedih dalam suara Arvin. Lisa pun hanya mengangguk.
"kamu bahagia?" Lisa hanya menatap Arvin.
"sejauh ini dia ga nyakitin aku" hanya itu yang bisa Lisa jawab.
"kamu udah lupain aku?"
Lisa hanya diam tak menjawab, entah kenapa rasa bersalah itu menyeruak ke dalam hatinya. Ia merasa nyaman dengan Elvano setelah mereka menikah, pernyataan cinta Elvano waktu itu juga membuatnya bahagia. Melihat wajah Arvin sefrustasi ini membuatnya sakit juga. Lisa tidak pantas merasa bahagia setelah menyakiti Arvin sedalam ini.
"aku masih disini Lice, aku masih untuk kamu" membuat tangis Lisa pecah.
"maaf kak, aku minta maaf" Lisa segera menarik tangannya dan pergi meninggalkan Arvin yang masih mematung. Arvin pun tak mencegahnya lagi.
*****
Elvano memasuki rumahnya di pukul 18:20, ia tak mendapati Lisa yang biasanya langsung menghampiri ketika suara mobil Elvano terdengar. Memindai Lisa di ruang tamu dan ruang keluarga, Elvano masih tidak mendapati Lisanya.
"Han" panggil Elvano pada Hana yang baru keluar dari dapur.
"iya pak?" dengan segera Hana menghampiri.
"Lisa dimana?"
"di atas pak. Dari siang tadi sepulang kuliah, mba Lisa ga ada keluar kamar"
"oke, makasih ya" Elvano pun segera naik ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Elvano belum mendapati Lisa, tapi ia melihat pintu balkon kamarnya sedikit terbuka. Ia pun menggeser pintu itu dan mendapati Lisa yang sedang melamun disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
EL & AL
RomanceLisa memiliki pilihan untuk menuruti perjodohan ini atau menolaknya. Ayahnya bukan tipe pemaksa, ia menyerahkan keputusan pada Lisa. Tentu saja Lisa ingin menolak, banyak alasan untuk menolak, pertama mereka baru sekali bertemu dan pertemuan itu tid...
