*8*

433 51 0
                                        

Jam yang menggantung di dinding telah menunjukkan pukul 9:40 malam. Lisa dengan mata yang membengkak belum berusaha untuk tidur. Dia masih duduk bersandar pada kepala kasurnya. Ia masih memikirkan kesialan hari ini. Ya, baginya ini kesialan, dilamar tiba-tiba oleh orang yang hanya ia ketahui namanya adalah kesialan.

Lisa bertanya-tanya, kenapa dia? Masa sih ada orang yang baru sekali ketemu terus langsung yakin mau nikah? Lisa sadar dirinya memiliki look yang cukup bagus. Tinggi semampai, kulit putih yang bersih, mata yang besar, rambut panjang sehat, tipikal wanita yang mudah disukai pria. Tapi jika dibandingkan dengan Clafita, tentu para pria itu akan lebih memilih Cla. Apalagi ini seorang CEO, yang pasti sudah bertemu banyak wanita cantik diluaran sana. Jika El mau, model dan artis pun bisa ia dapatkan. Tapi kenapa justru Lisa? Benar-benar tidak masuk akal.

Lamunan Lisa terpecah kala ponselnya berbunyi, ia mengambilnya dan melihat nama penelpon. Nama Kak Arvin muncul, ia tertegun, ragu untuk mengangkatnya. Entah kenapa ia merasa bersalah sekaligus enggan bercerita untuk sekarang.

"Halo" akhirnya Lisa memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Halo by, kamu udah mau tidur ya?" tanya Arvin tak enak mendengar nada suara Lisa yang agak serak.

"belum kok kak, kenapa?"

"maaf ya ganggu malam-malam. Jadi gini, besok ardi temen angkatan aku kuliah mau ngajak ke pantai rame-rame sama yang lain juga, boleh bawa pasangan. Tapi kita berangkat pagi-pagi banget biar pas disana ga lagi panas. Terus siangnya baru pulang. Gimana, kamu bisa ikut ga?" tanya Arvin.

Lisa diam belum menjawab. Biasanya ia akan bersemangat kalau pergi bersama teman-teman Arvin. Tapi untuk kali ini Lisa rasanya tidak mempunyai tenaga untuk bersenang-senang. Ia terlalu gugup menghadapi besok malam. Dan besok seharian Lisa ingin menenangkan diri. "by, gimana?" tanya Arvin lagi karena Lisa hanya diam.

"kayanya ga bisa deh kak, maaf ya" jawab Lisa akhirnya.

"loh, kenapa? Bukannya kelas kamu diganti jadi senin kemaren ya?"

"iya, Tapi aku udah ada janji sama ibu. E-eh ibu mau minta bantuin masak. Besok malam bakalan ada tamu. Ga enak sama ibu kalau aku pergi" ujar Lisa. Ia tahu ia salah telah berbohong. Tapi dia benar-benar tidak ingin kemana-mana besok.

"oh gitu. Ya udah ga apa-apa, jangan sampai ngebatalin janji sama ibu kamu. Tapi aku boleh ya pergi sama yang lain?" ijin Arvin.

"iya kak boleh" jawab Lisa singkat.

"ya udah kalau gitu kamu tidur ya. Love you"

"bye kak"

Di sebrang sana Arvin kebingungan, Lisa tidak seperti biasanya, terdengar seperti memiliki beban. Tapi Lisa akan selalu bercerita pada Arvin ketika memiliki masalah apapun. Mungkin Lisa hanya mengantuk dan Arvin mengganggu tidurnya. Ya, mungkin begitu.

*****

Dentuman musik terdengar memekakan telinga ditempat itu. Club ternama yang memang dikhususkan untuk kelas atas. Orang-orang di dance floor sudah menggila, mereka yang mabuk, ciuman basah atau tangan-tangan brengsek yang meraba bahkan pada wanita yang tidak dikenal sebelumnya.

Elvano juga ada disana, ia lelah dan butuh sedikit hiburan. Dengan ajakan Ari yang merupakan temannya, disinilah ia sekarang. Tak berniat untuk berdansa, hanya duduk nyaman disofa menikmati musik sambil memutar gelas wine nya. Sedangkan dua temannya sudah berdansa gila di dance floor. Satu temannya lagi sedang berciuman panas disampingnya, El sama sekali tak terganggu.

"El" panggil Ari setengah berteriak setelah menyuruh wanita bayarannya turun dari pangkuannya.

"hm" jawab El yang tentu saja tidak terdengar, tertelan kerasnya musik.

EL & ALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang