Wanita dengan dress putih selutut dengan motif beruang pink itu terduduk di balkon kamarnya. Memandang keluar pada hamparan hijau di belakang rumah. Ia benar-benar tidak tidur semalaman, pertama karena sakit perut lalu karena bau alkohol yang menusuk hidungnya. Lisa menoleh saat mendengar pintu tergeser. Elvano sudah keluar dari walk in closet dengan rapi. Ia pun segera menghampirinya.
"kamu mau kemana?" tanya Lisa langsung.
"aku nanya kamu mas, kamu mau kemana?!" ujar Lisa tak sabar saat tak di sahuti.
"keluar" jawab El seadanya.
"keluar kemana? Ketemu Rere?"
Elvano seketika menoleh saat nama itu disebut. Ia tak ingat kejadian apapun semalam. Kenapa ia bisa sampai dirumah ini, ia juga tak ingat.
"bener? Kamu mau ketemu sama dia? Ada urusan apa sih kamu sama dia?"
Elvano tak menyahut dan justru berjalan melewati Lisa. Wanita itu segera menutup pintu kamar yang hampir terbuka dan menghadang jalannya pria itu.
"jawab aku!" sentak Lisa tapi Elvano masih terdiam, memandangi mata Lisa yang telah memerah.
"bisa-bisanya kamu pulang dalam keadaan mabuk dianterin sama mantan kamu! Kamu udah gila?! Tega kamu sama aku?" Elvano terkejut mendengar hal itu? ia diantar oleh Rere?
"kamu ga mikirin perasaan aku mas?!"
"apa bedanya sama kamu? kamu juga jalan sama mantan kamu kan?"
"BEDA!!" teriak Lisa lepas "jelas beda! Aku dan Arvin jalan di siang bolong mas, di taman tempat terbuka bukan clubbing sampai subuh dan mabuk!"
"oh ya? kamu sepertinya lupa soal hotel itu Lisa!"
"hotel itu, hotel itu, HOTEL APA MAS!!! Aku udah bilang berkali-kali aku ga tau soal bill hotel itu! AKU GA TAU! AKU GA TAU APA-APA!!!"
"kamu ketemu dia diam-diam? Aku harus percaya kamu ga tau apa-apa soal bill hotel itu?" Lisa tak percaya mendengar itu dari mulut Elvano.
"selama pacaran aja, aku ga pernah ngapa-ngapain sama Arvin mas! Kamu pikir setelah menikah aku bisa ngelakuin itu? KAMU PIKIR AKU MURAHAN HAH?!!!!"
"BERHENTI BERTERIAK LISA!"
Lisa terkejut mendengar teriakan Elvano, ia menutup telinganya rapat ketika merasa tubuhnya bergetar. Melihat itu Elvano justru keluar dari kamar meninggalkan istrinya. Lisa terduduk lemas dilantai, meringkuk di belakang pintu kamar. Dadanya sesak, air matanya tak berhenti mengalir, tangannya masih setia menutupi telinga.
*****
Siang itu dengan terburu Clafita menaiki tangga rumah untuk menuju kamar sahabatnya yang ia yakini tak baik-baik saja. Tanpa mengetuk kamar Clafita memutar knop pintu, tapi tak berhasil jelas di kunci dari dalam.
"Lisa" panggil Clafita sambil mengetuk pintu.
"Lice" panggilnya lagi.
"Lice ini gue Cla, buka pintunya" Clafita semakin nyaring menggedor pintu kamar itu.
Cklek. Setelah hampir lima menit menunggu pintu pun terbuka menampilkan Lisa dalam keadaan basah seluruh badan seperti habis mandi tanpa melepas pakaian, mata yang membengkak juga ekspresi kosong.
"lo kenapa?" tanya Cla khawatir menangkup wajah pucat Lisa.
"Lice" Cla menepuk-nepuk wajah Lisa.
"dia ga percaya gue kak" rintih Lisa kembali menumpahkan airmatanya yang lalu segera di rengkuh oleh Clafita.
"kita akan cari caranya Lice, kita akan cari cara. Ayo kita datangin temen-temennya Arvin, barangkali ada yang masih kontak sama Arvin. Lo tau ga rumah temennya?" tanya Cla sambil mengeratkan pelukannya ketika dirasa badan Lisa bergetar hebat. Wanita yang dipeluknya itu mengangguk.

KAMU SEDANG MEMBACA
EL & AL
RomanceLisa memiliki pilihan untuk menuruti perjodohan ini atau menolaknya. Ayahnya bukan tipe pemaksa, ia menyerahkan keputusan pada Lisa. Tentu saja Lisa ingin menolak, banyak alasan untuk menolak, pertama mereka baru sekali bertemu dan pertemuan itu tid...