Beberapa hari kemudian ...
Dunia cepat berubah. Hari pun begitu. Namun, Tuan Adrian masih sulit untuk terlepas dari masalah yang mengganggu pikirannya.
Malam itu, dia sengaja menemui Kepala Polisi untuk membicarakan masalah itu. Masalah yang dianggapnya belum selesai.
"Tuan, saya sudah katakan jika sulit untuk membuktikan jika anak itu bersalah," Kepala Polisi bersikukuh dengan pendapatnya.
"Toples kaca itu, sidik jari ... apakah itu tidak bisa menjadi bukti jika ...."
"Awalnya kami pun mengira begitu, tapi itu belum cukup kuat untuk menyeret anak itu ke dalam penjara. Di tempat kejadian perkara, banyak sekali sidik jari. Di toples kaca itu banyak sekali sidik jari."
"Gadis itu sengaja memelihara ular ...."
"Untuk membunuh? Oh, anak-anak lain pernah melihat gadis itu menangkap seekor ular di pekarangan Panti Asuhan. Hewan itu hanya untuk dipelihara."
"Tapi, dia mengatakan jika ...."
"Ya, kami mencatat kesaksian kalian. Hanya saja, kami ragu. Terus terang kami ragu."
"Anda tidak mempercayai kesaksian saya."
"Tuan, saya ingin mengatakan pada Anda... jika ... sebenarnya kesaksian Anda memiliki motif lain."
"Maksud Anda?"
"Anda menjadikan gadis itu sebagai terduga, semata karena Anda sakit hati ...."
"Sakit hati apa?"
"Anda dipecat dari Kepala Pengawal karena tidak sanggup melaksanakan tugas menjaga Tuan Gubernur Jenderal."
"Ha, pikiran Anda sungguh picik."
"Sudahlah, Tuan Adrian. Nikmati saja masa pensiun Anda. Biar ini menjadi urusan kami," Kepala Polisi menegaskan sikapnya sambil mengisap kembali asap dari sigaret.
Tuan Adrian menggelengkan kepala. Dia sulit menerima sikap Kepala Polisi. Matanya teralih pada sekelompok pemusik yang melantunkan lagu sendu. Dengan biola di tangan, pemusik itu seakan tahu apa yang ingin didengar oleh pengunjung.
Klab malam memang menjadi tempat yang sering dikunjungi Tuan Adrian akhir-akhir ini. Karena tahu ada Kepala Polisi sedang berkunjung, keduanya sengaja membicarakan hal serius meski bukan di saat jam kerja.
"Apakah Anda tidak merasa aneh jika seorang gadis memelihara ular berbisa?" Tuan Adrian menelisik isi pikiran orang di hadapannya.
"Tidak. Bukan hal aneh. Keponakan saya memelihara tarantula. Bahkan pernah memelihara biawak, sebelum ibunya menyuruh melepaskannya karena ukurannya menjadi sangat besar."
"Jika Anda mengamati anak itu secara khusus ...."
"Tidak, tidak ada yang khusus apalagi aneh dengan ... siapa nama anak itu?"
"Sophia."
"Sophia. Dia gadis manis. Ketika penyelidikan, anak itu tampak ceria."
"Oh, Tuhan. Pintar sekali anak itu bersandiwara."
"Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Terlebih, rasa ingin tahu mereka begitu tinggi. Mungkin dia bisa menjadi seorang naturalis. Meneliti makhluk hidup."
Tuan Adrian meminum segelas bir dengan sekali teguk, langsung habis. Dia merasa kesal dengan situasi yang dihadapinya.
"Energi Anda masih besar, Tuan. Anda bisa menggunakannya untuk hal-hal lain. Misalnya, berburu."
"Sekarang pun saya sedang berburu."
"Hahahaha, Anda tidak sedang berburu. Anda mengganggu tugas kami."
Tuan Adrian terdiam. Dia mencoba menikmati suasana di klab malam. Melihat wanita-wanita berdandan rapi, wajah mereka terlihat begitu menawan. Para pria dengan setelan terbaiknya, sengaja berdandan untuk menegaskan jika mereka adalah pengunjung dari kalangan "atas".
"Tuan, sudikah Anda berdansa dengan saya?" Seorang perempuan bertubuh ramping mengajak Tuan Adrian untuk berdansa.
"Maaf, Nona. Lain kali saja."
Kepala Polisi tersenyum melihat penolakan itu, "maaf Nona, pria ini sedang tidak enak badan. Dia sedang enggan berdansa, maunya dipeluk. Hahaha."
Wanita itu pun berlalu. Senyuman yang manis sedikit menjadi penghibur bagi laki-laki penyendiri seperti Tuan Adrian.
"Tuan, sebaiknya sekarang Anda pulang. Lalu, tidurlah yang nyenyak. Biarlah Sophia menjadi urusan kami."
"Bagaimana bisa saya tidur nyenyak. Jika gadis itu masih bebas berkeliaran."
"Hei, sudah saya bilang, dia gadis yang manis. Bukan gadis berbahaya ...."
"Justru dia berbahaya."
"Apa alasan Anda mengatakan itu?"
"Heh, kalaupun saya mengatakannya, Anda belum tentu percaya."
"Coba saja katakan. Mungkin saya bisa percaya."
"Gadis itu mendapat petunjuk dari sebuah buku."
"Oh, terinspirasi?"
"Bukan, eee ...bagaimana ya saya menjelaskannya. Begini, ada seseorang yang mengirimnya sebuah buku. Dalam buku itu jelas tertulis apa yang harus dilakukan gadis itu."
"Siapa orang itu?"
"Kalau saya menyebutkan namanya, Anda pun tak akan percaya. Bisa saja Anda menuduh saya mengada-ada."
"Katakan saja, saya tak akan membawa ini ke ranah yang lebih serius. Anggap saja, ini hanya obrolan sambil lalu. Anda mencurahkan isi pikiran pada saya."
"Gadis itu diberi petunjuk oleh ayahnya."
"Valentjin? Hahaha, bukankah dia sudah menghilang. Tapi, terserah pada Anda, itu hanya dugaan saja. Katakan saja."
"Saya yakin jika gadis itu benar-benar bersalah ketika tahu isi buku itu."
"Apa isinya?"
"Isinya persis seperti kejadian-kejadian yang memiliki hubungan dengannya. Kalajengking yang menyengat Gubernur Jenderal, Margareth dihukum gantung, pengasuh Panti Asuhan yang tewas digigit ular. Semuanya ada di buku itu."
"Menarik. Seperti sebuah fantasi ...."
"Iya, kan. Anda tidak akan mempercayai saya."
"Baiklah, anggap saja itu benar. Lalu, apalagi yang menjadi kekhawatiran Anda?"
Tuan Adrian mengusap wajahnya.
"Adakah langkah selanjutnya yang mungkin dilakukan gadis itu?"
"Menurut buku itu, ada."
"Siapa yang menjadi sasaran berikutnya ...?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Dendam Sophia
Mystère / ThrillerPemenang Wattys 2022 kategori Wild Card --------------------------------- Tanpa banyak bicara lagi, sarapan pun berlangsung. Sebagaimana sarapan bersama di pagi hari, para gadis menyantap roti dan sup di sebuah mangkok yang disediakan oleh koki khus...
