JP | 12

32.3K 1.5K 23
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****


"Mas, akhirnya kamu datang juga." Shania membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang melalui lubang kecil yang ada di pintu.

Zila yang melihat adiknya sedang berdiri di hadapannya sangat terkejut.

"Nia!"

'Jadi selama ini Abi bermain belakang dengan Shania, adik kandungnya.' Batin Zila.

Sungguh ironi nasib Zila, ia mengira akan memberi kejutan untuk wanita yang sudah menggoda suaminya justru dirinya yang dibuat terkejut.

Hati yang sudah disiapkan olehnya harus hancur kembali melihat dalang hancurnya rumah tangganya

Lihatlah pakaian apa yang dipakai oleh Nia saat ini. Baju tipis berenda yang pasti membuat lawan mainnya senang. Parfum yang dipakainya juga familiar seperti yang pernah ia cium di tubuh dan pakaian Abi.

"Mbak-

Shania menggantung ucapan, birahinya sudah memuncak tapi yang datang justru Kakaknya.

"Sejak kapan?" Zila mendorong tubuh adiknya agar masuk ke dalam.

Bagaimanapun Zila tidak ingin mengamuk di depan umum.

Zila terus mendorong tubuh Shania hingga terpojok di tembok.

"Apa sih mbak! Tiba-tiba datang langsung marah-marah."

Zila tersenyum miring, ternyata Shania masih mau mengelak. Dari raut wajahnya Nia juga terlihat tenang tidak merasa terpojok sama sekali.

"Siapa yang kamu tunggu, Nia?"

"Ya nunggu pacar aku lah Mbak. Ngapain sih Mbak kesini!"

"Jadi secara gak langsung kamu mengakui kalau Abi pacar kamu? Iya?"

Shania terdiam sesaat, awalnya ia ingin mengelak, tapi, ini kesempatannya untuk bisa bersama Abi. Mungkin ini jalan agar dia bisa memiliki Abi. "Terus kalau iya kenapa, Mbak? Kita sama-sama suka."

Plakk

Shania mendesis, pipinya terasa panas mendapat tamparan dari Zila.

"Segitu gak lakunya kamu sampai godain suami Mbak!"

Shania yang tidak punya rasa takut menatap Zila dengan mata tajamnya. "Apa yang salah? Toh tante Renjani juga dukung kalau aku sama Mas Abi." Shania tersenyum mengejek. Sedangkan Zila terkejut mengetahui jika Renjani juga ikut andil dalam pengkhianatan ini.

"Sepertinya Mbak terlalu baik sama kamu sampai-sampai kamu tega sama Mbak." Zila berusaha agar suaranya tidak bergetar, hatinya sakit tentu saja.

Zila juga wanita biasa, walau sudah beberapa hati ini dia tahu perselingkuhan suaminya tapi ia tak menyangka mertuanya mendukung hubungan terlarang ini.

"Mbak Zila sebaiknya itu ngaca! Tante Renjani sudah peringatkan Mbak untuk menjaga penampilan, tapi, Mbak hiraukan, sekarang giliran Mas Abi berpaling, Mbak salahin aku?"

Zila menarik nafas dalam-dalam. "Shania, Mbak nggak nyangka kamu tega ngelakuin ini ke Mbak! Apa salah Mbak sama kamu? Selama ini Mbak selalu nurutin mau kamu, tapi kenapa harus suami Mbak, Nia!"

"Nia cinta sama Mas Abi, lebih baik Mbak tinggalin Mas Abi. Biarin Nia sama Mas Abi bahagia."

Plakk

Plakk

Tubuh Shania jatuh ke samping mendapatkan tamparan berulang kali dari Zila.

Sudah salah, sekarang tidak punya rasa malu. Orang tua mereka pasti kecewa melihat kelakuan Shania yang sudah sangat keterlaluan.

"Tanpa kamu suruh, Mbak pasti tinggalin Abi, tapi jangan harap kalian bisa bahagia, Nia!"

Zila pergi meninggalkan Shania yang masih terduduk di lantai.

Sampai di lobby hotel Zila mengambil Ponsel yang ada di tas, memastikan jika obrolannya dengan Shania terekam.

Tak peduli siapapun wanita yang menjadi selingkuhan Abi, Zila tetap akan membuat kedua orang tersebut hancur melebihi rasa sakit yang dia alami.

****

Abi yang berada di kantor mendapatkan telpon dari Shania. Awalnya Abi tidak menghiraukan karena pekerjaannya yang menumpuk tapi satu pesan yang berhasil membuatnya marah.

'Mbak Zila tau kalau kamu selingkuh sama aku, Mas.'

"Argh." Abi menggeram.

Bukan menelpon Shania, Abi justru mencoba menghubungi istrinya.

Panggilannya sudah tersambung tapi Zila tak kunjung menerima panggilan itu. Abi terus mencoba menghubungi Zila tapi justru sekarang panggilan Abi ditolak.

Saat lagi-lagi panggilannya ditolak bahkan ponsel Zila tiba-tiba tidak bisa dihubungi Abi langsung bergegas untuk mengecek Zila ke rumah mereka.

Sambil berlari Abi mengirimkan pesan kepada Shania.

'Jika hubunganku dengan Zila berakhir kau yang harus bertanggung jawab!'






****


Jangan lupa vote dan komen ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa vote dan komen ya

Terimakasih

Next ???

Janda & PerjakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang