JP | 57

20.1K 1.3K 29
                                        

Assalamualaikum wr wb

Wa'alaikumsalam wr wb

Bismillahirrahmanirrahim

..

Kangen GaZi gak, nih???


Kangen GaZi gak, nih???

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****





"Saya tidak bisa menjanjikan apapun."

Zila mengangkat kepalanya, ia melihat Gavin dengan pandangan kecewa. Zila berpikir ucapan Gavin bisa saja membuat orang tuanya tidak lagi merestui keduanya.

Gavin membalas tatapan Zila dengan tenang, matanya seolah berbicara, "Percayalah padaku."

Zila menunduk lagi, kini tangannya saling memilin. Menanti bagaimana kelanjutan acara ini.

"Seperti yang pernah saya ucapkan, saya tidak ingin menjanjikan apapun karena saya akan membuktikan langsung dengan perilaku saya. Semua yang saya miliki sebagai jaminannya." Lanjut Gavin.

Zila kembali menatap Gavin, pria itu tersenyum tipis, sangat tipis hingga hanya Zila yang bisa melihatnya.

Brata mengangguk paham, "Saya sebagai wali dari putri saya, tidak bisa memberikan jawaban yang sepenuhnya. Saya hanya bisa memberikan restu, untuk jawaban dari lamaran Nak Gavin, Zila yang akan menjawabnya." Brata menatap Zila yang berada di antara dirinya juga Yuni. 

Zila membalas tatapan Brata. Tangan Brata menggenggam tangan Zila, dihembuskannya nafas pelan lalu berucap. "Fazila, Papa sepenuhnya menyerahkan keputusannya kepadamu. Jika kamu bahagia, Papa dan Mama juga ikut bahagia."

"Mama mendukung semua keputusanmu, Zi." Sahut Yuni.

Zila menatap kedua orang tuanya bergantian, lalu menatap Oma Rina yang berada di seberang tempat duduknya. Wanita itu tersenyum penuh makna. Setelah itu menatap Gavin yang sangat terlihat membutuhkan jawaban dari dirinya.

"Bismillahirohmanirohim, dengan izin Allah, Fazila menerimanya." Ucap Zila, tidak terlalu panjang namun membuat semua orang bernafas lega.

"Alhamdulillah." Seru semua yang ada di tempat.

"Selamat Mbak." Ucap Shania, wanita ini sejak tadi hanya diam. Tidak terlalu membaur, sesekali tersenyum di saat ada yang menyapa.

"Terima kasih, Nia."

Gavin tidak bisa menahan rasa bahagia yang ingin sekali menyeruak keluar. Pria itu menahannya, ia tidak ingin membaginya dengan orang lain, ia hanya ingin calon istrinya yang melihat itu.

Rina mengingatkan Gavin untuk memberikan cincin yang sudah mereka siapkan, lebih tepatnya Gavin siapkan. Rina hanya memberi usulan sedikit.

Gavin mengeluarkan kotak cincin berbentuk hati. Yuni yang paham langsung membantu Zila untuk berdiri. Gavin dan Zila kini berdiri bersebelahan, keduanya berdiri dengan dada berdebar kencang. Seolah berlomba siapa paling cepat.

Janda & PerjakaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang