Budayain follow dulu sebelum baca 😉
Pernikahan yang sudah terjalin selama dua tahun harus kandas karena orang ketiga. Zila yang menaruh curiga dengan suaminya berusaha mencari bukti perselingkuhan sang suami.
Tanpa disangka wanita yang menjadi pih...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Pagi harinya, setelah menjalankan dua rakaat, Zila kembali disibukkan dengan aktivitas di dapur. Semalam Yuni sudah berpesan jika pagi ini ia diminta membantu untuk menyiapkan makanan serta camilan kue yang sudah dibuat kemarin.
Selain itu, nanti saat acara dimulai Zila juga harus ikut hadir ditengah ibu-ibu yang sedang berkumpul. Entah kenapa Mamanya sangat aneh sekali, mulai dari dimintai tolong memasak, membeli baju baru serta harus ikut di tengah acara yang tidak ia sukai.
Bukan Zila tidak suka mempunyai kenalan banyak, hanya saja Zila tidak terlalu suka dengan kehebohan serta rempongnya para wanita saat berkumpul. Zila lebih suka jika berkumpul dengan wanita yang tidak terlalu heboh saat bergaul.
Selesai dengan makanan, cemilan serta minuman, Zila kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Sesuai dengan info yang Yuni berikan, acara akan dimulai pukul 10 pagi.
Masih ada 2 jam sebelum acara itu dimulai, Zila tak langsung pergi ke kamar mandi, Zila menyempatkan memeriksa ponselnya apakah ada pesan atau panggilan dari Gavin.
Seperti dugaannya, Gavin masih belum memberi kabar setelah semalam dia meneleponnya. Zila kesal sekali, pria itu sudah berjanji untuk mengabarinya jika sudah berada di rumah namun sampai saat ini tidak ada satu pesan pun yang masuk di ponselnya. Sambungan telepon semalam saja Gavin hanya berbicara sebentar karena pria itu sedang berada ditempat yang sangat ramai.
Jika sudah seperti ini, Zila butuh sesuatu yang menyegarkan otak dan pikirannya. Zila pergi ke kamar mandi, ia perlu mendinginkan isi kepalanya. Semoga cara itu berhasil menghilangkan rasa kesal yang menggerogoti pikiran.
Belum selesai mandi, teriakan Yuni membuatnya cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Ia butuh waktu lama untuk meredakan rasa kesal. Namun, Yuni seolah menjadi penghalangnya sejak kemarin sore. Mamanya itu selalu saja tidak membiarkannya sendirian dengan tenang.
"Zi, selesaikan mandimu dengan cepat. MUA nya sudah datang." Teriak Yuni dari luar kamar mandi.
"MUA?" Beo Zila. Wanita ini tak menyangka jika acara arisan seperti ini saja harus mendatangkan MUA, yang benar saja pikir Zila.
"Lima menit lagi, Zila selesai. Jangan menyuruhnya masuk sebelum Zila siap." Zila tidak yakin jika MUA yang dikirim Mamanya ini laki-laki atau perempuan, jadi dirinya harus benar-benar bersiap jika tidak ingin laki-laki lain melihat dirinya yang hanya dibalut dengan handuk.