Setelah dua hari aku hanya di rumah menghabiskan waktu bersama anak-anak. Hari ini aku mulai menerima orderan rice bowl lagi dari Karina dan juga Bragi untuk teman-teman kantor mereka. Aku dan Bragi janjian di kantor Karina seperti biasa kalau aku sedang janjian juga dengan Dipta.
Dipta, mengingatnya membuat aku baru sadar kalau dalam dua hari ini aku juga tidak berkomunikasi dengan Dipta. Terakhir dapat kabar dari dia, kalau dia udah berangkat dinas ke luar kota. Dan sampai hari ini aku belum membalas pesannya. Tapi, Dipta juga tidak seperti biasanya, dia juga tidak mengabariku lanjut sampai detik ini.
Setelah menyelesaikan pesanan-pesanan, aku langsung on the way kantor Karina. Selama di perjalanan, aku sedikit mengenang kebiasaanku yang selalu bertukar kabar dengan Dipta. Bolak balik aku melihat Hp ku, ada keinginan aku untuk mengirim pesan ke dia, tapi perasaan bimbang dan beberapa hal yang memang sedang aku pikirkan selama ini, cukup mendominasi diriku untuk tidak berkomunikasi dulu dengannya.
Setelah 30 menit diperjalanan, aku sudah sampai dikantor Karina dan selesai memarkirkan mobil, aku segera turun dari mobil sambil membawa pesanan-pesanan rice bowlnya. Ditengah-tengah langkah menuju lift untuk naik ke lobby, tiba-tiba ada seseorang yang coba membantuku membawakan sebagian kantong-kantong rice bowl yang ada di tangan kiriku. Dan membuat aku langsung menoleh kearahnya.
"Bragi..."
"Hai..." sapa Bragi sambil tersenyum melihat kearahku.
"Mm...udah nyampe aja..mau dibawa sekarang?" Tanyaku sambil menghentikan langkah dan fokus melihat kearahnya.
"Nanti aja, kita keatas dulu nemuin Karina..." jawabnya sambil memberikan isyarat untuk melanjutkan langkah.
Sampai di lobby, aku dan Bragi langsung jalan menuju tempat biasa janjian dengan Karina. Dan aku melihat Karina sudah duduk dengan segelas minuman yang sudah dipesannya.
"Kar..." sapaku sambil menghampirinya. Karina langsung tersenyum dan berdiri menyambut pelukanku.
Aku melihat Karina hanya menatap Bragi, sedangkan Bragi hanya melempar senyum ke arah Karina. Setelah kondisi yang agak canggung itu, akupun langsung mengajak Bragi untuk duduk dulu disini. Aku langsung duduk di bangku pojok dekat jendela yang bersebelahan dengan Karina, sedangkan Bragi duduk tepat di bangku depan Karina.
"Gimana istirahatnya udah cukup?" Tanya Karina sambil tetap tersenyum dan melirik kearahku.
"Mm udah lah...waktunya cari cuan lagi..." jawabku sambil mengambil gelas milik Karina dan meminum seteguk.
"Mau minum apa Sya?, gw yang order sekalian..." tanya Bragi ketika melihat aku yang mengambil dan meminum miliknya Karina.
"Mmm sama aja nih kaya Karina..." jawabku sambil menunjuk milik Karina.
Setelah mendengar jawabanku Bragi langsung beranjak dan memesan minuman untukku dan untuknya. Aku sedikit melirik ke arah Karina yang memperhatikan kepergian Bragi.
"Hei...segitunya..." godaku sambil menyenggol tangannya Karina.
Karina yang sadar aku memperhatikannya langsung salah tingkah dan hanya menggelengkan kepalanya ringan sambil tersenyum.
"Belom cerita kenapa waktu dari Bandung, dia bisa tidur di apart lo..."
"Hmmm itu entar deh, kalo emang waktu ketemunya lebih panjang..."
"Oke..." jawabku singkat dan ngomongin hal lain ke Karina ketika aku lihat Bragi sudah berjalan lagi ke arah kami sambil membawa 2 gelas minuman.
"Nih punya lo..." Bragi menyimpan minuman pesananku di meja hadapanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
LURUH : Cinta Lama Yang Terlarang (END) (REVISI)
ChickLitWarning!! DEWASA!!! Komitmen penting ketika menikah adalah SETIA. Sudah 5 tahun Nata Arisya menjalani pernikahan dengan seorang pria yang pasti sangat dicintainya Kiyanza Adiputra bahkan tanda cinta mereka sudah ada dua yakni seorang putra Ibaz Adip...
