Setelah sekian lama aku sibuk dengan kegiatanku yang setiap harinya kembali seperti biasa. Setiap pagi aku menyiapkan dan menemani Kiyan sarapan sebelum berangkat kerja. Lalu aku menyiapkan beberapa pesanan rice bowl untuk aku bawa ke kantor Karina.
Dan hari-hari selain pesanan rice bowl, setelah kepergian Kiyan ke kantor, aku membereskan urusan rumah dan mengurus anak-anak yang diperbantukan oleh kak Nisa.
Ya hari-hari ku dengan Kiyan tidak ada yang berubah. Keharmonisan rumah tangga kamipun kembali seperti dulu. Kiyan banyak meluangkan waktu untuk aku dan anak-anak. Akupun tidak pernah lagi menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Anak-anak juga terasa bahagia lagi karena bisa sering bersamaku.
Lalu hari ini aku, Kiyan dan anak-anak sedang diperjalanan menuju sebuah resto tempatku janjian dengan Karina dan Bragi. Ya tiga hari lalu Karina dan Bragi mengundangan aku dan keluarga untuk datang makan siang hari ini. Sepertinya sih ada yang mereka ingin sampaikan pada kita semua. Karena infonya Dipta dan Yoga pun diundang makan bersama.
Sesampainya di resto daerah kemang. Aku, Kiyan dan anak-anak segera turun dan masuk ke dalam resto. Kami melangkah mengikuti arahan dari pramuniaga resto ini ke meja yang sudah direservasi oleh Karina dan Bragi.
Langkahku tinggal beberapa meter ke tempat Karina. Dan aku melihat mereka semua sudah berkumpul termasuk Yoga beserta istri dan anak-anaknya. Kecuali Dipta yang sepertinya datang sendirian.
Aku menggandeng erat tangan kiri Kiyan, sedangkan tangan kanannya menggandeng Khana, lalu Ibaz sedang asik jalan sendiri didepan kita.
Sampai tepat di meja, mereka semua menyambutku, Kiyan dan anak-anak. Apalagi Yoga dengan spontan langsung memelukku erat. Beruntunglah Kiyan tidak pernah keberatan dengan hal seperti itu. Dan istrinya Yoga juga sepertinya mengerti kondisi pertemanan kami.
"Ya ampun Cha....ketemu juga gw sama lo..." ucap Yoga.
"Sumpah kangen banget gw Ga..." tanpa sadar mataku memerah dan berair.
"Ya elaahhh udah kaya acara tali kasih, pake mewek-mewek segala..." ledek Bragi melihatku yang mau menangis ketika dipeluk erat oleh Yoga.
Aku dan yang lain tertawa mendengarnya. Yoga dan aku bergantian bersalaman dengan Kiyan dan istri nya Yoga. Begitu juga dengan Dipta, Karina dan Bragi. Mereka menyambut kita dengan baik. Kiyan pun bisa berbaur hangat dengan Yoga, Bragi maupun Dipta. Aku juga saling bertukar cerita dengan Karina dan istrinya Yoga. Sedangkan anak-anak sedang asik main bersama dan saling mengenal.
Yoga memiliki 2 anak. Anak pertamanya perempuan 1tahun dibawah umur Ibaz, sedangkan anak keduanya juga perempuan masih berumur 7bulan.
Aku dan Karina juga sesekali bergantian menggendong bayinya Yoga.
"Tambah lagi lah Cha...kayanya kangen banget pengen punya bayi lagi..."
"Oh no...cukup udah mereka berdua saja...kalo nggak anak lo aja gw bawa pulang ya..." jawabku sambil melirik gantian antara Kiyan dan Yoga.
"Wess jangan dong ,bikin susah, hamil repot, ngelahirin sakit, masa anaknya dibawa orang..." ucapnya.
"Kata siapa lo bikinnya susah?" Tanya Bragi sambil senyum-senyum meledek.
"Dih..lo kira gampang bujuk istri bikin anak kalo lagi nggak mood...lo rasain deh ntar kalo Karina lagi males-malesan maen sama lo..."
"Lah emang bisa males-malesan ya...." tanya Bragi yang hanya direspon ketawa oleh kita semua.
Tapi nggak dengan Dipta. Dia dari tadi lebih sibuk dengan Hp nya.
Setelah beberapa menit kita ngobrol, pesanan makanan dan minuman sudah datang komplit di meja. Bragi pun mulai membuka percakapan sebelum kita mulai makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LURUH : Cinta Lama Yang Terlarang (END) (REVISI)
ChickLitWarning!! DEWASA!!! Komitmen penting ketika menikah adalah SETIA. Sudah 5 tahun Nata Arisya menjalani pernikahan dengan seorang pria yang pasti sangat dicintainya Kiyanza Adiputra bahkan tanda cinta mereka sudah ada dua yakni seorang putra Ibaz Adip...
