Aku hanya bisa diam tanpa menolak apapun ketika Dipta mencium keningku dengan intim. Beberapa detik aku merasakan lagi Dipta sudah melepas ciumannya di keningku. Aku pun menatapnya dan hanya bisa menatapnya dengan perasaan yang tak menentu. Diptapun terus menatapku sambil menggenggam erat kedua tanganku.
"Dip..." aku berusaha memulai lagi obrolan kita yang tertunda karena suasana yang makin baper.
"Aku nyesel Cha..."
"Hah ..??" tiba-tiba perasaanku nambah nggak nentu nih mendengar dia bilang 'nyesel'
"Iyaa aku nyesel, kenapa baru sekarang aku bilang soal perasaan aku. Jujur aku terlalu takut untuk nyatain ini semua ke kamu. Aku takut penolakan dari kamu. Aku takut saat penolakan itu hubungan kita jadi jauh. Aku takut Cha jauh dari kamu. Diantara semua cewe yang pernah deket sama aku cuma Iliana aja yang bener-bener bisa ngalihin obesesi aku ke kamu. Yaa awalnya aku kira aku hanya terobsesi sama kamu. Tapi pada kenyataannya walaupun itu seorang Iliana yang jadi pacar aku, ternyata di dalam hati aku sebelumnya, memang cuma kamu yang aku harapkan bisa disamping aku. Tapi setelahnya, ternyata aku terlalu pengecut untuk nunjukin perasaan aku ke kamu dan membiarkan kamu berpetualang dengan mereka yang mengejar kamu Cha. Dan aku malah ditakdirkan baru tau saat ini, kalau kamu juga punya perasaan dan berharap yang sama kaya aku. Sumpah aku semakin nggak bisa kendaliin perasaan aku saat ini Cha...." Dipta kembali memelukku karena begitu banyak yang dia luapkan hari ini.
Yaa karena aku juga masih kebawa kondisi yang baper ini, aku juga membalas pelukannya lagi.
"Dipta....kenapa aku takut semua ini nggak nyata ya...aku takut kalau ini ternyata cuma bayangan aku doang...."
Dipta melepas pelukannya dan menatapku dengan penuh.
"Kamu belum yakin sama yang aku omongin?"
"Bukan nggak yakin sama yang kamu omongin Dip...aku cuma takut kalau ini nggak nyata...aku cuma takut semua ini bayangan aku aja karena ternyata aku memang masih ada harapan tentang perasaan kamu...."
Dipta hanya menatapku dan menyentuh pipiku yang masih basah karena air mataku yang tadi mengalir deras. Tiba-tiba dengan sekejap aku merasakan tanpa seizin ku Dipta sudah mencium bibirku dengan lembut.
Tapi aku???,,aku tetap tidak berkutik, aku terlalu terbawa suasana. Bahkan aku merespon ciuman itu sambil menyentuh wajahnya juga. Semakin intim Dipta menciumku, aku merasakan tangannya memeluk pinggangku dan sedikit memijat punggungku. Semakin dalam juga aku meresponnya. Entah berapa banyak syaiton yang mendorong kita untuk semakin intens berciuman.
Cukup lama kita berciuman meluapkan apa yang kita simpan selama ini. Sampai aku mulai merasa susah bernafas, perlahan aku mengecilkan volume ciumanku agar bisa mengambil nafas dulu sebelum Dipta melanjutkan ciumannya. 'bodohnya aku malah berharap ciuman ini tidak berhenti'. Mungkin aku memang sangat menginginkannya. Tapi yaa itulah yang terjadi, kita tenggelam dalam perasaan yang kita simpan selama ini. Ciuman ini lah luapan perasaan kita yang setelah sekian tahun satu sama lain baru mengetahuinya.
Aku perlahan mengecilkan keintiman kita berciuman, sedikit demi sedikit aku merenggangkan ciuman ini. Setelah terlepas aku tidak berani menatap wajah Dipta. Jujur aku jadi merasa malu atas diriku sendiri yang juga tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku sedikit melihat Dipta juga tidak menatapku, dia juga menundukkan pandangannya, tetapi tangannya kembali menggenggam erat tanganku.
"Aku minta maaf...."
"Nggak perlu dip...kamu nggak perlu minta maaf...aku juga terbawa suasana..."
"Chaaa....boleh nggak pertemuan kita nggak berakhir disini....boleh nggak kita masih bisa ketemu kaya gini...boleh kan Cha kamu sering temenin aku di apartemen ini...apartemen yang seharusnya jadi tempat tinggal kita Cha...."
KAMU SEDANG MEMBACA
LURUH : Cinta Lama Yang Terlarang (END) (REVISI)
أدب نسائيWarning!! DEWASA!!! Komitmen penting ketika menikah adalah SETIA. Sudah 5 tahun Nata Arisya menjalani pernikahan dengan seorang pria yang pasti sangat dicintainya Kiyanza Adiputra bahkan tanda cinta mereka sudah ada dua yakni seorang putra Ibaz Adip...
