Aku dan ibu keluar ruangan ketika suara monitor itu berdengung lurus. Para dokter dan para perawat berdatangan memasuki ruangan dan segera memeriksa kondisi Dipta.
Aku dan ibu juga langsung berarah ke ruang tunggu menemui Fita dan yang lainnya. Ketika melihat Karina, aku langsung memeluk Karina. Bragi juga langsung mendekapku berusaha menenangkan aku.
Ku lihat sekilas ke arah ibu, ibu saling berpelukan dengan Fita. Sedangkan Astri sedang mondar mandir di depan pintu ruang ICU dengan wajah yang cemas.
Kami semua masih menunggu kabar dari dokter dan para tim medis lainnya yang sedang menangani kondisi Dipta.
Beberapa saat aku berusaha menenangkan diriku sendiri, aku menghampiri ibu. Aku duduk disampingnya, menggenggam tangannya.
"Kita berdoa semoga Dipta baik-baik ya bu..." ucapku yang langsung direspon dengan pelukan dari ibu.
Aku melirik ke arah Astri yang sedang duduk tidak jauh dari jarak aku dan Ibu duduk. Dia hanya menatap kami sekilas lalu mengalihkan lagi pandangannya ke arah lain.
Lalu aku melihat Bragi menghampiri Astri dan duduk disamping Astri. Dan dari semenjak aku datang sampai kondisi Dipta kritis, baru detik ini aku melihat Astri menangis. Menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.
Fita melihat ke arah Astri, lalu dia juga menghampiri Astri dan memeluknya. Berusaha menenangkan Astri yang sebenarnya juga terpukul dengan kondisi Dipta saat ini. Disaat bersamaan Karina menghampiri aku dan Ibu. Karina ikut berusaha menenangkan aku dan ibu.
Selang beberapa menit akhirnya dokter spesialis yang menanganin Dipta memanggil keluarga Dipta. Ibu, Fita dan Astri segera menghampiri dokter dan hanya ibu didampingi Fita yang masuk ke dalam ruangan mengikuti langkah dokter.
Aku dan yang lainnya masih menunggu diluar, Astri berdiri tepat di depan pintu ruangan. Lalu kami melihat sosok Fita keluar dan langsung memeluk erat Astri.
Aku hanya melihat Fita menangis histeris sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Astri yang juga sudah memiliki firasat sama seperti aku.
Dia langsung melepas pelukan Fita dan berlari menuju ruangan Dipta.
Sedangkan aku hanya menatap Fita dengan penuh keputus asaan. Aku menjatuhkan diri duduk di bangku. Karina langsung menghampiriku dan memelukku, kami sama-sama menangis, berusaha tidak mempercayai kondisi saat ini, tapi semuanya nyata. Sedangkan Bragi menghampiri Fita dan memeluk Fita.
Setelah kami berusaha menerima semuanya dengan kekuatan. Akhirnya Dipta dipulangkan ke rumah. Dan kita melanjutkan merapihkan semuanya di rumah Ibu.
Dan selama di rumah ibu. Aku, Karina dan Bragi membantu keperluan-keperluan untuk mengurus Dipta di rumah. Aku sempat melihat Ganesh. Dan air mataku menetes lagi ketika melihatnya. Ganesh harus kehilangan ayahnya. Dia masih kecil dan sudah tidak memiliki ayahnya lagi.
Akupun memberanikan diri menghampiri Ganesh.
"Hai boy..." sapaku. Dia menoleh kearahku dengan wajah bingung.
"Tante Arisya, temennya yahnda.." ucapku sambil mengelus-ngelus kepalanya.
"Iya tante..." jawabnya.
"Ganesh terus tumbuh jadi anak yang baik ya...yahnda pernah bilang sama tante, yahnda itu sayang banget sama Ganesh. Ganesh itu adalah kehidupan buat yahnda..." ucapku sambil memeluknya.
"Ganesh juga sayang banget ma yahnda, tapi yahnda sekayang udah tidu selamanya tante. Bunda bilang, Ganesh hayus selalu bahagia walaupun yahnda udah nggak bisa becanda lagi sama Ganesh..." ucapnya seperti anak-anak yang sudah lebih besar dari umurannya.
Aku yang mendengarnya menangis tersedu dalam pelukannya.
"Tante jangan nangis, nanti yahnda nggak suka kalau liat ada yang nangis..."
KAMU SEDANG MEMBACA
LURUH : Cinta Lama Yang Terlarang (END) (REVISI)
ChickLitWarning!! DEWASA!!! Komitmen penting ketika menikah adalah SETIA. Sudah 5 tahun Nata Arisya menjalani pernikahan dengan seorang pria yang pasti sangat dicintainya Kiyanza Adiputra bahkan tanda cinta mereka sudah ada dua yakni seorang putra Ibaz Adip...
