Saskia termenung di atas tempat tidur sambil memangku gitar kesayangannya. Dagunya bertumpu pada gitar sementara jari-jarinya sibuk menari di atas senar, menciptakan nada-nada tidak beraturan. Tatapannya kosong, memandang keluar jendela kamarnya sementara pikirannya terisi penuh. Memikirkan tentang karirnya, tentang orang-orang yang harus ia bahagiakan, juga tentang Rony.
Ia kadang kebingungan harus berbuat apa ketika Rony terang-terangan menyatakan perasaannya. Karena Saskia sendiri belum paham perasaan seperti apa sebenarnya yang ia miliki. Saskia hanya tidak suka kalau Rony mendadak cuek padanya.
Saskia menghembuskan nafas berat. Jemarinya masih memetik senar-senar gitarnya. Melelahkan sekali rasanya hidup dalam kebingungan. Ingin bertanya pada salah satu sahabatnya, ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menceritakannya. Dan sahabatnya belum tentu paham yang ia maksud.
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Saskia tersadar dari lamunannya. Ia membuka pintu kemudian tersenyum pada Dinda.
"Mba Saskia, ada Kak Rony di depan," ucap Dinda
"Suruh dia nunggu ya, Din. Aku ambil kerudung dulu," sahut Saskia kemudian membalik badannya memasuki kamar.
Beberapa menit kemudian ia melangkah menemui Rony yang sedang sibuk dengan ponselnya di ruang tengah rumahnya.
"Kebiasaan banget ke sini gak bilang-bilang," seru Saskia yang membuat Rony mengalihkan pandangannya dari ponsel ke Saskia.
"Nanti takutnya kalau gue bilang lo malah pergi," sahut Rony. Matanya sibuk memperhatikan Saskia yang bergerak dari awalnya berdiri di hadapannya menuju ke single sofa dan mendudukkan dirinya.
"Ki, jalan yuk," Saskia menoleh mendengar ajakan Rony itu.
"Kemana?"
"Motoran aja gimana?"
"Gue pengen lihat sunset," sahut Saskia. Rony tersenyum mendengarnya.
Dari dulu Rony selalu suka cara Saskia memutuskan sesuatu. Ia tidak seperti gadis kebanyakan yang jika ditanya, jawabannya selalu terserah. Saskia tahu apa yang ia mau dan tidak pernah ragu untuk mengutarakannya.
"Berarti lo mau kan jalan sama gue?"
"Ya tapi gak motoran."
"Kenapa? Lo udah gak level naik motor ya?"
Bukan begitu. Saskia hanya takut mengulang hal yang lalu. Takut kejadian yang lalu terulang kembali. Takut Rony menghilang lagi.
"Gak gitu," sahut Saskia.
"Yaudah kita gak motoran. Tapi pakai mobil lo gapapa? Gue bawa motor soalnya," sebenarnya ada rasa tidak enak di hati Rony ketika mengajak Saskia pergi tapi harus menggunakan mobil milik gadis itu.
"Atau gue pulang dulu deh ambil mobil."
"Gak usah, Ron. Pakai punya gue aja."
Rony tersenyum mendengarnya. Itu artinya Saskia menyetujui ajakannya.
****
Sebuah cafe di kawasan Jakarta Utara menjadi pilihan mereka. Cafe yang berlokasi di Ancol tersebut menyajikan keindahan lautan yang nantinya juga akan memperlihatkan langit yang berubah warna.
Rony sengaja memilih tempat duduk di area outdoor agar mereka bisa menikmati pemandangan laut sembari merasakan semilir angin yang menyentuh kulit mereka.
"Mau makan apa?" tanya Saskia sambil membolak-balikkan buku menu di tangannya. Ia kebingungan memilih makanan yang semuanya terlihat enak.
Rony belum menjawab. Ia ikut mengamati menu di tangan Saskia yang duduk di sebelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada
FanfictionKembalinya Rony setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar menciptakan kebingungan dalam hati Saskia Rony tiba-tiba menghubunginya lagi. Laki-laki itu juga kembali membuka kenangan yang susah payah Saskia kubur dalam hidupnya. Ketika Rony kembali, a...
