Bagian Enam Puluh Dua

6.5K 379 19
                                        

Rony berdecak berkali-kali. Menunggu Saskia yang sedang rekaman bersama Zidan membuatnya benar-benar kesal. Meski Saskia mengatakan telah menolak tawaran berduet itu, nyatanya managemen tetap menginginkannya. Saskia tidak punya pilihan lain selain menerima.

Rony melipat tangannya di depan dada. Menyaksikan dua orang yang sedang berdiri di dalam ruang rekaman dari luar ruangan bersekat kaca. Rony mendengus tiap kali ada tawa diantara keduanya yang tertangkap netra Rony. Ia tahu, proses rekaman itu tidak akan memakan waktu yang sebentar. Terlebih karena Zidan baru pertama kali menginjak dapur rekaman. Dan mengingat Saskia harus menuntun lelaki itu, Rony semakin kesal.

"Muka lo bisa biasa aja gak sih? Udah mau kawin juga masih cemburu aja," celetuk Candra yang sedari tadi gemas melihat wajah Rony.

Candra biasanya irit sekali berbicara. Pasti wajah Rony kala itu membuatnya merasa gemas untuk tidak berkomentar.

"Harusnya rekamannya setelah gue nikah aja gak sih Bang? Jadi dia gak ada kesempatan buat caper lagi sama cewek gue," komentar Rony sembari mendudukkan dirinya di sebelah Candra.

"Terus filmnya tayangin dulu, soundtrack-nya nyusul, gitu?" Candra terkekeh melihat Rony yang mendengus.

"Lagian kenapa juga dia harus ikutan nyanyi? Main film ya main film aja kenapa sih?" Rony menggerutu.

Candra tidak menjawab lagi. Ia hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan kecemburuan Rony. Padahal Saskia dan Zidan di dalam sana tidak sedang melalukam hal yang bisa memancing kecemburuan Rony. Masih sangat normal di mata Candra.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Saskia keluar. Gadis itu berbincang sejenak dengan produser untuk lagu tersebut. Wajah gadis itu terlihat sangat serius menyimak arahan sang produser. Kemudian ia berjalan ke arah Rony. Rony bangkit dari tempat duduknya, membiarkan Saskia yang menempatinya. Kemudian ia meraih tumbler di dalam ranselnya, membuka tutupnya dan memberikannya pada Saskia.

"Masih lama?" tanya Rony.

Saskia menggeleng setelah menegak air hangat dari tumbler yang tadi diberikan Rony.

"Bentar lagi kelar kok, sayang. Sabar ya," sahut Saskia.

Rony mengangguk sambil mengacak puncak kepala Saskia. Membuat kerudung gadis itu sedikit berantakan.

"Ron! Berantakan, ih," protes Saskia sembari merapikan kerudungnya.

Zidan yang diam-diam memperhatikan kegiatan mereka hanya bisa menarik nafas berat. Merasa kalah dari lelaki yang sedang bersama Saskia itu.

"Ron, congrats ya atas pertunangan kalian, gue kebagian undangannya nanti, kan?" ucap Zidan sembari menyalami Rony. Meskipun ia merasa kalah telak, biar bagaimana pun ia tetap harus memberi selamat.

"Thanks, ya bro. Gampang itu nanti kita kirim ke rumah lo," sahut Rony.

"Sayang, habis ini temenin aku ke tempatnya Fitri ya, kamu masih keburu kan?"

"Masih dong sayang. Tapi kamu jadi temenin aku off air kan?"

"Pengen banget aku temenin?"

"Soalnya GM-nya caper, jadi aku butuh pengawal," sahut Rony asal.

"Enak aja caper-caper sama Rony-ku. Yaudah aku ikut." Rony tersenyum mendengarnya. Saskia mode posesif selalu membuatnya senang.

"Yaudah sana lanjut lagi biar cepet kelar. Aku ke depan bentar ya, mau ngerokok."

"Rokok terus!" seru Saskia sebal. Entah sejak kapan gadis itu mulai tidak suka melihat Rony dengan rokoknya.

Rony terkekeh. Mengingat cerita Papa Saskia tempo hari, ia yakin di masa depan Saskia pun akan mengomelinya seperti mamanya.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang