Bagian Dua Puluh Dua

6.5K 382 6
                                        

Rony memarkirkan mobilnya di depan rumah tanpa gerbang, kemudian dengan tergesa melangkah menaiki beberapa anak tangga yang akan mengantarkannya ke depan pintu rumah itu. Seorang perempuan bertubuh mungil membukakan pintu untuknya.

"Cari siapa ya?" tanya perempuan itu.

"Saskia ada Mbak?" tanya Rony.

Perempuan itu tampak berpikir sejenak, kemudian ia teringat, Rony beberapa waktu lalu juga bertamu ke rumah itu.

"Masuk dulu Mas, Mbak Saskia lagi keluar. Katanya sih gak lama."

Rony mengangguk. Kemudian mengikuti Mbak Wiwit memasuki rumah dan mengambil tempat duduk di sofa ruang tengah rumah Saskia.

Rony memainkan ponselnya sembari menunggu kehadiran Saskia. Ia belum mengabari Saskia kalau ia akan berkunjung ke rumahnya, tapi berdasrkan informasi yang ia dapatkan dari Paul, hari itu Saskia sedang kosong. Dan biasanya kalau sedang kosong gadis itu lebih sering berdiam diri di rumah.

****

Suara gelak tawa Saskia membuat Rony mengalihkan pandangan dari ponselnya ke sumber suara. Ia bangkit dari duduknya kemudian tersenyum pada gadis yang masih berdiri di dekat pintu itu. Sejenak senyumnya memudar ketika melihat seseorang memasuki rumah menyusul Saskia dengan tawanya juga. Entah apa yang mereka tertawakan, Rony tidak tahu.

"Eh, ada Rony. Udah lama Ron? Kok gak ngabarin mau ke rumah?" tanya Saskia. Ia mendekati Rony sambil mempersilahkan lelaki iti duduk kembali.

"Sas, gue balik ya. Makasi loh traktirannya," pamit laki-laki yang masih berdiri di dekat pintu itu.

"Makasi mulu, gak bosen?" sahut Saskia. Itu adalah kali ketiga Juna mengucapkan terimakasih padanya.

"Hati-hati ya Jun," Saskia melemparkan senyum pada Juna.

"Habis dari mana?" tanya Rony ketika Juna telah berlalu.

"Makan siang doang," sahut Saskia seadanya.

"Dih, lo yang traktir gitu?"

"Emang kenapa?"

Rony mendengus. "Gak modal amat jadi cowok," gumamnya.

"Gue yang janjiin, lagian sama anak band yang lainnya," Saskia yang tidak terima penilaian Rony itu meningkatkan intonasi suaranya.

"Ya biasa aja, gak usah pake ngegas," komentar Rony.

Saskia menekuk wajahnya. Rony kembali pada mode menyebalkannya. "Kalo kesini cuma mau buat gue kesel, mending pulang deh, Ron."

Rony terkekeh mendengar omelan Saskia. Bukannya tersinggung karena telah diusir oleh si tuan rumah, ia justru merasa gemas. "Masih galak aja," ucap Rony sambil tersenyum tipis.

"Ngomong-ngomong itu Juna yang dulu digosipin pacaran sama lo kan?"

Rony ingat wajah laki-laki itu. Saat ia berada di Australia dulu, Saskia pernah digosipkan berpacaran dengan salah satu anggota bandnya karena kerap terlihat bersama di luar pekerjaan. Rony tahu Juna adalah teman kuliah Saskia, dan seakrab apa mereka. Awalnya ia tidak mau ambil pusing meski ketakutan di hatinya tetap ada. Rony takut berita itu bukan hanya gosip. Ditambah dengan Saskia yang tidak pernah memberi klarfikasi apapun perihal itu.

"Ada urusan apa lo ke rumah gue?"

"Jangan galak-galak. Gue tamu."

"Bodoamat, Ron."

Hening sejenak. Rony sibuk menatap wajah Saskia yang masih tertekuk dari samping. Sementara Saskia sedang berperang dengan isi kepalanya mengenai tujuan Rony datang ke rumahnya hari itu.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang