Saskia duduk di halaman belakang rumahnya sembari memperhatikan Simba dan Elsa yang sibuk berlarian kesana kemari. Kakinya ia celupkan di dalam kolam renang, sementara tangannya ia lipat di atas paha. Sesekali ia meraih kedua kucingnya itu sembari mengelus kepala mereka, gemas. Kemudian matanya menatap lurus ke atas, menyaksikan langit cerah yang dihiasi kilauan bintang. Rasa kesepian menyeruak di dadanya. Saat sendirian dan sedang tidak bekerja, rasa kesepian itu kerap menyapanya.
Kadang Saskia merasa iri pada teman-temannya. Iri pada Paul dan Nabila yang hubungan mereka awet dan mendapat dukungan banyak orang. Juga pada Novia yang sebentar lagi akan dipinang sang kekasih yang ia temui dua tahun lalu. Sementara Saskia, masih betah menyendiri dan menikmati kesepiannya.
Orang tuanya beberapa kali memberinya saran untuk mulai membuka hati pada laki-laki, namun Saskia tidak pernah mau mencoba. Ia terlalu takut pada sesuatu yang telah terjadi di masa lalu. Ia takut kehilangan lagi ketika hatinya telah jatuh pada satu orang.
Getaran ponsel di sebelahnya membuyarkan gadis itu dari lamunannya.
Rony : Ki, lagi di mana?
Saskia : Di rumah. Kenapa Ron?
Rony : Mau ketemu, boleh?
Saskia : Biasanya juga lo tinggal nongol di rumah gue. Tumben amat pake nanya
Rony : nanya salah, gak nanya salah. Salah mulu gue
Rony : gue di depan rumah lo, gak ada yang bukain
Saskia : bener kan, udah di depan baru ngabarin. Tunggu Mbak Wiwit udah jalan ke depan
Rony mendudukkan dirinya di sebelah Saskia. Duduk bersila menghadap Saskia yang duduk menyampinginya. Ia memperhatikan wajah Saskia yang masih menatap langit dengan seksama. Pemandangan terindah yang tidak pernah bosan ia lihat.
"Jangan liatin gue," seru Saskia tanpa mengalihkan pandangannya dari langit pada Rony yang sedari tadi memandang wajahnya.
"Ki, selama gue pergi, apa lo hidup dengan baik?" tanya Rony tanpa memalingkan matanya dari wajah Saskia.
"Perasaan udah pernah gue jawab," sahut Saskia.
"Gue mau detailnya."
"Biar apa?"
"Biar gue makin yakin kalau gue udah milih orang yang tepat."
Saskia memalingkan wajah yang awalnya menatap lurus ke langit pada Rony yang membuat mata mereka saling tatap.
"Gak ada hubungannya," protes Saskia.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih," gerutu Rony.
"Kalau lo sendiri gimana Ron?" pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan yang ingin Saskia tanyakan selama mereka berpisah. Apakah Rony baik-baik saja di sana? Bagaimana kehidupan Rony? Bahagiakah laki-laki itu menjalani hidupnya?
"Gue lebih ke merana, Ki," sahut Rony.
Saskia tertawa mendengarnya. Terlalu aneh baginya mendengar Rony menyebut dirinya merana.
"Gue serius. Lo boleh tanya Bang Rey atau Hana. Gimana merananya gue di sana. Bang Rey orang yang tiap hari gue telpon buat nanyain kabar lo. Dan Hana, dia yang liat gue kerja part time mati-matian cuma buat cari kesibukan."
"Kerja part time karena lo butuh duit kan?"
"Itu juga sih. Biaya hidup di sana besar," sahut Rony.
"Itu namanya berjuang demi kelangsungan hidup di negara orang, bukan merana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada
Fiksi PenggemarKembalinya Rony setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar menciptakan kebingungan dalam hati Saskia Rony tiba-tiba menghubunginya lagi. Laki-laki itu juga kembali membuka kenangan yang susah payah Saskia kubur dalam hidupnya. Ketika Rony kembali, a...
