Bagian Empat Puluh Tujuh

6.4K 387 6
                                        

Saskia dan Rony tiba di sebuah lounge bertuliskan Bliss dengan lampu berwarna ungu di depannya. Rony menggandeng tangan Saskia, memasuki tempat itu yang kemudian mereka disambut oleh seorang perempuan berpakaian casual. Sepertinya pegawai disana.

"Ron, aku pengen nonton kamu boleh nggak?" tanya Saskia sembari mengikuti langkah perempuan tadi, berjalan menuju suatu ruangan lumaian besar di belakang panggung.

"Kamu yakin duduk di depan panggung sendirian?"

Saskia mengangguk. Tujuannya ikut memang ingin menonton Rony bernyanyi di atas panggung, bukan menunggu di belakang layar.

"Tapi kamu cari tempat terdekat dari panggung ya, biar aku bisa jagain kamu terus," ucap Rony, Saskia mengangguk senang.

Kemudian Rony mengantar Saskia ke depan panggung, mencarikan gadis itu tempat duduk yang sekiranya bisa ia lihat meskipun sedang berada di belakang panggung nanti. Setidaknya Rony bisa menjaga Saskia meski dari kejauhan.

Mereka memilih tempat duduk tepat di depan panggung. Sebuah sofa berbentuk setengah lingkaran berkapasitas enam orang, di hadapannya terdapat sebuah meja dengan lampu berwarna kuning berbentuk bulan di atasnya.

Saskia menyesap hibiscus ice tea, sebuah minuman berbahan dasar bunga rosela yang tadi dipesannya sembari menikmati pertunjukan live music di atas panggung. Rony belum tampil, lelaki itu akan menjadi penampil terakhir.

"Saskia?" seseorang menghentikan langkahnya ketika lewat di depan meja Saskia. Saskia menengok kemudian tersenyum.

"Long time no see," ucap orang itu lagi, kemudian mengambil tempat duduk di dekat Saskia.

"Apa kabar Mar?" tanya Saskia kepada lelaki yang ia temui itu.

"Baik, Sas. Oh ya lo ngapain di sini? Sendirian?"

"Itu, nemenin Rony," ucap Saskia sembari menunjuk foto Rony yang terpampang pada layar di sebelah kanan dan kiri panggung. "Lo sendiri ada acara apa?"

"My friend's birthday party. Tapi kayanya gue kesorean, belum pada dateng yang lainnya. Gue nunggu sini bentar gapapa kan? Gampang soalnya liat orang datang dari sini."

"Santai aja kali Mar, duduk ya duduk aja. Tegang amat hidup lo," sahut Saskia.

Rony naik ke atas panggung. Para penggemar yang rata-rata perempuan berteriak mengeluhkan namanya. Rony melambaikan tangan, mengucapkan selamat malam dengan senyum menawannya. Matanya menangkap sosok gadisnya yang tersenyum bangga ke arahnya. Ia melambaikan tangan tipis pada Saskia.

Di lagu kedua, Rony mulai salah fokus pada seorang lelaki yang duduk di sebelah Saskia. Saskia dan laki-laki itu sesekali asyik berdua, membuat Rony yang bernyanyi di atas panggung merasa diabaikan oleh gadisnya. Sesekali lelaki di sebelah Saskia itu menyenggol lengan gadisnya. Saskia juga terlihat sering memukul lengan lelaki itu. Terlalu banyak kontak fisik yang tertangkap netra Rony, membuatnya merasa gerah. Untuk pertama kalinya, bernyanyi di atas panggung tidak menyenangkan baginya.

"Thanks ya Ron, lo keren banget," ucap Dessy, seorang perempuan muda berparas blasteran yang menjadi general manager di tempat itu ketika ia melangkah menuju backstage seusai bernyanyi. Rony cukup kenal dengan perempuan itu karena hampir tiap minggu ia mengisi acara di lounge tersebut.

"Semoga gak bosen undang gue kesini sih, Des," sahut Rony.

Perempuan itu menyentuh bahu Rony, "gak mungkin bosen lah, kalau tiap lo manggung di sini revenue gue naik drastis," sahutnya.

"Happy to hear that. Eh, gue ke depan dulu ya," pamit Rony. Ia sudah tidak sabar menemui Saskia.

"Mau langsung balik atau nongkrong dulu?"

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang