Bagian Empat Puluh Lima

6.7K 386 5
                                        

"Sayang, kita cari makan yuk. Aku laper. Atau kamu mau masakin aku lagi?" tanya Rony saat mereka berjalan menju parkiran kantor management.

Saskia melirik jam tangannya, pukul tujuh malam. Pantas saja Rony kelaparan. Ia teringat tempat makan di dekat kantor yang dulu sering ia kunjungi bersama Novia. Sebuah warung sederhana yang menjual makanan rumahan.

"Di deket sini ada tempat makan enak, Ron. Kamu mau coba?" usul Saskia, tentu Rony menyetujuinya.

Mereka urungkan niat berjalan ke parkiran. Langkah mereka berbelok menuju gerbang kantor tersebut, melewati post satpam. Rony berbincang sebentar dengan para satpam yang berjaga, mengatakan kalau nanti mereka akan kembali mengambil mobil. Menukarkan kartu visitor yang tadi mereka terima dengan kartu identitas yang ditahan di post tersebut.

"Pak," sapa Saskia kepada dua orang di dalam pos satpam.

"Mau makan ya Sas? tanya salah satu satpam tersebut. Sepertinya sudah akrab dengan Saskia.

Mereka tiba di sebuah warung yang tidak terlalu besar. Hanya butuh berjalan kaki sekitar seratus meter dari kantor tersebut. Seorang wanita paruh baya menyapa Saskia, nampaknya Saskia memang sering datang ke tempat itu.

"Mau apa Ron?" tanya Saskia. Rony membaca deretan nama makanan yang tertulis dinding bagian atas.

"Aku mau nasi goreng ikan asin, kamu apa?" sahut Rony.

"Bu, aku ayam cabe garam, nasinya separuh seperti biasa ya," ucap Saskia pada wanita yang menyapanya tadi.

Untuk minumannya mereka memilih air mineral.

Sembari menanti makanan, mereka sibuk mengobrol. Membahas yang ringan-ringan tentunya. Tidak ingin membahas masalah pelik di tempat umum. Kata Rony di tempat umum itu kadang dinding pun punya telinga. Saskia setuju.

"Eh, Ron, tadi pas aku ke apart Devan, dia lagi galau tahu."

"Kenapa dia?"

"Beranten sama Aisha."

"Berantem mulu," komentar Rony. Lelaki itu lumaian sering mendengar cerita dari Devan saat hubungannya dengan Aisha tidak sedang baik-baik saja.

"Wajar lah Ron. Mereka udah lama pacaran, pasti cekcok itu ada. Bumbu-bumbu cinta katanya," ucap Saskia.

"Tapi aku gak mau berantem sama kamu Ki."

"Aku juga Ron. Masa ada orang yang mau berantem?"

"Akur terus ya kita," pinta Rony.

"Bukannya dari dulu kita susah akur ya Ron?"

Mereka tertawa teringat masa lalu. Saskia dengan sumbu pendeknya, dan Rony dengan segala keisengannya. Setiap bertemu, pekerjaan Rony adalah menjahili Saskia, membuat gadis itu marah-marah kemudian Rony tertawa puas. Begitu terus tapi mereka tidak pernah bermusuhan. Saskia tidak pernah memasukkan keisengan Rony ke dalam hatinya. Marahnya pun tidak lama.

"Aku masih inget cowok ngantukan yang ngatain aku berisik padahal kita belum kenal," ucap Saskia kemudian kembali tertawa.

"Aku juga ingat perempuan dengan kesabaran setipis tisu yang hobinya marah-marah. Tapi bikin aku sayang," sahut Rony.

"Hm gombal," tukas Saskia.

"Serius, aku jailin kamu ya karena mau menarik perhatian kamu aja. Coba inget deh, apa aku pernah jailin perempuan lain?"

"Ron, kita pasti juga akan ada berantemnya nanti. Tapi janji ya, semarah apapun kamu ke aku, kita gak boleh diem-dieman," ucap Saskia, ia membayangkan Devan yang merana akibat didiamkan Aisha tadi.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang