Saskia merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Gitar yang tadi dipangkunya telah berpindah ke tempat semula. Siang itu ia memutuskan untuk pergi ke studionya. Sekedar berlatih vokal atau membuat lagu agar lebih produktif. Rony yang mengantarnya. Lelaki itu memaksa mengantar Saskia karena semakin sedikit waktu yang mereka miliki untuk bertemu. Jadwal mereka makin padat. Terutama Rony yang mulai disibukkan dengan persiapan albumnya.
Selama dua jam berada di studio, Saskia merampungkan satu lagu. Selama perjalanan pulang dari Jogja kemarin, beberapa sajak berputar di kepalanya minta dituangkan menjadi sebuah lirik. Nadanya baru berhasil ia dapatkan tadi. Saskia meraih ponselnya, mengirim rekaman suara yang tadi dibuatnya pada Rony. Meminta pendapat laki-lali itu. Biasanya Rony yang paling jenius dalam pemilihan nada-nada.
"Ngapain Sas?" Tanya Haikal saat tiba di studio Saskia. Setengah jam yang lalu lelaki itu menghubungi Saskia, mengatakan ingin bertemu. Ada yang ingin ia diskusikan katanya.
Sharing mengenai musik dengan Haikal atau teman-temannya yang lain memang sudah biasa bagi Saskia. Jadi ia tidak merasa terganggu atas keinginan Haikal untuk berdiskusi dengannya. Biasanya Saskia juga begitu jika otaknya buntu.
"Abis bikin lagu, gue," sahut Saskia.
"Gue pusing tahu Sas," keluh Haikal sembari mengeluarkan ponselnya.
"Kenapa?"
"Gue dimintain lagu dengan beberapa versi yang berbeda. Bingung bikin vibes-nya gimana."
"Lagu yang sama?"
"Iya, Sas."
"Bukannya lo udah biasa?"
Haikal menarik nafas berat. "Kali ini gue lagi buntu aja," ucapnya.
Kemudian mereka berdiskusi. Saskia mengambil kembali gitarnya. Haikal menunjukan lirik lagu dan nada asli lagu tersebut. Saskia nampak menimbang. Liriknya terlalu sendu, hanya cocok dibuat ballad.
"Harus lagu ini emang?"
"Ya, mereka mintanya lagu ini. Kan bingung ya mau dibuat versi gimana lagi?"
"Koploin aja," sahut Saskia asal. Ia sendiri pusing melihatnya.
"Yang satu biarin ballad aja udah. Yang satu lo buat nge-beat tapi yang ala-ala band gitu, ngerti kan? Banyakin drum sama bassnya," usul Saskia.
"Lo tau ini bakal dinyanyiin siapa? Kalau tahu penyanyinya kan lebih gampang. Tinggal cari tahu karakter suara dia cocoknya dikasi vibes yang mana. Liriknya kalo terlalu sendu ya ganti-ganti dikit."
Haikal seolah mendapat ide setelah mendengar ocehan Saskia. Mengapa tidak kepikiran untuk bertanya bagaimana karakter vokal penyanyinya. Aduh memang begitulah kalau otak sudah buntu.
"Thanks ya Sas. Gue dapat sedikit pencerahan," ucap Haikal.
"Sama-sama Kal. Gue kalau lagi buntu juga suka gitu kan, butuh pencerahan. Saling bantu kita," sahut Saskia.
"Eh, Sas. Lo sama Rony ada hubungan apa?"
Saskia mengernyitkan dahinya. Perasaan di Jogja kemarin Rony dengan gamblang mengatakan padanya soal hubungan mereka. Kenapa harus ditanyakan lagi?
"Lo pacaran sama dia?"
"Iya. Kenapa Kal?"
"Nggak. Gue heran aja. Kok lo masih mau nerima dia? Tiga tahun lalu kan main kabur gitu aja. Lo gak takut perasaan lo dimaian sama dia?"
"Kok lo ngomong gitu sih, Kal?" Saskia tidak terima dengan ucapan Haikal. Ia tahu Rony sangat menyayanginya.
"Dia pergi buat perempuan lain kan waktu itu? Bisa jadi dia kembali karena cari pelarian. Kan Hana udah nikah, jadi dia nyari lo lagi untuk pelariannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada
FanfictionKembalinya Rony setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar menciptakan kebingungan dalam hati Saskia Rony tiba-tiba menghubunginya lagi. Laki-laki itu juga kembali membuka kenangan yang susah payah Saskia kubur dalam hidupnya. Ketika Rony kembali, a...
