Bagian Dua Puluh Delapan

6.7K 371 10
                                        

Saskia mendudukkan dirinya pada sofa kecil di sudut kamarnya. Ia memeriksa notifikasi ponselnya. Menanti kabar dari seseorang yang sedaritadi belum juga mengabarinya hingga ia gemas sendiri. Saskia menarik nafas kemudian mengambil inisiatif untuk menghubungi orang tersebut lebih dahulu.

Saskia : Belum sampai apart?

Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasan dari pesan yang ia kirim.

Rony : Udah dari tadi. Ini juga udah kelar mandi.

Saskia : Kok gak ngabarin?

Rony : Kan lo lagi sama Zidan.
Rony : Nungguin banget kabar gue?

Saskia : Dih! Nggak ya

Rony : Boleh telpon nggak?

Saskia : Boleh

Sedetik kemudian ponsel Saskia berdering. Memperlihatkan gambar Rony di layarnya. Saskia menyentuh tombo merah di layar ponselnya. Menolak panggilan video tersebut.

Saskia : Jangan video call, gue gak pake hijab

Rony : Tinggal pakai apa susahnya.

Saskia : Males

Rony : Yaudah iya, jangan diriject lagi

Kemudian ponsel Saskia berdering lagi. Ia menarik nafas sejenak kemudian menjawab panggilan telepon tersebut.

"Zidan udah pulang?"

"Langsung nanyain Zidan. Ngefans lo?" Saskia terkekeh mengingat pertanyaannya.

"Najis!" seru Rony di seberang sana. Saskia kembali terbahak mendengarnya.

"Ngomongin apa dia harus berdua banget?"

"Kok lo kepo sih?"

"Kia, tolong lah gak tenang hidup gue ini."

"Lebay lo," seru Saskia. Ia terkekeh mendengar hembusan nafas berat milik Rony. "Tadi dia nembak gue," ucap Saskia.

"Ki? Lo serius? Terus lo gimana?"

Saskia kembali terkekeh mendengar kepanikan di suara Rony. Ternyata begini rasanya membuat laki-laki itu ketar-ketir.

"Gak gimana-gimana. Emang harusnya gimana?"

"Ck," Rony berdecak. Saskia membuatnya tidak tenang.

"Lo gak terima dia kan?"

"Kepo lo. Mending istirahat deh Ron. Udah malem, gue yakin lo juga kurang tidur dari semalem."

"Jawab dulu," seru Rony membuat Saskia gemas mendengar suara laki-laki itu yang terdengar sangat clingy di telinganya.

"Gue tolak."

"Anak pinter, anak cantik. Yaudah sekarang tidur ya, udah malem."

"Dih, apaan sih."

"Selamat istirahat Ki. Jangan lupa kabarin kalau lo udah mulai sayang gue," Rony mematikan sambungan teleponnya sebelum Saskia membuka suara. Gadis itu berdecak kemudian tersenyum simpul.

Terimakasih Rony, sepanjang hari ini kamu berhasil membuat Saskia bahagia.

****

Ketukan brutal pada pintu apartment-nya membuat Devan berdecak. Ia menyambar kaos yang tergeletak di sandaran kursi kamarnya kemudian melangkah sembari memakai kaos tersebut dengan emosi yang telah sampai ke ubun-ubun. Ia tahu siapa pelakunya.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang