Bagian Enam Puluh Tiga

6.6K 387 15
                                        

Saskia membuka matanya ketika sinar matahari menerobos masuk melalui celah di gorden kamarnya yang tertutup. Matanya mengerjap sejenak, kemudian meregangkan badannya sejenak. Ia melirik jam weker di atas nakasnya. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi.

Hari itu adalah jadwalnya fitting baju bersama Rony. Kala itu Gabriel yang terlanjur memiliki rispek yang tinggi pada Saskia menawarkan diri untuk merancang baju pengantin untuknya. Saskia tentu saja merasa beruntung. Seorang Gabriel, desainer terkenal yang biasa membuatkan baju untuk selebritis luar negeri, bersedia menawarkan diri untuk membuatkannya baju pengantin.

Saskia melangkah ke kamar mandi untuk bergegas. Satu jam lagi Rony pasti akan datang menjemputnya. Janji temu mereka dengan Gabriel pukul sembilan pagi, dan mereka sama sekali tidak ingin terlambat.

****

Rony tiba di rumah Saskia sesuai dengan perkiraan gadis itu. Ia datang membawa satu kantong plastik berisi tiga kotak bubur. Tadi ia belum sempat sarapan, jadi sengaja membeli bubur untuk mereka sarapan. Satu lagi Rony berikan pada Mbak Wiwit.

Saskia mengernyit melihat Rony melahap buburnya tanpa bersuara. Wajahnya tampak tegang, tidak santai seperti biasanya. Gadis itu terus mengamati sembari menunggu. Barangkali ada sesuatu yang ingin Rony ceritakan.

Namun Saskia sama sekali tidak mendengar cerita apapun dari Rony bahkan saat mereka berdua sudah duduk bersebelahan di dalam mobil yang Rony kendarai. Wajah Rony masih sama, sangat tegang. Membuat Saskia penasaran sendiri.

"Kamu gak mau cerita?" Saskia buka suara pada akhirnya. Menunggu bukan hal mudah bagi manusia sumbu pendek macam Saskia.

"Cerita apa?" Tanya Rony tanpa menoleh dari jalanan.

"Kamu ada masalah? Ada sesuatu yang kamu tutupin dari aku?"

"Nggak ada. Kenapa emang? Kok mikir gitu?"

Saskia melipat tangannya di depan dada. Kesal sekali karena ia tahu sesuatu sedang terjadi namun Rony tidak mau bercerita. Ia memilih diam, melempar pandangannya ke luar jendela. Menyaksikan jalanan yang bergerak. Mulutnya tertutup rapat namun kepalanya riuh.

"Butiknya Gabriel di sebelah mana?" Tanya Rony ketika ia telah memasuki kawasan Jakarta Barat.

"Di Cengkareng," sahut Saskia seadanya.

"Sayang, tunjukin jalannya dong, jangan diem aja nanti kita nyasar. Aku gak tahu tempatnya," pinta Rony membuat Saskia mendengus.

Saskia membuka menyentuh layar touchscreen pada head unit mobil tersebut. Membuka vitur navigasi GPS, dan menunjukkannya pada Rony.

"Ikutin aja itu," sahut Saskia seadanya.

Rony berhasil membuat moodnya berantakan pagi itu. Kalau sudah begitu Saskia enggan berbicara. Ia lebih memilih diam daripada harus menanggapi orang-orang disekitarnya.

"Kenapa sih, sayang? Kok malah marah?" Rony menyadari perubahan mood Saskia.

Gadis itu bergeming. Ia tidak menanggapi sama sekali pertanyaan Rony, membuat lelaki itu pun mendengus.

****

Seorang staff perempuan menyapa mereka dengan ramah ketika keduanya tiba di butik milik desainer ternama itu. Mereka dipersilahkan duduk di ruang tunggu butik itu. Ruangannya nyaman, terdapat beberapa sofa di dalamnya. Kemudian staff itu kembali membawa welcome drink dan beberapa makanan ringan.

"Kak, ditunggu sebentar ya, mas Gabriel sebentar lagi sampai," ucap staff tersebut ramah yang dibalas dengan senyuman oleh Saskia dan Rony.

Saskia membuka lembar demi lembar katalog yang tergeletak di atas meja berisi gambar pakaian hasil rancangan Gabriel. Sementara Rony asyik sendiri dengan ponselnya. Tidak ada obrolan apapun antara mereka. Nampaknya Saskia masih kesal, dan Rony membiarkan gadis itu diam sampai moodnya membaik.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang