Bagian Tiga Puluh Lima

6.1K 357 17
                                        

Rony menyandarkan tubuhnya di sofa coklat milik Saskia, memandangi layar tv yang gelap di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya berisik. Hatinya benar-benar ngilu. Usahanya berhari-hari membujuk Saskia tidak menghasilkan apapun. Gadis itu tetap bergeming. Justru Devan yang dapat menenangkannya. Rony jadi merasa ragu pada dirinya sendiri, apakah ia pantas untuk Saskia?

Kepergiannya tiga tahun lalu tentu menorehkan luka di hati Saskia. Apalagi setelah mengetahui fakta bahwa gadis itu juga menaruh hati padanya. Rony pasti telah menyakiti Saskia. Ia ingin menebus kesalahannya, namun hari ini ia merasa tertampar. Saskia tidak terlalu membutuhkannya. Ada Devan yang selalu menemaninya, yang mungkin laki-laki itu memahami Saskia lebih darinya. Rony kembali merutuki dirinya, andai dulu ia tidak pernah meninggalkan Saskia.

"Mas, makannanya udah siap," suara Mbak Wiwit menginterupsi lamunannya.

Rony menoleh sembari melempar senyuman. "Tolong bawain ke kamar Saskia, ya Mbak. Pastiin dia makan juga. Aku pamit mau pulang dulu," ucapnya.

Rony meninggalkan rumah Saskia dengan rasa nyeri luar biasa di dadanya. Ia ingin bersama gadis itu, menemaninya melewati apapun yang terjadi, namun pikirannya berkata Saskia tidak terlalu membutuhkan kehadirannya. Rony memutuskan menepi sejenak, ia tidak akan meninggalkan Saskia, hanya saja ia perlu berdamai dengan isi kepalanya yang riuh.

****

Nampan berisi satu piring nasi lengkap dengan lauk pauknya, juga satu mangkok sayur bening dan segelas air mendarat di nakas Saskia. Mbak Wiwit baru saja mengantarkannya dan Devan meminta wanita itu meletakkan di sana.

"Makan dulu!" seru Devan pada Saskia yang masih menyandarkan kepalanya di dada Devan.

Saskia mengangguk. Menyentuh makanannya ogah-ogahan. Sebenarnya ia kehilangan selera makan. Namun, ia takut pada tatapan menikam Devan. Ngeri kalau laki-laki itu sampai marah.

"Rony kemana?" tanya Saskia yang menyadari laki-laki itu tidak kunjung kembali.

"Makan dulu, Ki. Habisin!"

"Ya Van."

Saskia melahap makanannya, perlahan. Memaksa suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Matanya menatap kosong ke depan, pikirannya masih riuh. Haruskan ia menceritakan video itu pada Devan? Apa nanti tanggapan lelaki itu? Apakah Devan masih akan menganggapnya sahabat jika tahu fakta bahwa tubuhnya telah dilihat orang asing? Saskia kembali merasa dirinya tidak lagi berharga.

"Ada apa sih sebenernya? Lo tetep gak akan mau cerita?" tanya Devan setelah Saskia menghabiskan makanannya.

"Gue butuh waktu, Van."

"Oke gue paham. Tapi lo jangan kaya gini lagi. Gue kasihan sama lo. Sama Rony juga. Kalut banget dia hadapin lo yang kaya gini."

Devan melipat satu kakinya, meletakkan di atas kaki yang satunya, tubuhnya bersandar di sandaran sofa. Satu tangan memijat pelipisnya.

"Gue mau shooting ke Jerman dua minggu lagi, tapi gak akan tenang ninggalin lo dengan kondisi kaya gini. Gue bisa percaya Rony nggak?"

"Berapa lama di sana?"

"Nggak tahu, sampai filmnya kelar. Targetnya sih tiga minggu, tapi kemungkinan bisa lebih atau kurang, tergantung situasi."

Saskia menghembuskan nafas berat.

"Rony kelihatan sayang banget sama lo, Ki. Tadi dia ke apart gue, mukanya kusut banget. Dia bilang lo gak bisa ditemuin semenjak pulang dari Makasar. Dia takut sesuatu terjadi sama lo dan dia bingung karena gak bisa berbuat apa-apa. Dia bilang lo sama sekali gak mau keluar kamar, gak mau nyentuh makanan lo, dia khawatir banget, takut lo kenapa-napa."

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang