Bagian Tiga Puluh Dua

6.1K 341 6
                                        

Ruang meeting kantor milik Fitri itu terasa mencekam bagi Saskia. Tubuhnya seketika menggigil, suhu ruangan terasa sangat menurun. Dalam ruangan itu mereka sedang membahas mengenai kasus baju yang tempo hari ia pakai. Desainer yang merasa rancangannya dicuri itu datang menemuni Saskia dan tim wardrobe-nya. Meminta penjelasan mengapa hal itu bisa terjadi.

"Saskia, kamu sebagai penyanyi dan pencipta lagu bagaimana perasaanmu jika lagu kamu yang belum rilis ternyata sudah dinyanyikan penyanyi lain? Saya rasa kamu akan merasakan hal yang sama," ucap Gabriel, desainer itu.

"Saya juga pasti akan kaget mas," sahut Saskia.

"Gak cuma kaget Saskia. Saya mengusahakan baju itu untuk sebuah show besar bulan depan. Saya cuma ingin kamu jelasin kenapa baju rancangan saya bisa kamu pakai?"

"Kita lagi nyelidikin itu Gab," ucap Candra. Ia tidak ingin Gabriel terlalu menekan Saskia.

"Aku cuma mau tahu siapa yang nyuri desainku Can. Aku percaya kamu sama timmu gak mungkin lakuin itu."

Saskia menarik nafas lega. Untung saja managernya adalah Candra. Orang yang dikenal sangat disiplin dan bisa dipercaya. Relasinya juga luas dan memiliki sebutan sebagai manager artis terbaik.

"Mas Gabriel, maaf aku sela dikit. Sebenarnya harusnya Saskia pakai baju rancangan dari Aries hari itu. Mas kenal Aries Darmawan?" ucap Firti. Gadis itu membuka ponselnya. Memperlihatkan percakapannya dengan desainer yang tadi disebutnya.

"Itu foto baju yang seharusnya Saskia pakai malam itu Mas. Kami lagi cari tahu kenapa bisa berubah. Karena saya yakin baju itu yang saya kasih ke asisten Saskia. Sekarang baju itu juga gak ada di sini," sambung Fitri.

"Gab, timku boleh cek cctv kantormu?" tanya Candra sedikit berhati-hati agar desainer itu tidak tersinggung.

"Buat apa, Can?"

"Buat nyari bukti aja. Semua rancanganmu ada di sana kan? Siapa tahu ada penyusup. Biar kita sama-sama enak juga. Timku masih nyelidikin kasus ini juga kok Gab. Kita mau semua clear dan pelakunya ketahuan."

"Oke. Habis ini kita ke kantorku aja Can. Sebenarnya aku gak masalahin banget Saskia pakai bajuku. Toh apapun yang dipakai Saskia selalu diburu orang, yang jadi masalah itu aku merasa rancanganku dicuri."

"Saya minta maaf mas. Seharusnya saya lebih teliti untuk semua yang saya pakai. Sekali lagi maaf ya Mas Gab," ucap Saskia.

"It's okay Saskia. Lain kali kamu sebagai publik figur harus bisa lebih hati-hati. Kesalahan sekecil apapun yang kamu buat bisa jadi masalah besar. Kamu bukan sebulan dua bulan di industri ini, harusnya kamu sudah paham."

Saskia mengangguk mengerti. Dalam hatinya ia berterimakasih karena masalah yang sedang ia hadapi dapat membuka matanya untuk lebih berhati-hati. Ia harus memastikan segala hal yang ia lakukan tepat. Untung saja Gabriel memiliki hati yang baik, jika berhadapan dengan desainer lain, pasti ia sudah berada dalam masalah besar.

****

Pertemuan dengan Gabriel pagi tadi cukup membuat Saskia merasa lebih lega. Setidaknya ia tahu desainer itu tidak sepenuhnya menyalahkan dirinya. Gadis itu hanya bisa berharap bahwa pelakunya segera diketahui dan kasus itu berakhir.

Saskia berjongkok di pinggir kolam ikan dekat gazebo rumahnya. Menaburkan makanan ikan ke dalam kolam sembari menatap ikan-ikan itu menyantap makanannya dengan tatapan kosong. Pikirannya masih saja berisik. Belakangan ini terlalu banyak hal yang terjadi. Belum selesai satu masalah, timbul lagi masalah yang lainnya.

"Kia."

Saskia memalingkan wajahnya ke sumber suara kemudian tersenyum lebar ketika melihat siapa orang yang berdiri di belakangnya.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang