Saskia meraih kunci mobil dan totebagnya setelah segelas smoothie pisang dan buah naga yang tadi dibuatkan Mbak Wiwit tandas. Kepalanya terasa pusing namun Saskia harus pergi untuk photoshoot. Ternyata menjadi seorang brand ambassador membuat kesibukannya bertambah berkali-kali lipat. Namun Saskia bahagia menjalaninya. Itu adalah pengalaman pertama yang cukup menyenangkan.
"SASKIA!" Saskia mendengus mendengar teriakan seseorang yang memasuki rumahnya padahal ia hendak pergi. Saskia hafal siapa pemilik suara itu.
"Ngapain lo kesini pagi-pagi? Gue mau pergi ini," tanya Saskia ketus saat Devan masuk rumahnya kemudian berlalu ke dapur untuk mengambil air minum.
"Muka lo pucet banget? Sakit?" Devan berkomentar tanpa menjawab pertanyaan Saskia.
"Pusing dikit. Paling siangan juga mendingan. Lo masih mau di sini atau balik? Gue mau kerja ini."
"Yaudah. Kerja ya kerja aja. Gue bisa pulang kapan pun gue mau. Gue bawa oleh-oleh dari Jerman," sahut Devan ringan sembari meletakkan barang bawaannya di dalam kulkas tanpa sempat dilihat oleh Saskia terlebih dahulu. Tidak menghargai tuan rumah memang, namun itulah Devan. Suka seenaknya sendiri di rumah Saskia.
"Terserah lo deh." Saskia berlalu. Namun baru beberapa langkah keluar rumah, jeritan Mbak Wiwit memanggil nama Saskia terdengar oleh Devan.
Devan berlari ke luar rumah. Melihat Saskia yang sudah tergeletak di lantai.
"Kia, woy! Kok malah pingsan?" Devan menepuk pipi Saskia. Lelaki itu merasakan panas tubuh sahabatnya. Kemudian tanpa berpikir panjang ia membawa gadis itu ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit.
Di dalam mobil, Mbak Wiwit menempelkan minyak angin ke hidung Saskia, berharap gadis itu segera bangun setelah menghirup aromanya. Namun Saskia tidak kunjung membuka mata. Membuat Devan menginjak gasnya lebih dalam.
****
Saskia membuka matanya dan keheranan melihat dinding putih di sekitarnya. Ia meringis saat merasakan jarum infus menusuk punggung tangan kirinya. Ia edarkan pandangan, kemudian melihat Devan duduk di sofa dekat bangsalnya sedang memainkan ponsel.
"Van, gue kenapa?" tanya Saskia membuat Devan bangkit dan mendekat.
"Harusnya gue yang tanya. Lo kenapa?"
"Perasaan tadi cuma pusing. Kok bisa nyampe sini?"
"Lo pingsan, bego. Kata dokter lo kecapean, demam lo juga tinggi. Kita masih nunggu hasil lab, semoga aja gak ada penyakit serius," sahut Devan. Biar bagaimana pun lelaki itu tetap khawatir karena Saskia sudah seperti saudaranya sendiri.
"Thanks ya Van," ucap Saskia.
"Gue udah hubungin Rony. Paling bentar lagi dia kesini," ucap Devan sembari kembali ke tempat duduknya.
Dalam hatinya Saskia berharap ucapan Devan itu benar. Rony akan segera datang untuk menemuinya. Kesibukan mereka masih menjadi penghalang pertemuan keduanya. Rony masih susah ditemui. Jadwal off air dan persiapan albumnya masih padat.
"Lo gak ada kegiatan, Van?"
"Gak, Ki. Gue masih libur. Baru juga balik dari Jerman, masa udah kerja lagi," sahut Devan sembari memainkan ponselnya.
"Gue temenin lo di sini sampai Rony dateng. Tenang aja."
Saskia mendengus. Apakah Rony akan datang? Meskipun berharap Rony datang, namun ia sendiri meragu.
Hari itu waktu terasa berjalan sangat lambat untuk Saskia yang sedang menanti kedatangan seseorang. Hari telah berganti malam. Devan baru saja pamit untuk meninggalkannya sebentar karena merasa lapar. Kini Saskia sendiri, masih menanti kehadiran Rony yang entah bisa menemuinya atau tidak. Lelaki itu bahkan tidak menghubunginya. Saskia tahu kegiatan Rony hari itu adalah menggarap music video untuk salah satu lagu di albumnya. Semestinya dia memiliki waktu untuk menghubungi Saskia saat tidak take, namun notifikasi yang Saskia tunggu tida kunjung ia dapatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Masih Ada
FanfictionKembalinya Rony setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar menciptakan kebingungan dalam hati Saskia Rony tiba-tiba menghubunginya lagi. Laki-laki itu juga kembali membuka kenangan yang susah payah Saskia kubur dalam hidupnya. Ketika Rony kembali, a...
