Bagian Empat Puluh Dua

6.7K 379 7
                                        

Rony tiba di Jakarta dengan perasaan antusias. Tidak pernah sebelumnya ia merasa seantusias ini ketika kembali dari luar kota. Perasaan menggebu bercampur rindu. Dari bandara ia segera ke rumah orang tuanya. Tidak mau singgah kemana pun padahal Rey sibuk mengomel karena mereka belum sempat sarapan dan itu sudah lewat tengah hari. Namun Rony menghiraukan kakaknya. Rasa rindunya lebih besar ketimbang rasa laparnya.

"Lo gak kangen sama Kak Sita?" tanya Rony ketika Rey terus mengomel menyuruh sang driver berhenti untuk mencari makan namun Rony menolaknya.

"Gue tahu ini kemana arah pikiran lo. Dasar bucin," gerutu Rey yang dibalas cengiran Rony.

"Durhaka lo jadi adik. Abang lo kelaperan yang di otak lo cuma Saskia."

Rony tidak menjawab. Ia hanya memamerkan deretan gigi rapinya yang membuat Rey geleng-geleng.

"Jakarta hari ini cerah ya bang, kaya hati gue," ucap Rony sembari melihat keluar jendela.

Rey berdecak kemudian memukul kepala adiknya. "Bocah gendeng," serunya.

****

Rony menghampiri mamanya, mencium kening wanita itu kemudian memeluknya singkat. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru rumah, tidak ada satu orang pun selain mamanya yang tertangkap netranya.

"Papa mana ma?" tanya Rony.

"Ada di kamar, lagi siap-siap mau ke toko," sahut mamanya.

"Makin banyak kayanya tokonya papa sekarang," komentar Rony.

Keluarga Rony memang pembisnis sejak awal. Dulu ketika Rony kecil papanya hanya memiliki satu toko tekstil di kawasan Jakarta Utara. Dan seiring waktu berlalu, usaha papanya makin berkembang. Tidak hanya tekstil, kini papanya memiliki beraneka ragam toko, mulai dari menjual sembako, sampai bahan bangunan pun ada. Rony sendiri tidak tahu pasti berapa toko yang papanya miliki sekarang. Usaha orang tuanya itu telah menyebar ke seluruh Jakarta.

"Bang Rey gak ikut pulang bareng kamu, Ny?" tanya mamanya ketika melihat hanya Rony yang menyapanya.

"Kangen kak Sita katanya ma," sahut Rony.

"Bohong ma. Aku gak dikasi makan sama ni bocah. Dia sebenarnya yang kangen Saskia," sahut Rey yang tiba-tiba datang dari depan rumah, membawa barang-barang milik Rony yang tadi masih tertinggal di luar rumah.

"Kalian belum makan?"

"Dari pagi ma. Marahin ini si Rony ma. Lain kali gak mau gue nemenin lo ya," Rey makin menggerutu.

"Maaf bang," sahut Rony kembali memamerkan gigi rapinya.

"Kalau gitu makan dulu kalian, mama siapin dulu."

"Gapapa ma, aku langsung pulang aja. Udah dimasakin Sita. Maaf ya ma," ucap Rey kemudian mencium kening mamanya.

"Tuh kan ma, bener apa yang aku bilang. Bang Rey kangen sama Kak Sita."

Mamanya hanya bisa tertawa, melihat kedua anaknya itu. Meski terlihat jarang akur, namun ia tahu kedua anak laki-lakinya itu saling menyayangi. Terbukti ketika Rony jauh, Rey adalah orang yang tiap hari menelpon hanya untuk mengetahui kabar adiknya. Rony pun sama, ketika kembali, orang pertama yang ia cari adalah Rey, katanya rindu berantem sama abang, padahal aslinya bukan berantemnya yang dia rindukan.

"Saskia mana ma?" tanya Rony ketika tidak menemukan sosok gadis itu di rumahnya.

"Lagi jalan sama Vina. Adikmu itu senang sekali ada Saskia di rumah, berasa punya kakak perempuan katanya."

Rony tersenyum mendengarnya. "Mama seneng nggak ada Saskia di rumah?"

"Seneng dong. Rumah jadi makin rame, dia juga anaknya asik gak jaim," sahut mama Rony.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang