Bagian Lima Puluh Satu

6.7K 396 4
                                        

Rony menghampiri Saskia yang duduk sendirian di restoran milik hotel tempat mereka menginap. Hari itu Saskia bangun kesiangan karena semalam tidak bisa tidur dengan baik. Matanya baru terpejam setelah pukul tiga pagi, itu pun beberapa kali terbangun lagi. Kejadian yang menimpanya tempo hari membuat gadis itu tidak bisa tidur dengan tenang di tempat baru.

"Baru bangun ya?" Tanya Rony sembari mengambil tempat duduk di kursi kayu sebelah Saskia.

Saskia mengalihkan pandangannya dari pemandangan utara kota Yogyakarta menuju kekasihnya, kemudian tersenyum memamerkan gigi rapinya.

"Aku susah tidur tahu, jam tiga lebih baru bisa tidur itu pun gak nyenyak," keluh Saskia.

"Karena kamera itu ya sayang?" Entah mengapa hati Rony menjadi ngilu mendengar keluhan Saskia. Gadis itu pasti kesulitan. Ia tidak tega.

"Mungkin ya, tapi gak tahu juga. Bisa jadi karena aku gak terbiasa tidur di tempat baru. Kamu udah sarapan?" Saskia mengalihkan pembicaraan, ia tahu Rony sedang khawatir padanya. Hm, isi kepala Rony memang terlalu mudah ditebak oleh Saskia.

"Ini namanya bukan sarapan, sayang. Brunch kalo ini mah," ucap Rony menyebut kata singkatan dari breakfast dan lunch karena memang benar terlalu terlambat untuk disebut sarapan di jam setengah sebelas siang.

Saskia kembali menyengir kemudian menikmati almond croissant dan ice latte yang tadi dipesannya.

Berbanding terbalik dengan Saskia yang kesiangan, Rony bangun pagi-pagi sekali. Bahkan ia sempat bertemu dengan tim Saskia yang telah meninggalkan hotel karena mengejar pesawat pagi. Hanya Saskia yang tertinggal karena ia ingin memiliki satu hari tambahan di Jogja untuk liburan bersama Rony.

"Kamu kok rajin banget?" Tanya Saskia ketika ia mengingat jam berapa Rony mengirim ucapan selamat pagi untuknya. Saskia bahkan baru tidur dua jam kala itu.

"Aku over excited mau jalan-jalan sama kamu. Jadinya bangun kepagian. Mau tidur lagi gak bisa," aku Rony. Saskia terkekeh mendengarnya.

"Mau kemana kita?"

"Aku nurut aja sama tour guide-nya."

Saskia menggulir ponselnya. Mencari inspirasi kemana mereka akan pergi hari itu. Wisata alam adalah hal pertama yang terlintas di benaknya. Rony pasti suka karena dia pernah bilang merindukan kawasan hijau di Jakarta. Namun Saskia bingung, wisata alam apa yang bagus, sudah hampir lima tahun meninggalkan Jogja membuatnya kesulitan.

"Ron, kita ke Kulon Progo aja yuk. Mau nggak?" Saskia memberi usul. "Sekitar lima puluh menit dari sini. Kamu udah nyewa motor kan?"

"Udah dong sayang, motornya udah dibawain kesini juga. Kamu sih kesiangan."

****

Mereka berangkat pukul sebelas siang menggunakan motor yang tadi pagi Rony sewa lewat bantuan resepsionis hotel. Jogja hari itu sangat cerah dan cukup panas. Saskia berkali-kali menarik nafas dan mengusap keningnya yang berkeringat, sembari mengeluh kepanasan. Membuat Rony merasa bersalah mengajaknya naik motor.

"Sayang maaf ya, harusnya kita sewa mobil tadi," ucap Rony di atas motor.

"Gapapa sayang, kan aku yang minta. Lagian lebih seru motoran."

Namun Rony tetap merasa bersalah. Seharusnya ia tidak menuruti begitu saja keinginan Saskia untuk pergi dengan motor di tengah cuaca yang panas.

Mereka berdecak kagum ketika melewati jalanan yang lumaian sepi dengan hamparan persawahan di kanan dan kirinya. Waktu yang tepat karena padi-padi masih muda, hamparan hijaunya menyejukkan mata. Di kehauhan terpampang jelas deretan perbukitan. Rony memelankan laju kendaraannya, menikmati keindahan alam yang selalu ia rindukan. Saskia pun sama, ia berkali-kali mengucap syukur dalam hatinya, berterimakasih pada Sang Pencipta karena telah menciptakan keindahan itu.

Masih AdaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang