36. Perang Dingin

2.7K 160 15
                                        

❤‍🔥❤‍🔥

Akibat pertengkaran kemarin lusa, sedikit merubah sikap Mala pada Rakha. Mala terlihat seperti cuek, dan menjaga jarak dari Rakha. Dirinya ingin mengetahui apakah Rakha nantinya akan mengetahui perubahan sikap Mala atau tidak. Terlebih kemarin, Mala mencari jawaban dari Google mengenai cowok yang tidak suka dengan kita dan sikap itu spesifik dengan sikap Rakha selama ini.

Kali ini, Mala berangkat ke sekolah sendiri menggunakan motornya tanpa di jemput oleh Rakha. Mencoba untuk terlihat biasa saja, Mala mengendarai motornya melintasi jalanan yang lumayan padat pada hari Kamis ini. Banyak orang-orang yang berangkat kerja dan sekolah pada pagi ini, memulai aktivitas mereka masing-masing. Lima belas menit, Mala pun sampai di sekolah motor Rakha menyalip nya saat mulai memasuki area sekolah. Mala menurunkan gasnya. Kali ini Mala memilih untuk memarkirkan motornya di samping tiang tak di samping motor Rakha seperti biasanya. Dia berharap cowok itu peka dengan perubahan sikapnya.

Rakha berjalan begitu saja tak mengetahui keberadaan Mala disana, hati Mala seperti terkirim pisau. Mala terlihat kesal, namun tidak boleh ada yang mengetahui nya. Mala berjalan menyusuri koridor menuju kelas XI-IPA 5 yang berada di pojok. Saat sampai di depan kelas karena otaknya masih memikirkan Rakha hingga tak sadar keningnya terbentur sesuatu yang keras.

"Aw"

"Makanya kalo jalan hati-hati, lo nggak liat ada orang? Untung lo nabrak nya orang bukan tembok, kalo tembok udah memar tuh kening lo" Ucap cowok yang berdiri di hadapan Mala.

"Junior? Udah, lo minggir! Ngalangin orang jalan aja tau nggak" Ucap Mala menyingkirkan tubuh Junior dari hadapannya.

"Pagi-pagi udah marah-marah aja lo, kenapa?" Tanya Junior mengikuti langkah kaki Mala yang berjalan kearah kursi nya. Mala meletakkan tasnya di atas meja, lalu Junior duduk diatas mejanya.

"Lo kenapa sih pagi-pagi udah ketekuk aja tuh muka. Yah, la. Memar la" Ucap Junior memegang kening Mala yang bentol akibat menabrak dada bidangnya.

"Ih, gara-gara lo tau nggak!" Ucap Mala memukul lengan Junior.

"Aduh, santai dong. Oh iya, gue punya sesuatu buat lo. Tunggu sini" Ucap Junior lalu berjalan kearah kursi nya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mata Mala mengikuti langkah Junior.

"Apaan?" Tanya Mala.

"Nih, buat lo. Coklat. Biar emosi lo reda. Kata orang, kalo makan coklat bisa bikin mood jadi baik" Ucap Junior.

"Makasih ya, lo tau aja" Jawab Mala mengambil coklat dari tangan Junior dan membukanya.

"Gimana? Mood lo jadi good kan?" Tanya Junior.

Mala tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang kini dilapisi coklat. Junior terkekeh pelan.

"Kenapa lo ketawa?" Tanya Mala memukul paha Junior.

"Makannya pelan-pelan. Nggak-nggak gue ambil, tuh gigi lo ada coklatnya. Udah gue mau ke kantin, lo baik-baik disini" Ucap Junior meninggalkan Mala di kelas.

"Ye, rese' lo" Teriak Mala membuat beberapa siswa menatap kearahnya, karena malu Mala hanya bisa tersenyum. Tak lama kemudian, Angel pun datang dan Mala menyambutnya dengan senyuman yang hangat.

"Ngel, PR lo udah lo kerjain belum?" Tanya Mala pada Angel yang tengah meletakkan tasnya diatas meja. Tak ada jawaban, Angel sama sekali tidak menatap kearah Mala. Apa ini? Dia juga mendiamkan Mala? Perang Dingin antara dirinya dan Violita belum berakhir sekarang ditambah, Angel? Yang benar saja?

Mala tak menghiraukan mereka, bel masuk pun berbunyi. Tak lama kemudian, guru pelajaran bahasa Indonesia masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran.

Kali ini, Mala memilih untuk ke kantin seorang diri. Dirinya tidak menemukan keberadaan Angel dan Violita, dirinya tak menghiraukan itu semua. Menyantap semangkok bakso dan segelas jus oranges membuat Mala benar-benar kenyang hari ini.

"Mal? Sendirian aja? Bestie lo pada kemana?" Tanya Afan yang berjalan kearahnya.

Maka menaikkan bahunya tak acuh, sambil melanjutkan makannya.

"Kalian marahan? Mending temenan sama cewek gue, tuh disana kasian dia juga sendirian. Oh ya, gue liat-liat lo nggak bareng Rakha? Tumben?" Tanya Afan membuat Mala menghentikan aktivitas nya.

"Bisa nggak lo, gue lagi makan ngga usah nanya-nanya. Udah kaya wartawan nggak dibayar aja lo" Ucap Mala kesal.

"Ye, sensi amat bu. Gue nanyanya baik-baik lagian, kenapa lo? Marahan sama Rakha?" Tanya Afan lagi.

"Lo tanya aja tuh sama temen lo, ceweknya lagi sakit dia nggak jengukin apa kek, kasih hadiah kek. Dasar cowok kulkas sepuluh pintu!" Ucap Mala melahap baksonya.

"Weh, pelan-pelan neng. Keselek ntar, masuk rumah sakit, gue lagi yang disalahin. Ya ntar gue bilangin deh ke Rakha. Lagian, salah sendiri lo pacaran sama kulkas. Mending sama gue, babang tamvan Afan ini" Ucap Afan membenarkan kerah bajunya.

"Muntaber yang ada kalo gue pacaran sama lo, dasar playboy cap kapak! Udah-udah minggir! Ganggu orang lagi makan aja"

Basmalah NigistaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang