45

624 35 1
                                        

  ***

   Sosok tinggi itu berbalik dan tersenyum seraya datang menghampirinya untuk membantunya membawakan ranselnya.

Na Jaemin melambaikan tangannya, "Tidak, isinya hanya beberapa buku, aku bisa membawanya sendiri."

Bagaimana bisa Na Jaemin diizinkan melakukan tindakan melelahkan seperti menggendong ransel? Bagaimana jika ransel itu menyakiti punggung Na Jaemin?, Lee Jeno tidak memberi Na Jaemin kesempatan untuk menolak dan dia langsung mengambil ransel Na  Jaemin begitu saja.

Lee Jeno meletakkan ransel itu pundaknya sendiri, "Tidak apa-apa, apakah keluarga itu menggertakmu saat kamu berbicara baik-baik?"

Na Jaemin, yang baru saja memukuli muridnya. Menggelengkan kepala dan ia mencoba meraih tasnya seraya berkata, "Tidak ada masalah yg tidak dapat diselesaikan dengan bicara baik-baik."

“Itu bagus.” Lee Jeno yg tadi membawa tas itu di pundak kini beralih di depan dan memeluk tas itu, merubah suaranya, dan berkata, "Mengapa kamu menarik-narik ku di jalan? Aku tidak bersalah. Jika kamu terus melakukan ini, aku akan menelepon polisi." Bahkan ekspresinya sangat salah.

Na Jaemin, "..."

Na Jaemin menghentikan gerakannya tanpa ekspresi, "Selama empat tahun, aku tidak tahu bahwa Saudara Lee adalah seorang gadis. Ini benar-benar mendadak."

Na Jaemin berhenti mengejar, dan Lee Jeno otomatis meluncur dan menabrak bahunya main-main, "Kamu harus bertanggung jawab atas tindakanmu selama bertahun-tahun itu, jika kamu lelaki jangan menjadi bajingan dan melarikan diri."

Na Jaemin memandang Lee Jeno dari atas ke bawah, "Lalu bagaimana aku bisa bertanggung jawab? Gadis Lee lebih besar dariku, jadi aku harus menjadi bajingan."

Lee Jeno tertawa beberapa kali dia menyentuh bahu Na Jaemin. Angin malam terasa sejuk suasana juga bagus, tanpa sadar dia ingin memegang tangan Na Jaemin dan tiba-tiba teringat bahwa sahabatnya tidak ingin dipegang olehnya.

Tangan Lee Jeno membeku di udara selama beberapa detik, lalu beralih untuk melingkarkan lengannya di bahu Na Jaemin. Ini adalah tindakan umum diantara teman hingga tidak ada orang yg terkejut begitu melewati mereka.

Lee Jeno menekan rasa kesal karena tidak bisa melihat Na Jaemin hampir sepanjang hari dan ketidak bahagia an karena tidak bisa memegang tangan Na Jaemin, jadi dia menghibur dirinya sendiri, lumayan bisa menjemput Na Jaemin pulang kerja.

Ini adalah hak istimewanya, hanya dia yang bisa datang menjemput Na Jaemin.

Memikirkan hal ini, Lee Jeno melingkarkan lengannya di bahu Na Jaemin dan merendahkan suaranya, "Aku akan datang menjemputmu setiap saat di masa depan, kamu tidak boleh membiarkan orang lain menjemputmu, mengerti?"

Na Jaemin menunduk, kunci dingin itu masih ada di sakunya. Ini adalah kesempatannya untuk menjauh dari Lee Jeno.

Kedatangan taksi membuyarkan pembicaraan, Lee Jeno memasukkan Na Jaemin ke dalam mobil dan lupa menanyakan jawaban Na Jaemin.

...

   Kebersamaan yg menyenangkan itu begitu singkat dan waktunya kelas lagi.

Lee Jeno memulai siksaan kelasnya sendirian lagi, mendengarkan kelas sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan Na Jaemin lagi. Untungnya, otaknya cukup pintar untuk tidak menunda kemajuan belajar.

Dia diam-diam mengirimi Na Jaemin pesan selama jam pelajaran, tapi tentu saja dia tidak mendapat balasan. Lee Jeno tahu ini normal, tapi dia tidak bisa menahan amarahnya.

Mulailah lagi, hidup seperti itu.

Dari Senin hingga Jumat, kelas sangat penuh, dan hanya pada siang hari dia bisa mengobrol tatap muka dengan Na Jaemin, itu pun sebentar saja dan Di malam hari masih ada kelas tambahan sesekali.

(Not) JUST FRIENDS [NoMin]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang